Istilah “saham konglo” merujuk pada saham-saham yang dimiliki atau berada dalam ekosistem bisnis konglomerat besar Indonesia. Mulai dari Grup Salim, Djarum, Sinarmas, hingga CT Corp, saham-saham dari grup tersebut sering menjadi perhatian investor karena berkapitalisasi besar, jaringan bisnis luas, hingga berpengaruh kuat terhadap pergerakan pasar.
Tidak sedikit investor yang menganggap saham konglo sebagai “saham penguasa bursa” karena mayoritas emiten besar di BEI memang berada di bawah kendali kelompok usaha konglomerasi. Selain itu, sejumlah saham konglo juga masuk kategori blue chip dan rutin membagikan dividen.
Simak selengkapnya berikut ini!
Apa Itu Saham Konglo?
Saham konglo adalah istilah populer yang mengacu pada saham perusahaan milik konglomerat atau grup usaha besar. Kata “konglo” berasal dari kata “konglomerat”.
Jika melihat pada KBBI, “konglomerat” berarti perusahaan besar yang beranggotakan berbagai macam perusahaan dan bergerak dalam bidang usaha yang bermacam-macam. Mulai dari perbankan, properti, energi, infrastruktur, media, telekomunikasi, makanan, hingga teknologi.
Berhubung cakupan bisnisnya luas, maka tentu saja emiten-emiten yang berada di bawah grup konglomerasi sering memiliki aset besar, akses pendanaan kuat, jaringan bisnis luas, likuiditas saham tinggi, dan berpengaruh besar di mata masyarakat.
Contohnya:
- saham Grup Salim identik dengan Anthoni Salim,
- saham Grup Djarum identik dengan keluarga Hartono,
- saham Grup Sinarmas identik dengan keluarga Widjaja,
- saham Grup Lippo identik dengan keluarga Riady.
Di pasar saham, nama besar pemilik sering menjadi sentimen tersendiri. Investor percaya bahwa grup konglomerasi memiliki sumber daya besar untuk menjaga ekspansi bisnis dan mempertahankan pertumbuhan perusahaan.
Karakteristik Saham Konglo
Berikut beberapa ciri umum saham konglo:
1. Memiliki Keterkaitan Antar Emiten
Dalam satu grup konglomerasi biasanya terdapat banyak perusahaan tercatat di BEI. Emiten-emiten tersebut sering memiliki hubungan bisnis, kepemilikan silang, hingga sinergi operasional.
Misalnya pada saham konglo milik Salim Group, saham INDF bergerak sebagai induk usaha makanan, sementara saham ICBP memproduksi mie instan, snack, dan lainnya. Di sisi lain, ada saham SIMP dan LSIP yang bergerak di sektor agribisnis sehingga mampu memasok bahan baku minyak.
2. Diversifikasi Bisnis Luas
Konglomerat umumnya tidak hanya bermain di satu sektor saja. Mereka memiliki bisnis lintas industri untuk menjaga stabilitas pendapatan. Misalnya pada saham konglo dari CT Corp, ada saham MEGA yang bergerak di sektor perbankan, kemudian ALLO di sektor bank digital.
Begitu pula dengan saham konglo milik Sinarmas Group yang mana ada saham INKP dan TKIM dengan bisnisnya di sektor pulp & kertas, kemudian ada BSDE di sektor properti.
3. Kapitalisasi Pasar Besar
Sebagian besar saham konglo masuk kategori big caps atau blue chip. Jika kamu rutin memperhatikan saham-saham yang masuk Indeks LQ45 maupun IDX-30, pasti mayoritas berasal dari grup konglomerasi.
Misalnya, saham BBCA dari Djarum Group yang masuk ke Indeks LQ45, maupun Indeks IDX-30. Lalu ada juga ICBP dan INDF dari Salim Group yang menjadi saham consumer terbesar di Indonesia dan menjadi penggerak IHSG.
4. Dipengaruhi Sentimen Grup
Pergerakan satu saham konglo terkadang bisa memengaruhi saham afiliasi lain dalam grup yang sama. Penelitian mengenai holding company di Indonesia juga menunjukkan adanya korelasi harga saham antar perusahaan dalam satu grup.
Hal ini ditunjukkan melalui artikel penelitian berjudul The Stock Price Relationship between Holding Companies and Subsidiaries: A Case study of Indonesia Multiholding Companies, yang mengambil sampel MNC Group dan Elang Mahkota Teknologi Group (EMTEK).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada tingkat korelasi antara harga saham perusahaan induk dengan anak perusahaannya. Pada EMTEK Group, analisis menunjukkan bahwa pergerakan saham EMTK selaku induk perusahaan berdampak signifikan pada harga saham anak perusahaannya.
Ada juga contoh lain pada tahun 2018 silam, saat terjadi kasus Meikarta yang menimpa Lippo Group, membuat saham Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) dan Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) mendapatkan sentimen negatif. Melansir dari Kontan, bahkan analis dari suatu sekuritas menyarankan hindari saham konglo tersebut pada saat itu.
5. Likuiditas Tinggi
Banyak saham konglo aktif diperdagangkan sehingga diminati investor institusi maupun ritel. Contohnya saham BBCA milik Djarum Group yang dikenal sebagai saham konglo paling likuid.
Melihat dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), ASII rutin masuk jajaran saham dengan frekuensi transaksi dan volume besar. Per April 2026, saham BBCA memiliki kapitalisasi pasar sebesar 713.947.452 (Sumber: IDX)
Apakah Saham Konglo Rajin Membagikan Dividen?
Tidak semua saham konglo rajin membagikan dividen, tetapi banyak emiten konglomerasi memang dikenal royal terhadap pemegang saham. Contoh saham ASII dari Astra Group yang melaksanakan pembayaran dividen interim pada 31 Oktober 2025 dengan harga Rp98 per lembar.
Berhubung saham konglo itu memiliki dividend yield menarik karena profitabilitas bisnis yang stabil, maka rajin membagikan dividennya. Namun, ada juga saham konglo yang memilih menahan laba demi ekspansi agresif, terutama di sektor teknologi, energi baru, atau infrastruktur digital.
Contoh Saham Konglo di Indonesia
Berikut beberapa grup konglomerasi besar di Indonesia beserta contoh emitennya.
1. Salim Group
Anthoni Salim dikenal sebagai penerus kerajaan bisnis Salim Group yang memiliki bisnis makanan, agribisnis, infrastruktur, hingga teknologi. Berikut daftar saham milik Salim Group:
- Indofood Sukses Makmur Tbk. - INDF
- Indofood Sukses CBP Makmur Tbk. - ICBP
- Salim Ivomas Pratama Tbk. - SIMP
- London Sumatra Indonesia Tbk. - LSIP
- Medco Energi Internasional Tbk. - MEDC
- Bank Ina Perdana Tbk. - BINA
- Indomobil Multi Jasa Tbk. - IMJS
- Indomobil Sukses Internasional Tbk. - IMAS
- Nusantara Infrastructure Tbk. - META
- Indoritel Makmur Tbk. - DNET
- DCI Indonesia Tbk. - DCII
Baca Juga: 11 Saham Milik Salim Group, Bukan Hanya Indofood Saja!
2. Djarum Group
Dimiliki keluarga Hartono, Grup Djarum terkenal melalui bisnis rokok, perbankan, dan teknologi digital. Berikut saham milik Djarum Group:
- Bank Central Asia Tbk. - BBCA
- Sarana Menara Nusantara Tbk. - TOWR
- Supra Boga Lestari Tbk. - RANC
- Global Digital Niaga Tbk. - BELI
- Surya Semesta Internusa Tbk. - SSIA
Baca Juga: 5 Saham Milik Djarum Group, Bukan Hanya BBCA Saja!
3. Sinarmas Group
Eka Tjipta Widjaja membangun Sinarmas menjadi konglomerasi besar di sektor pulp & paper, properti, energi, dan keuangan. Berikut saham milik Sinarmas Group:
- Bumi Serpong Damai Tbk. - BSDE
- Bank Sinarmas Tbk. - BSIM
- Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. - INKP
- Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. - TKIM
- Dian Swastatika Sentosa Tbk. - DSSA
- Golden Energy Mines Tbk. - GEMS
- Puradelta Lestari Tbk. - DMAS
- Sinar Mas Multiartha Tbk. - SMMA
Baca Juga: 8 Saham Milik Sinarmas dan Prospek Bisnisnya
4. Lippo Group
Mochtar Riady dikenal melalui bisnis properti, kesehatan, ritel, keuangan, dan teknologi. Berikut daftar saham milik Lippo Group:
- Lippo Karawaci Tbk. - LPKR
- Siloam International Hospitals Tbk. - SILO
- Matahari Department Store Tbk. - LPPF
- Multipolar Tbk. - MLPL
- Multipolar Technology Tbk. - MLPT
- Bank Nationalnobu Tbk. - NOBU
- Lippo Cikarang Tbk. - LPCK
- Lippo General Insurance Tbk. - LPGI
- Matahari Putra Prima Tbk. - MPPA
Baca Juga: 9 Saham Milik Lippo Group yang Melantai di Bursa, Bukan Cuma Siloam Saja!
5. CT Corp
Chairul Tanjung memiliki bisnis di sektor media, keuangan, dan logistik. Berikut daftar saham milik CT Corp:
Sebagai catatan, CT Group berinvestasi pada saham GIAA melalui entitas anak perusahaannya yakni PT Trans Airways dengan porsi kepemilikan saham di atas 1,8%.
6. Astra Group
Astra dikenal sebagai salah satu konglomerasi terbesar Indonesia dengan bisnis otomotif, alat berat, agribisnis, dan infrastruktur. Berikut daftar saham milik Astra Group:
- Astra International Tbk. - ASII
- United Tractors Tbk. - UNTR
- Astra Agro Lestari Tbk. - AALI
- Permata Bank Tbk. - BNLI
- Astra Graphia Tbk. - ASGR
- Acset Indonusa Tbk. - ACST
- Astra Otoparts Tbk. - AUTO
Baca Juga: 7 Saham Milik Astra Group dari Berbagai Sektor Bisnis, Apa Saja?
Minat Berinvestasi Saham Konglo?
Nah, dapat disimpulkan bahwa saham konglo adalah saham perusahaan yang dimiliki atau berada dalam jaringan bisnis konglomerat besar. Keunggulan saham konglo terletak pada diversifikasi bisnis, kekuatan modal, jaringannya yang luas, dan potensi potensi pertumbuhan jangka panjang.
Meski begitu, kamu tetap harus mewaspadai risiko tata kelola, kepemilikan terpusat, hingga volatilitas pada saham tertentu. Jangan hanya membeli saham karena nama besar konglomeratnya saja.
Kamu bisa langsung berinvestasi pada saham-saham konglo tersebut melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Aufaristama, M. (2023). The Stock Price Relationship between Holding Companies and Subsidiaries: A Case study of Indonesia Multiholding Companies. arXiv preprint arXiv:2303.07244.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)