REKSADANA
 

Reksadana Indeks: Pengertian, Karakteristik, Perbedaan dengan Reksadana Saham, dan Contoh Produknya

by Rifda Arum - 19 Jun 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Reksadana semakin populer di Indonesia karena dinilai praktis dan mudah diakses oleh investor pemula maupun berpengalaman. Melansir dari Bareksa, reksadana indeks justru menjadi jenis reksadana dengan dana kelolaan terbesar per September 2025 silam. 

Memangnya, apa itu reksadana indeks? Apakah reksadana indeks berbeda dengan reksadana saham? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu Reksadana Indeks?

Pada konteks investasi, indeks adalah ukuran statistik yang mencerminkan keseluruhan pergerakan harga atas sekumpulan saham yang dipilih berdasarkan kriteria dan metodologi tertentu. Jika demikian, maka reksadana indeks adalah jenis reksadana yang dikelola dengan tujuan mengikuti kinerja suatu indeks tertentu. 

Artinya, manajer investasi tidak secara aktif memilih saham berdasarkan analisis pribadi untuk mengalahkan pasar, melainkan menyusun portofolio agar pergerakannya mendekati indeks acuan.

Syarat suatu reksadana disebut sebagai reksadana indeks adalah harus menginvestasikan dananya minimal 80% dari keseluruhan saham pada suatu efek yang terdaftar pada indeks tersebut. Biasanya indeks yang digunakan adalah IHSG, LQ-45, IDX30, Kompas100, dan lainnya. 

Contohnya, apabila sebuah reksadana indeks menggunakan IDX30 sebagai acuan, maka mayoritas dana akan ditempatkan pada saham-saham yang tergabung dalam indeks IDX30 dengan komposisi yang mirip.

Berhubung reksadana jenis mengikuti indeks, maka kinerjanya akan bergerak sejalan dengan kondisi pasar yang menjadi acuannya. Jika indeks naik, maka nilai investasi berpotensi naik. Sebaliknya, jika indeks turun, nilai investasi juga dapat ikut turun.

Reksadana indeks berbeda dengan reksadana saham. Pada reksadana indeks justru tidak melakukan jual beli melalui agen penjual, melainkan bursa saham. Jadi, pihak manajer investasi akan membeli dan menjual saham berdasarkan perkembangan harga saham di bursa. 

Baca Juga: Indeks Saham - Definisi, Manfaat, Jenis, dan Daftarnya

Karakteristik Reksadana Indeks

Reksadana indeks memiliki sejumlah karakteristik khusus yang membedakannya dari jenis reksadana lain, yakni:

1. Memiliki Indeks Acuan yang Jelas

Karakteristik utama dari reksadana indeks adalah adanya benchmark atau indeks sebagai acuan dasar pengelolaan portofolio. Artinya, manajer investasi tidak bebas memilih saham sesuka hati, melainkan harus mengikuti susunan saham dalam indeks tertentu.

Beberapa indeks yang umum digunakan di Indonesia antara lain:

Setiap indeks tersebut memiliki metodologi berbeda sehingga karakteristik reksadana indeks juga akan berbeda-beda bergantung indeks acuannya. Misalnya reksadana indeks menggunakan IDX30 sebagai acuan, maka dana kelolaan akan ditempatkan pada saham-saham big caps. 

Lalu jika reksadana indeks menggunakan indeks Sri-Kehati, maka dana kelolaan cenderung akan ditempatkan pada emiten-emiten dengan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG). 

Ada juga reksadana indeks yang mengandalkan indeks syariah seperti JII sehingga dana kelolaan akan ditempatkan pada saham-saham syariah. 

2. Isi Portofolio Harus Mirip Indeks

Reksadana indeks tidak hanya “terinspirasi” dari suatu indeks saja, tetapi memang diwajibkan mereplikasi indeks acuannya. Hal ini telah diatur dalam POJK Nomor 48/POJK.04/2015 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Terproteksi, Reksa Dana dengan Penjaminan, dan Reksa Dana Indeks. 

Pada pasal 10 menyebutkan bahwa “Manajer Investasi yang bermaksud menerbitkan Reksa Dana Indeks wajib: a. memberikan keterangan tambahan dalam Prospektus mengenai ketentuan investasi sebagai berikut: 

  1. paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana tersebut wajib diinvestasikan pada Efek yang merupakan bagian dari kumpulan Efek yang ada dalam indeks tersebut; 
  2. investasi pada Efek yang ada dalam indeks sebagaimana dimaksud pada angka 1 wajib berjumlah paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari keseluruhan Efek yang ada dalam indeks tersebut; 
  3. pembobotan atas masing-masing Efek dalam Reksa Dana Indeks tersebut paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dan paling banyak 120% (seratus dua puluh persen) dari pembobotan atas masing-masing Efek dalam indeks yang menjadi acuan….”

Singkatnya, pihak manajer investasi yang hendak menerbitkan reksadana indeks harus mengalokasikan minimal 80% pada saham-saham yang ada di indeks. 

Jika melihat poin ketiga pada pasal tersebut, menyebutkan bahwa bobot masing-masing saham dalam reksadana indeks minimal 80% dan maksimal 120% dari bobot saham pada indeks acuannya.

Misalnya, pada indeks tersebut terdapat saham BBCA dengan bobot 15%. Maka, reksadana indeks yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan harus menempatkan dana kelolaan pada saham BBCA dengan angka yang tidak terlalu jauh dari 15%. 

3. Dikelola Secara Pasif 

Berbeda dengan reksadana saham, reksadana indeks menggunakan strategi passive investing. Manajer investasi tidak berusaha mencari saham yang bisa “mengalahkan pasar”, melainkan hanya berusaha mengikuti indeks seakurat mungkin.

Alhasil, aktivitas jual beli saham lebih sedikit dan analisis sahamnya tidak terlalu agresif. Portofolio akan berubah biasanya saat terjadi rebalancing indeks oleh pihak BEI. Strategi ini membuat biaya transaksi dan biaya pengelolaan relatif lebih rendah dibandingkan reksadana saham.

4. Rebalancing Portofolio Mengikuti Perubahan Indeks

Sejalan dengan karakteristik sebelumnya, indeks saham itu tidak bersifat permanen. Pihak BEI dapat mengubah isi indeks secara berkala melalui proses rebalancing. Setiap periode, pasti akan ada saham yang masuk dan yang dikeluarkan. Selain itu, bobot saham dan kapitalisasi pasar juga berubah. 

Saat terjadi balancing tersebut, maka manajer investasi juga harus menyesuaikan portofolio reksadana indeks. Contohnya, jika suatu saham dikeluarkan dari IDX30, maka reksadana indeks berbasis IDX30 biasanya juga akan mengurangi atau melepas saham tersebut.

5. Diversifikasi Mengikuti Struktur Indeks

Berhubung reksadana indeks itu berisi banyak saham sekaligus, maka justru akan memberikan diversifikasi kepada investor. Eits, tetapi tingkat diversifikasinya juga bergantung pada jenis indeks.

Contoh indeks dengan diversifikasi alias berisi saham-saham dari berbagai sektor adalah IHSG, Kompas100, dan IDX80. Sementara indeks IDX30 dan LQ45 cenderung berfokus pada saham-saham big caps dari sektor tertentu seperti perbankan. 

6. Sangat Dipengaruhi Kondisi Pasar

Berhubung reksadana indeks memang bertujuan mengikuti indeks, maka reksadana jenis ini hampir tidak memiliki mekanisme defensif untuk menghindari penurunan pasar. Jika pasar saham turun tajam, maka indeks akan turun sehingga berpengaruh pada kinerjanya juga. 

Berbeda dengan reksadana saham yang kadang bisa meningkatkan porsi atau berpindah ke saham defensif, reksadana indeks tetap harus mengikuti benchmark-nya. Jadi, reksadana indeks lebih cocok untuk investor dengan profil risiko moderat hingga agresif alias yang siap menghadapi volatilitas pasar saham.

Bagaimana Cara Kerja Reksadana Indeks?

Seperti yang tertulis sebelumnya,  reksadana indeks akan menginvestasikan dananya minimal 80% dari keseluruhan saham pada suatu efek yang terdaftar pada suatu indeks. 

Nantinya, pihak manajer investasi akan memilih indeks tertentu sebagai benchmark atau acuan utama. Setelah itu, dana investor dialokasikan ke saham-saham yang menjadi anggota indeks tersebut dengan proporsi yang mendekati komposisi indeks aslinya.

Contohnya, dana kelolaan reksadana sebesar Rp100 miliar. Maka kira-kira penempatannya adalah:

  • Rp20 miliar ditempatkan di Saham A
  • Rp15 miliar di Saham B
  • Rp10 miliar di Saham C
  • sisanya di saham lain sesuai komposisi indeks

Hal ini bertujuan agar saat indeks naik 1%, maka reksadana juga akan naik kurang lebih mendekati 1%. Namun jika indeks turun, maka kinerja reksadana juga akan bergerak turun. Itulah kenapa reksadana jenis ini disebut sebagai reksadana indeks karena memang mengikuti kinerja indeks. 

Kamu pasti juga tahu kan kalau daftar saham pada suatu indeks itu berubah-ubah? Nah, pihak manajer investasi juga akan selalu melakukan penyesuaian ketika ada saham yang keluar atau masuk indeks tersebut. Selain itu, bobot saham juga akan diubah sesuai dengan kebutuhan rebalancing portofolio. 

Baca Juga: Indeks Saham Apa Saja? Berikut Daftarnya yang Ada di Bursa!

Bagaimana Manajer Investasi Memilih Indeks untuk Reksadana?

Pemilihan indeks tidak dilakukan secara sembarangan. Manajer investasi biasanya mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan indeks acuan untuk produk reksadana indeks mereka.

1. Likuiditas Saham

Indeks yang dipilih umumnya berisi saham-saham dengan likuiditas tinggi agar mudah diperdagangkan. Likuiditas penting karena memudahkan manajer investasi melakukan penyesuaian portofolio tanpa terlalu memengaruhi harga pasar.

Contohnya adalah indeks IDX30 dan LQ45 yang berisi saham dengan transaksi aktif.

2. Kapitalisasi Pasar

Manajer investasi juga mempertimbangkan ukuran perusahaan dalam indeks. Indeks dengan kapitalisasi besar biasanya dianggap lebih stabil dibandingkan indeks berisi saham kecil.

3. Kredibilitas Indeks

Indeks yang memiliki metodologi jelas dan dikelola oleh pihak terpercaya cenderung lebih diminati. Di Indonesia, banyak indeks diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia bersama pihak lain seperti media atau lembaga riset, seperti:

  • Kompas-100 berisikan 100 saham yang disusun oleh BEI bekerja sama dengan Harian Kompas.
  • Bisnis-27 berisikan 27 saham unggulan pilihan Harian Bisnis Indonesia.
  • MNC36 mencakup 36 saham unggulan yang disusun oleh BEI dengan MNC Group. 

4. Tema Investasi

Beberapa reksadana indeks dibuat berdasarkan tema tertentu. Misalnya Indeks ESG atau saham berkelanjutan, indeks syariah, indeks sektor tertentu, dan indeks dividen tinggi. Jadi, memungkinkan investor memilih produk sesuai preferensi investasinya.

5. Kemudahan Replikasi

Manajer investasi akan memilih indeks yang susunan sahamnya relatif mudah “ditiru” agar reksadana indeks bisa benar-benar mengikuti pergerakan indeks tersebut. Hal itu karena tidak semua indeks gampang “disalin” ke dalam portofolio reksadana.

Indeks yang mudah ditiru cenderung berisi saham-saham besar yang likuid seperti BBCA, ASII, TLKM, dan lainnya. Itulah kenapa, indeks seperti IDX30 atau LQ45 biasanya lebih mudah diikuti oleh reksadana indeks.

Sebaliknya, ada indeks yang berisikan saham kecil yang likuiditasnya rendah, sehingga jika pihak manajer investasi memaksakan mengikuti indeks seperti itu, bisa muncul masalah seperti tracking error yang membesar. 

Sedikit trivia, pada reksadana indeks, terdapat istilah tracking error yaitu selisih antara kinerja reksadana dengan indeks acuannya. Idealnya, tracking error serendah mungkin agar performa reksadana benar-benar mencerminkan indeks.

Namun dalam praktiknya, tracking error tetap bisa muncul akibat biaya pengelolaan, kas menganggur, waktu rebalancing, perbedaan harga transaksi, hingga pajak. Semakin kecil tracking error, umumnya semakin baik kemampuan reksadana dalam mengikuti indeks.

Baca Juga: 35+ Harga Saham Termahal 2026, Yuk Intip Apa Saja!

Perbedaan Reksadana Indeks dengan Reksadana Saham?

Banyak investor menganggap reksadana indeks dan reksadana saham adalah produk yang sama karena sama-sama mayoritas berisi saham. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar terutama dari sisi strategi pengelolaan.

Berikut tabel perbedaan reksadana indeks dengan reksadana saham dari berbagai aspek. 

Aspek

Reksadana Indeks

Reksadana Saham

Strategi Pengelolaan

Pasif, mengikuti indeks tertentu

Aktif, memilih saham berdasarkan analisis manajer investasi

Tujuan Utama

Menyamai kinerja indeks acuan

Mengalahkan kinerja pasar atau benchmark

Acuan Investasi

Mengikuti indeks seperti IDX30, LQ45, JII, atau Sri-Kehati

Tidak harus mengikuti indeks tertentu

Kebebasan Manajer Investasi

Terbatas karena harus mengikuti komposisi indeks

Lebih fleksibel dalam memilih saham

Komposisi Portofolio

Mirip dengan susunan saham dalam indeks

Bisa berubah sesuai strategi investasi

Aktivitas Jual Beli Saham

Relatif lebih sedikit

Cenderung lebih aktif

Biaya Pengelolaan

Umumnya lebih rendah

Biasanya lebih tinggi

Potensi Return

Mengikuti pergerakan indeks

Bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari indeks

Risiko Underperform terhadap Indeks

Relatif kecil karena memang mengikuti indeks

Lebih besar jika strategi manajer investasi kurang optimal

Tracking Error

Menjadi indikator penting

Tidak terlalu menjadi fokus utama

Transparansi Portofolio

Lebih transparan karena acuan indeks jelas

Bisa lebih dinamis dan berubah cepat

Ketergantungan pada Keahlian Manajer Investasi

Lebih rendah

Sangat bergantung pada kemampuan manajer investasi

Diversifikasi

Mengikuti diversifikasi indeks

Tergantung strategi manajer investasi

Respons terhadap Kondisi Pasar

Cenderung mengikuti pasar secara langsung

Bisa lebih fleksibel dan defensif

Cocok untuk Investor

Investor jangka panjang yang ingin strategi sederhana dan efisien

Investor yang mencari potensi return lebih agresif

Risiko Pasar

Tinggi karena mengikuti pasar saham

Tinggi, tetapi bisa lebih fleksibel mengurangi eksposur tertentu

Contoh Produk

Reksa Dana Indeks IDX30, Reksa Dana Indeks Sri-Kehati

Reksa Dana Saham aktif berbasis growth, value, atau sektoral

Reksadana indeks cocok bagi investor yang ingin mengikuti pertumbuhan pasar dengan biaya lebih efisien dan strategi sederhana. 

Sementara reksadana saham lebih cocok untuk investor yang mencari peluang return lebih tinggi melalui pengelolaan aktif, meski dengan risiko dan biaya yang umumnya lebih besar.

Contoh Produk Reksadana Indeks

Di Indonesia, sudah ada berbagai produk reksadana indeks yang menggunakan acuan indeks berbeda-beda. Selain itu, reksadana indeks juga semakin mudah diinvestasikan hanya melalui aplikasi saja, salah satunya InvestasiKu. 

Berikut contoh produk reksadana indeks yang ada di aplikasi InvestasiKu:

  • BNI AM Short Duration Bonds Index Kelas R1
  • Reksa Dana Indeks PNM Indeks Infobank15
  • Indeks Insight Sri Kehati Liquid I
  • BNI AM Indeks IDX30
  • BNI AM Indeks IDX Growth30 Kelas R1

Baca Juga: 1 Lot Ada Berapa Lembar Saham? Ini Jawabannya!

Minat Berinvestasi Reksadana Indeks?

Nah, dapat disimpulkan bahwa reksadana indeks adalah jenis reksadana yang bertujuan mengikuti kinerja indeks tertentu melalui strategi investasi pasif. 

Jika profil risikomu moderat hingga agresif, maka reksadana jenis ini bisa jadi pilihan menarik. Namun seperti instrumen saham lainnya, reksadana indeks tetap memiliki risiko pasar yang perlu dipahami sebelum berinvestasi.

Kamu bisa langsung berinvestasi pada contoh produk reksadana indeks tersebut melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik. 

Sumber:

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 48 /POJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN REKSA DANA TERPROTEKSI, REKSA DANA DENGAN PENJAMINAN, DAN REKSA DANA INDEKS

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO