INVESTASI
 

Klasifikasi IDX-IC: Pengertian, Perbedaan dengan JASICA, Daftar Sektor, dan Contoh Saham

by Rifda Arum Adhi Pangesti - 14 Apr 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

IDX-IC atau IDX Industrial Classification adalah sistem klasifikasi sektor terbaru yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), menggantikan sistem lama yaitu JASICA. 

Melansir dari Kontan, pihak BEI resmi meluncurkan klasifikasi IDX-IC ini pada 25 Januari 2021, yang bakal menggantikan klasifikasi JASICA (Jakarta Stock Industrial Classification). Meskipun demikian, klasifikasi JASICA masih masih akan tetap dipertahankan selama masa transisi 3 bulan ke depan.

Artinya, pada tahun 2026 BEI sudah menggunakan klasifikasi IDX-IC. Memangnya, apa itu klasifikasi IDX-IC itu? Apa perbedaannya dengan klasifikasi JASICA yang sudah digunakan pihak BEI sejak tahun 1996 ini? Yuk, simak selengkapnya!

Apa Itu Klasifikasi IDX-IC?

Klasifikasi IDX-IC adalah sistem pengelompokan perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia berdasarkan aktivitas bisnis utama mereka. IDX-IC ini mengelompokkan emiten ke dalam 4 tingkat yakni sektor, subsektor, industri, dan subindustri. 

Dari adanya struktur klasifikasi IDX-IC ini, maka emiten yang tercatat di bursa akan lebih homogen yakni 12 sektor, 35 subsektor, 69 industri, dan 130 sub industri. Sistem ini dirancang untuk:

  • Memberikan klasifikasi yang lebih relevan dengan kondisi ekonomi modern
  • Mengikuti standar global
  • Memudahkan investor dalam analisis sektor

Klasifikasi IDX-IC resmi mulai diberlakukan pada 25 Januari 2021 sesuai dengan pemberlakuan Surat Edaran BEI Nomor: SE-00003/BEI/01-2021 perihal Tampilan Informasi Perusahaan Tercatat pada Kolom Remarks dalam JATS.

Sejak saat itu, seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI menggunakan klasifikasi baru ini, menggantikan sistem JASICA yang sudah digunakan sebelumnya.

Baca Juga: 72 Saham Manufaktur Industri Dasar dan Kimia yang Terdaftar di BEI

Kenapa JASICA Diganti ke IDX-IC?

Ada beberapa alasan kenapa BEI mengganti JASICA ke klasifikasi IDX-IC, yakni:

Tidak Mengakomodasi Perkembangan Teknologi Digital

Berhubung JASICA hanya membagi perusahaan ke dalam 9 sektor utama dengan pembagian yang relatif umum, sehingga tidak relevan dengan perkembangan industri modern yang kompleks. 

Saat JASICA dibuat, ekonomi digital belum berkembang seperti sekarang. Dampaknya, tidak ada kategori khusus untuk e-commerce, data center, platform digital, dan lainnya.

Yap, di tengah perkembangan teknologi sekarang ini, perusahaan pasti sudah memiliki beragam model bisnis inovatif seperti teknologi digital, ekonomi kreatif, maupun energi terbarukan. Satu sektor saja bisa berisikan berbagai bisnis berbeda. 

Jika masih berkutat dengan JASICA ini, perusahaan teknologi bisa “terpaksa” masuk ke sektor perdagangan maupun jasa. Alhasil, analisisnya menjadi tidak akurat. Contoh: saham GOTO atau DCII sulit diklasifikasikan dengan tepat di JASICA

Tidak Selaras dengan Standar Global

Di masa sekarang, JASICA tidak sepenuhnya mengikuti standar internasional seperti GICS (Global Industry Classification Standard) dan ICB (Industry Classification Benchmark)

GICS (Global Industry Classification Standard) merupakan sistem klasifikasi industri global untuk mengelompokkan perusahaan berdasarkan aktivitas bisnis utama. Klasifikasi GICS ini dikembangkan oleh MSCI. 

Sementara ICB (Industry Classification Benchmark) adalah sistem klasifikasi industri global untuk mengelompokkan perusahaan berdasarkan sumber pendapatan utama. Klasifikasi ICB ini dikembangkan oleh FTSE Russell. 

Jika JASICA tidak selaras dengan standar global, maka investor asing akan sulit membandingkan emiten. Misalnya, investor asing akan membandingkan saham teknologi di Indonesia dengan saham teknologi di US. 

Saham teknologi di US juga pasti masuk ke sektor Technology GICS, tetapi di Indonesia masih menggunakan klasifikasi JASICA yang mana emiten teknologi bahkan bisa masuk ke sektor perdagangan, jasa, maupun sektor lainnya. 

Alhasil, investor asing tersebut akan bingung “Ini sebenarnya perusahaan teknologi atau bukan?” sehingga menjadikannya ragu untuk berinvestasi lebih lanjut dan potensi aliran dana asing pun terhambat. 

Baca Juga: Indeks MSCI - Pengertian, Fungsi, dan Daftar Saham MSCI Indonesia

Perbedaan IDX-IC vs JASICA

Berikut tabel perbandingan antara kedua sistem klasifikasi IDX-IC dan JASICA, yakni:

Aspek

IDX-IC

JASICA

Tahun berlaku

2021–sekarang

1996-2021

Struktur

4 tingkat yakni 12 sektor, 35 subsektor, 69 industri, dan 130 subindustri.

2 tingkat yakni sektor dan subsektor

Jumlah sektor

12 sektor:

  1. Energi
  2. Barang baku
  3. Perindustrian
  4. Barang Konsumen Primer
  5. Barang Konsumen Non-Primer
  6. Kesehatan
  7. Keuangan
  8. Properti & Real Estate
  9. Teknologi
  10. Infrastruktur
  11. Transportasi & Logistik
  12. Produk Investasi Tercatat

9 sektor:

  1. Pertambangan
  2. Barang Konsumsi
  3. Perkebunan
  4. Industri Dasar dan Kimia
  5. Aneka Industri
  6. Properti, Real Estate, & Konstruksi
  7. Infrastruktur, Utilitas, & Transportasi
  8. Keuangan
  9. Perdagangan, Jasa, & Investasi

Fleksibilitas

Lebih fleksibel & modern

Cenderung kaku

Kesesuaian global

Ya

Tidak

Detail industri

Sangat detail

Terbatas

Jadi, dapat disimpulkan bahwa IDX-IC ini jauh lebih modern dan relevan dengan perkembangan teknologi sekarang ini. 

Baca Juga: Pengertian dan 8 Contoh Perusahaan Manufaktur di Indonesia

Daftar Sektor dalam Klasifikasi IDX-IC + Contoh Saham 

Dalam klasifikasi IDX-IC, perusahaan di Bursa Efek Indonesia dibagi ke dalam 12 sektor utama berdasarkan aktivitas bisnis utamanya. Simak pembagiannya berikut ini!

1. Energi (IDXENERGY)

Sektor energi mencakup perusahaan yang bergerak dalam eksplorasi, produksi, hingga distribusi sumber energi, baik energi fosil maupun sebagian energi alternatif. Ruang lingkupnya mencakup batu bara, minyak & gas, dan jasa penunjang energi. 

Contoh Emiten:

  • ADRO – Adaro Energy Indonesia Tbk
  • PTBA – Bukit Asam Tbk
  • ITMG – Indo Tambangraya Megah Tbk
  • MEDC – Medco Energi Internasional Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

2. Bahan Baku (IDXBASIC)

Sektor ini berisi perusahaan yang menghasilkan bahan mentah atau setengah jadi yang digunakan industri lain. Ruang lingkup mencakup pertambangan logam berupa nikel, emas, dan timah, petrokimia, pulp & kertas, serta semen. 

Sektor ini mengandalkan permintaan industri global juga, khususnya pada nikel dan CPO pasti akan terpengaruh oleh harga di pasaran global. Sektor ini menjadi leading indicator dalam perekonomian negara. 

Contoh Emiten:

  • ANTM – Aneka Tambang Tbk
  • INKP – Indah Kiat Pulp & Paper Tbk
  • TPIA – Chandra Asri Petrochemical Tbk
  • SMGR – Semen Indonesia Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

3. Industri (IDXINDUST)

Sektor ini mencakup perusahaan yang mendukung aktivitas industri dan pembangunan. Ruang lingkupnya mencakup alat berat, konstruksi & EPC (Engineering, Procurement, and Construction), logistik industri, dan jasa engineering. 

Biasanya sektor ini berkaitan dengan pelaksanaan proyek pemerintah maupun swasta, sehingga bergantung pada anggaran infrastruktur. 

Contoh Emiten:

  • UNTR – United Tractors Tbk
  • WIKA – Wijaya Karya Tbk
  • PTPP – PP Tbk
  • WEGE – Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

Baca Juga: 10+ Saham yang Bagi Dividen 2 Hingga 3 Kali Setahun, Mana Saja?

4. Barang Konsumen Primer (IDXNONCYC)

Sektor ini berisi perusahaan yang produknya tetap dibutuhkan dalam kondisi ekonomi apapun. Ruang lingkupnya mencakup makanan & minuman, produk rumah tangga, dan ritel kebutuhan pokok sehari-hari. Saat pandemi, biasanya sektor ini makin ramai karena panic buying di antara masyarakat. 

Contoh Emiten:

  • ICBP – Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
  • INDF – Indofood Sukses Makmur Tbk
  • UNVR – Unilever Indonesia Tbk
  • MYOR – Mayora Indah Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

5. Barang Konsumen Non-Primer (IDXCYCLIC)

Sektor ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat. Ruang lingkupnya mencakup otomotif, ritel non-primer, properti, dan pariwisata. 

Jadi, sektor ini akan naik saat ekonomi masyarakat tengah bertumbuh. Namun juga akan turun saat daya beli melemah karena berbagai faktor. 

Contoh Emiten:

  • ASII – Astra International Tbk
  • MAPI – Mitra Adiperkasa Tbk
  • ERAA – Erajaya Swasembada Tbk
  • ACES – Ace Hardware Indonesia Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

6. Kesehatan (IDXHEALTH)

Sektor kesehatan mencakup layanan medis dan produk kesehatan. Ruang lingkupnya mencakup rumah sakit, farmasi, alat kesehatan, dan laboratorium. Bisa dikatakan sektor kesehatan ini stabil alias semi-defensive karena permintaannya kian meningkat dalam jangka panjang. 

Contoh Emiten:

  • SILO – Siloam International Hospitals Tbk
  • HEAL – Medikaloka Hermina Tbk
  • KLBF – Kalbe Farma Tbk
  • KAEF – Kimia Farma Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

7. Keuangan (IDXFINANCE)

Sektor keuangan sering disebut-sebut sebagai tulang punggung ekonomi karena hampir semua aktivitas bisnis bergantung pada pembiayaan sektor ini. Ruang lingkupnya mencakup perbankan, multifinance, asuransi, dan sekuritas. Biasanya, sektor ini sensitif terhadap suku bunga dan likuiditasnya pun tinggi. 

Contoh Emiten:

  • BBCA – Bank Central Asia Tbk
  • BBRI – Bank Rakyat Indonesia Tbk
  • BMRI – Bank Mandiri Tbk
  • BBNI – Bank Negara Indonesia Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

8. Properti & Real Estate (IDXPROPERT)

Sektor ini berfokus pada pengembangan, penjualan, dan pengelolaan properti. Ruang lingkupnya mencakup perumahan, apartemen, kawasan industri, mall & komersial. Sektor ini sensitif terhadap suku bunga. 

Cara kerja bisnisnya adalah developer akan membeli lahan terlebih dahulu, kemudian membangun proyek baik itu rumah, mall, atau apartemen. Setelah itu, barulah dijual atau disewakan. 

Contoh Emiten:

  • BSDE – Bumi Serpong Damai Tbk
  • CTRA – Ciputra Development Tbk
  • SMRA – Summarecon Agung Tbk
  • PWON – Pakuwon Jati Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

Baca Juga: Saham Bonus - Pengertian, Perbedaan dengan Dividen, dan Contoh Emitennya

9. Teknologi (IDXTECHNO)

Sektor teknologi mencerminkan ekonomi digital modern yang berkembang pesat saat ini. Ruang lingkupnya mencakup e-commerce, data center, software & IT services, dan digital platform. 

Sektor ini memang berpotensi tumbuh, tetapi karena tergolong sektor baru sehingga perusahaan-perusahaannya akan berfokus pada ekspansi dulu. Alhasil, belum tentu profit. Namun, tetap cocok untuk investor yang fokus pada investasi jangka panjang. 

Contoh Emiten:

  • GOTO – GoTo Gojek Tokopedia Tbk
  • DCII – DCI Indonesia Tbk
  • EDGE – Indointernet Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

10. Infrastruktur (IDXINFRA)

Sektor ini menyediakan infrastruktur dasar yang dibutuhkan masyarakat. Ruang lingkupnya mencakup telekomunikasi, jalan tol, dan transportasi publik. Biasanya, banyak didukung pemerintah karena proyek-proyek BUMN. 

Contoh Emiten:

  • TLKM – Telkom Indonesia Tbk
  • EXCL – XL Axiata Tbk
  • ISAT – Indosat Tbk
  • JSMR – Jasa Marga Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

11. Transportasi & Logistik (IDXTRANS)

Sektor ini menghubungkan distribusi barang dan mobilitas manusia. Cara kerja bisnisnya adalah dengan layanan pengantaran orang (transportasi) dan pengantaran barang (logistik & shipping). Ruang lingkupnya mencakup pelayaran, logistik, distribusi, dan transportasi darat. 

Contoh Emiten:

  • SMDR – Samudera Indonesia Tbk
  • ASSA – Adi Sarana Armada Tbk
  • WINS – Wintermar Offshore Marine Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

12. Utilities

Sektor utilitas menyediakan layanan dasar seperti listrik dan energi publik. Ruang lingkupnya mencakup listrik, gas, dan air. 

Contoh Emiten:

  • PGAS – Perusahaan Gas Negara Tbk
  • POWR – Cikarang Listrindo Tbk

*klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya. 

Baca Juga: Akuisisi Perusahaan - Pengertian, Jenis, Manfaat, dan 4 Motif Pertimbangannya

Mau Berinvestasi Pada 12 Sektor Tersebut?

Nah, itulah penjelasan tentang apa itu klasifikasi IDX-IC yang menggantikan JASICA dan lebih kompleks untuk bisnis modern saat ini. Dari adanya klasifikasi yang baru ini, kamu bisa mengikuti tren ekonomi. Misalnya saat komoditas naik, maka sektor energi ikut naik. Sementara saat saat suku bunga turun, maka sektor properti naik.

Jika kamu ingin berinvestasi pada emiten-emiten di atas, dapat melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. 

Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik. 

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO