Reksadana semakin populer di Indonesia karena dinilai praktis dan mudah diakses oleh investor pemula maupun berpengalaman. Melansir dari Bareksa, reksadana indeks justru menjadi jenis reksadana dengan dana kelolaan terbesar per September 2025 silam.
Memangnya, apa itu reksadana indeks? Apakah reksadana indeks berbeda dengan reksadana saham? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Reksadana Indeks?
Pada konteks investasi, indeks adalah ukuran statistik yang mencerminkan keseluruhan pergerakan harga atas sekumpulan saham yang dipilih berdasarkan kriteria dan metodologi tertentu. Jika demikian, maka reksadana indeks adalah jenis reksadana yang dikelola dengan tujuan mengikuti kinerja suatu indeks tertentu.
Artinya, manajer investasi tidak secara aktif memilih saham berdasarkan analisis pribadi untuk mengalahkan pasar, melainkan menyusun portofolio agar pergerakannya mendekati indeks acuan.
Syarat suatu reksadana disebut sebagai reksadana indeks adalah harus menginvestasikan dananya minimal 80% dari keseluruhan saham pada suatu efek yang terdaftar pada indeks tersebut. Biasanya indeks yang digunakan adalah IHSG, LQ-45, IDX30, Kompas100, dan lainnya.
Contohnya, apabila sebuah reksadana indeks menggunakan IDX30 sebagai acuan, maka mayoritas dana akan ditempatkan pada saham-saham yang tergabung dalam indeks IDX30 dengan komposisi yang mirip.
Berhubung reksadana jenis mengikuti indeks, maka kinerjanya akan bergerak sejalan dengan kondisi pasar yang menjadi acuannya. Jika indeks naik, maka nilai investasi berpotensi naik. Sebaliknya, jika indeks turun, nilai investasi juga dapat ikut turun.
Reksadana indeks berbeda dengan reksadana saham. Pada reksadana indeks justru tidak melakukan jual beli melalui agen penjual, melainkan bursa saham. Jadi, pihak manajer investasi akan membeli dan menjual saham berdasarkan perkembangan harga saham di bursa.
Baca Juga: Indeks Saham - Definisi, Manfaat, Jenis, dan Daftarnya
Karakteristik Reksadana Indeks
Reksadana indeks memiliki sejumlah karakteristik khusus yang membedakannya dari jenis reksadana lain, yakni:
1. Memiliki Indeks Acuan yang Jelas
Karakteristik utama dari reksadana indeks adalah adanya benchmark atau indeks sebagai acuan dasar pengelolaan portofolio. Artinya, manajer investasi tidak bebas memilih saham sesuka hati, melainkan harus mengikuti susunan saham dalam indeks tertentu.
Beberapa indeks yang umum digunakan di Indonesia antara lain:
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
- LQ45
- IDX30
- IDX80
- Sri-Kehati
- Jakarta Islamic Index (JII)
- MSCI Indonesia
- FTSE Indonesia Index
Setiap indeks tersebut memiliki metodologi berbeda sehingga karakteristik reksadana indeks juga akan berbeda-beda bergantung indeks acuannya. Misalnya reksadana indeks menggunakan IDX30 sebagai acuan, maka dana kelolaan akan ditempatkan pada saham-saham big caps.
Lalu jika reksadana indeks menggunakan indeks Sri-Kehati, maka dana kelolaan cenderung akan ditempatkan pada emiten-emiten dengan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG).
Ada juga reksadana indeks yang mengandalkan indeks syariah seperti JII sehingga dana kelolaan akan ditempatkan pada saham-saham syariah.
2. Isi Portofolio Harus Mirip Indeks
Reksadana indeks tidak hanya “terinspirasi” dari suatu indeks saja, tetapi memang diwajibkan mereplikasi indeks acuannya. Hal ini telah diatur dalam POJK Nomor 48/POJK.04/2015 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Terproteksi, Reksa Dana dengan Penjaminan, dan Reksa Dana Indeks.
Pada pasal 10 menyebutkan bahwa “Manajer Investasi yang bermaksud menerbitkan Reksa Dana Indeks wajib: a. memberikan keterangan tambahan dalam Prospektus mengenai ketentuan investasi sebagai berikut:
- paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana tersebut wajib diinvestasikan pada Efek yang merupakan bagian dari kumpulan Efek yang ada dalam indeks tersebut;
- investasi pada Efek yang ada dalam indeks sebagaimana dimaksud pada angka 1 wajib berjumlah paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari keseluruhan Efek yang ada dalam indeks tersebut;
- pembobotan atas masing-masing Efek dalam Reksa Dana Indeks tersebut paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dan paling banyak 120% (seratus dua puluh persen) dari pembobotan atas masing-masing Efek dalam indeks yang menjadi acuan….”
Singkatnya, pihak manajer investasi yang hendak menerbitkan reksadana indeks harus mengalokasikan minimal 80% pada saham-saham yang ada di indeks.
Jika melihat poin ketiga pada pasal tersebut, menyebutkan bahwa bobot masing-masing saham dalam reksadana indeks minimal 80% dan maksimal 120% dari bobot saham pada indeks acuannya.
Misalnya, pada indeks tersebut terdapat saham BBCA dengan bobot 15%. Maka, reksadana indeks yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan harus menempatkan dana kelolaan pada saham BBCA dengan angka yang tidak terlalu jauh dari 15%.
3. Dikelola Secara Pasif
Berbeda dengan reksadana saham, reksadana indeks menggunakan strategi passive investing. Manajer investasi tidak berusaha mencari saham yang bisa “mengalahkan pasar”, melainkan hanya berusaha mengikuti indeks seakurat mungkin.
Alhasil, aktivitas jual beli saham lebih sedikit dan analisis sahamnya tidak terlalu agresif. Portofolio akan berubah biasanya saat terjadi rebalancing indeks oleh pihak BEI. Strategi ini membuat biaya transaksi dan biaya pengelolaan relatif lebih rendah dibandingkan reksadana saham.
4. Rebalancing Portofolio Mengikuti Perubahan Indeks
Sejalan dengan karakteristik sebelumnya, indeks saham itu tidak bersifat permanen. Pihak BEI dapat mengubah isi indeks secara berkala melalui proses rebalancing. Setiap periode, pasti akan ada saham yang masuk dan yang dikeluarkan. Selain itu, bobot saham dan kapitalisasi pasar juga berubah.
Saat terjadi balancing tersebut, maka manajer investasi juga harus menyesuaikan portofolio reksadana indeks. Contohnya, jika suatu saham dikeluarkan dari IDX30, maka reksadana indeks berbasis IDX30 biasanya juga akan mengurangi atau melepas saham tersebut.
5. Diversifikasi Mengikuti Struktur Indeks
Berhubung reksadana indeks itu berisi banyak saham sekaligus, maka justru akan memberikan diversifikasi kepada investor. Eits, tetapi tingkat diversifikasinya juga bergantung pada jenis indeks.
Contoh indeks dengan diversifikasi alias berisi saham-saham dari berbagai sektor adalah IHSG, Kompas100, dan IDX80. Sementara indeks IDX30 dan LQ45 cenderung berfokus pada saham-saham big caps dari sektor tertentu seperti perbankan.
6. Sangat Dipengaruhi Kondisi Pasar
Berhubung reksadana indeks memang bertujuan mengikuti indeks, maka reksadana jenis ini hampir tidak memiliki mekanisme defensif untuk menghindari penurunan pasar. Jika pasar saham turun tajam, maka indeks akan turun sehingga berpengaruh pada kinerjanya juga.
Berbeda dengan reksadana saham yang kadang bisa meningkatkan porsi atau berpindah ke saham defensif, reksadana indeks tetap harus mengikuti benchmark-nya. Jadi, reksadana indeks lebih cocok untuk investor dengan profil risiko moderat hingga agresif alias yang siap menghadapi volatilitas pasar saham.
Bagaimana Cara Kerja Reksadana Indeks?
Seperti yang tertulis sebelumnya, reksadana indeks akan menginvestasikan dananya minimal 80% dari keseluruhan saham pada suatu efek yang terdaftar pada suatu indeks.
Nantinya, pihak manajer investasi akan memilih indeks tertentu sebagai benchmark atau acuan utama. Setelah itu, dana investor dialokasikan ke saham-saham yang menjadi anggota indeks tersebut dengan proporsi yang mendekati komposisi indeks aslinya.
Contohnya, dana kelolaan reksadana sebesar Rp100 miliar. Maka kira-kira penempatannya adalah:
- Rp20 miliar ditempatkan di Saham A
- Rp15 miliar di Saham B
- Rp10 miliar di Saham C
- sisanya di saham lain sesuai komposisi indeks
Hal ini bertujuan agar saat indeks naik 1%, maka reksadana juga akan naik kurang lebih mendekati 1%. Namun jika indeks turun, maka kinerja reksadana juga akan bergerak turun. Itulah kenapa reksadana jenis ini disebut sebagai reksadana indeks karena memang mengikuti kinerja indeks.
Kamu pasti juga tahu kan kalau daftar saham pada suatu indeks itu berubah-ubah? Nah, pihak manajer investasi juga akan selalu melakukan penyesuaian ketika ada saham yang keluar atau masuk indeks tersebut. Selain itu, bobot saham juga akan diubah sesuai dengan kebutuhan rebalancing portofolio.
Baca Juga: Indeks Saham Apa Saja? Berikut Daftarnya yang Ada di Bursa!
Bagaimana Manajer Investasi Memilih Indeks untuk Reksadana?
Pemilihan indeks tidak dilakukan secara sembarangan. Manajer investasi biasanya mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan indeks acuan untuk produk reksadana indeks mereka.
1. Likuiditas Saham
Indeks yang dipilih umumnya berisi saham-saham dengan likuiditas tinggi agar mudah diperdagangkan. Likuiditas penting karena memudahkan manajer investasi melakukan penyesuaian portofolio tanpa terlalu memengaruhi harga pasar.
Contohnya adalah indeks IDX30 dan LQ45 yang berisi saham dengan transaksi aktif.
2. Kapitalisasi Pasar
Manajer investasi juga mempertimbangkan ukuran perusahaan dalam indeks. Indeks dengan kapitalisasi besar biasanya dianggap lebih stabil dibandingkan indeks berisi saham kecil.
3. Kredibilitas Indeks
Indeks yang memiliki metodologi jelas dan dikelola oleh pihak terpercaya cenderung lebih diminati. Di Indonesia, banyak indeks diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia bersama pihak lain seperti media atau lembaga riset, seperti:
- Kompas-100 berisikan 100 saham yang disusun oleh BEI bekerja sama dengan Harian Kompas.
- Bisnis-27 berisikan 27 saham unggulan pilihan Harian Bisnis Indonesia.
- MNC36 mencakup 36 saham unggulan yang disusun oleh BEI dengan MNC Group.
4. Tema Investasi
Beberapa reksadana indeks dibuat berdasarkan tema tertentu. Misalnya Indeks ESG atau saham berkelanjutan, indeks syariah, indeks sektor tertentu, dan indeks dividen tinggi. Jadi, memungkinkan investor memilih produk sesuai preferensi investasinya.
5. Kemudahan Replikasi
Manajer investasi akan memilih indeks yang susunan sahamnya relatif mudah “ditiru” agar reksadana indeks bisa benar-benar mengikuti pergerakan indeks tersebut. Hal itu karena tidak semua indeks gampang “disalin” ke dalam portofolio reksadana.
Indeks yang mudah ditiru cenderung berisi saham-saham besar yang likuid seperti BBCA, ASII, TLKM, dan lainnya. Itulah kenapa, indeks seperti IDX30 atau LQ45 biasanya lebih mudah diikuti oleh reksadana indeks.
Sebaliknya, ada indeks yang berisikan saham kecil yang likuiditasnya rendah, sehingga jika pihak manajer investasi memaksakan mengikuti indeks seperti itu, bisa muncul masalah seperti tracking error yang membesar.
Sedikit trivia, pada reksadana indeks, terdapat istilah tracking error yaitu selisih antara kinerja reksadana dengan indeks acuannya. Idealnya, tracking error serendah mungkin agar performa reksadana benar-benar mencerminkan indeks.
Namun dalam praktiknya, tracking error tetap bisa muncul akibat biaya pengelolaan, kas menganggur, waktu rebalancing, perbedaan harga transaksi, hingga pajak. Semakin kecil tracking error, umumnya semakin baik kemampuan reksadana dalam mengikuti indeks.
Baca Juga: 35+ Harga Saham Termahal 2026, Yuk Intip Apa Saja!
Perbedaan Reksadana Indeks dengan Reksadana Saham?
Banyak investor menganggap reksadana indeks dan reksadana saham adalah produk yang sama karena sama-sama mayoritas berisi saham. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar terutama dari sisi strategi pengelolaan.
Berikut tabel perbedaan reksadana indeks dengan reksadana saham dari berbagai aspek.
|
Aspek |
Reksadana Indeks |
Reksadana Saham |
|
Strategi Pengelolaan |
Pasif, mengikuti indeks tertentu |
Aktif, memilih saham berdasarkan analisis manajer investasi |
|
Tujuan Utama |
Menyamai kinerja indeks acuan |
Mengalahkan kinerja pasar atau benchmark |
|
Acuan Investasi |
Mengikuti indeks seperti IDX30, LQ45, JII, atau Sri-Kehati |
Tidak harus mengikuti indeks tertentu |
|
Kebebasan Manajer Investasi |
Terbatas karena harus mengikuti komposisi indeks |
Lebih fleksibel dalam memilih saham |
|
Komposisi Portofolio |
Mirip dengan susunan saham dalam indeks |
Bisa berubah sesuai strategi investasi |
|
Aktivitas Jual Beli Saham |
Relatif lebih sedikit |
Cenderung lebih aktif |
|
Biaya Pengelolaan |
Umumnya lebih rendah |
Biasanya lebih tinggi |
|
Potensi Return |
Mengikuti pergerakan indeks |
Bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari indeks |
|
Risiko Underperform terhadap Indeks |
Relatif kecil karena memang mengikuti indeks |
Lebih besar jika strategi manajer investasi kurang optimal |
|
Tracking Error |
Menjadi indikator penting |
Tidak terlalu menjadi fokus utama |
|
Transparansi Portofolio |
Lebih transparan karena acuan indeks jelas |
Bisa lebih dinamis dan berubah cepat |
|
Ketergantungan pada Keahlian Manajer Investasi |
Lebih rendah |
Sangat bergantung pada kemampuan manajer investasi |
|
Diversifikasi |
Mengikuti diversifikasi indeks |
Tergantung strategi manajer investasi |
|
Respons terhadap Kondisi Pasar |
Cenderung mengikuti pasar secara langsung |
Bisa lebih fleksibel dan defensif |
|
Cocok untuk Investor |
Investor jangka panjang yang ingin strategi sederhana dan efisien |
Investor yang mencari potensi return lebih agresif |
|
Risiko Pasar |
Tinggi karena mengikuti pasar saham |
Tinggi, tetapi bisa lebih fleksibel mengurangi eksposur tertentu |
|
Contoh Produk |
Reksa Dana Indeks IDX30, Reksa Dana Indeks Sri-Kehati |
Reksa Dana Saham aktif berbasis growth, value, atau sektoral |
Reksadana indeks cocok bagi investor yang ingin mengikuti pertumbuhan pasar dengan biaya lebih efisien dan strategi sederhana.
Sementara reksadana saham lebih cocok untuk investor yang mencari peluang return lebih tinggi melalui pengelolaan aktif, meski dengan risiko dan biaya yang umumnya lebih besar.
Contoh Produk Reksadana Indeks

Di Indonesia, sudah ada berbagai produk reksadana indeks yang menggunakan acuan indeks berbeda-beda. Selain itu, reksadana indeks juga semakin mudah diinvestasikan hanya melalui aplikasi saja, salah satunya InvestasiKu.
Berikut contoh produk reksadana indeks yang ada di aplikasi InvestasiKu:
- BNI AM Short Duration Bonds Index Kelas R1
- Reksa Dana Indeks PNM Indeks Infobank15
- Indeks Insight Sri Kehati Liquid I
- BNI AM Indeks IDX30
- BNI AM Indeks IDX Growth30 Kelas R1
Baca Juga: 1 Lot Ada Berapa Lembar Saham? Ini Jawabannya!
Minat Berinvestasi Reksadana Indeks?
Nah, dapat disimpulkan bahwa reksadana indeks adalah jenis reksadana yang bertujuan mengikuti kinerja indeks tertentu melalui strategi investasi pasif.
Jika profil risikomu moderat hingga agresif, maka reksadana jenis ini bisa jadi pilihan menarik. Namun seperti instrumen saham lainnya, reksadana indeks tetap memiliki risiko pasar yang perlu dipahami sebelum berinvestasi.
Kamu bisa langsung berinvestasi pada contoh produk reksadana indeks tersebut melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 48 /POJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN REKSA DANA TERPROTEKSI, REKSA DANA DENGAN PENJAMINAN, DAN REKSA DANA INDEKS
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)