Tahun 2026 ini, komoditas tembaga mencatatkan harga tertingginya sepanjang sejarah yakni USD 13.000 per ton. Hal ini menjadi sinyal bahwa komoditas yang kerap dijuluki Dr. Copper ini meningkat seiring dengan kebutuhannya untuk berbagai industri manufaktur dan infrastruktur.
Permintaan global terhadap tembaga diperkirakan terus meningkat dalam dekade mendatang seiring percepatan transisi energi dan digitalisasi global. Yap, sekarang ini teknologi sudah semakin maju dengan eksistensi kendaraan listrik yang tentunya tidak lepas dari penggunaan tembaga sebagai bahan utamanya.
FYI, Indonesia menjadi salah satu negara produsen tembaga utama di dunia, tepatnya posisi ke-7. Yuk, simak mana saja emiten yang bergerak pada pertambangan tembaga dan peluang bisnis kedepannya.
Peluang Bisnis Tembaga di Masa Depan
Tembaga merupakan logam konduktor listrik terbaik kedua setelah perak, tetapi jauh lebih ekonomis dan aplikatif secara industri. Sifat fisik dan kimia tembaga terutama konduktivitas listrik yang tinggi, tahan dari korosi, dan kemampuan daur ulang yang kuat menjadikannya pilihan utama untuk berbagai aplikasi teknologi tinggi dan infrastruktur industri.
Atas sifatnya tersebut, tembaga menjadi material vital untuk:
- Kabel listrik
- Infrastruktur transmisi energi
- Kendaraan listrik (EV)
- Panel surya
- Turbin angin
- Data center
- Perangkat elektronik
- Sistem pendingin industri
Menurut data International Energy Agency, permintaan tembaga global diproyeksikan meningkat sekitar 30% hingga 2040 dalam skenario kebijakan energi saat ini. Dalam skenario transisi energi yang lebih agresif, kenaikannya bisa lebih tinggi lagi.
Berikut beberapa kegunaan tembaga khususnya untuk berbagai aplikasi teknologi tinggi dan infrastruktur industri.
1. Ledakan Infrastruktur Kendaraan Listrik
Kamu pasti sadar ‘kan jika sekarang ini sudah banyak kendaraan listrik? Nah, khususnya pada mobil listrik rata-rata membutuhkan tembaga jauh lebih banyak dibanding mobil berbahan bakar konvensional. Rata-rata, mobil listrik membutuhkan 60-80 kg tembaga, sementara mobil biasa hanya 20-25 kg tembaga saja,
Selain kendaraan, charging station dan jaringan transmisi listrik juga menyerap permintaan besar atas tembaga.
2. AI dan Data Center
Tahukah kamu jika pertumbuhan AI juga meningkatkan kebutuhan kabel, sistem pendinginan kompleks, transformator, serta infrastruktur kelistrikan, yang mana semuanya menggunakan tembaga.
Melansir dari Reuters, perusahaan tambang terbesar di dunia asal Australia yakni BHP Group, melaporkan bahwa laba pokok mereka meningkat karena tembaga. Pertama kalinya, produksi tembaga melampaui bijih besi dalam hal pendapatan perusahaan yang dipicu oleh AI.
Pun demikian menurut laporan S&P Global, menggarisbawahi prospek global untuk pasokan dan permintaan tembaga hingga tahun 2040 akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan teknologi AI, pusat data, kendaraan listrik, hingga sistem pertahanan.
3. Transisi Energi Global
Keberadaan panel surya, turbin angin, dan jaringan listrik pintar turut membutuhkan tembaga dalam volume besar. Contohnya, sistem tenaga surya membutuhkan sekitar 5 ton tembaga per MW, dan turbin angin lepas pantai dapat memakai lebih dari 8 ton per MW
Berdasarkan tabel kebutuhan mineral untuk teknologi energi bersih (clean energy technologies) dari IEA, tembaga menjadi bahan penting dalam pengembangan panel surya, hidro, hingga bioenergi.
Hal ini turut disampaikan oleh Visual Capitalist, bahwa pembangkit listrik tenaga angin dan surya sangat bergantung pada jumlah tembaga, khususnya untuk kebutuhan kabel, kawat, dan pertukaran panas dalam menghantarkan listrik.
4. Upaya Hilirisasi Mineral
Indonesia semakin agresif mendorong hilirisasi mineral. Melansir dari jurnal penelitian berjudul Pengembangan Hilirisasi Tembaga dan Perannya dalam Mendorong Industri Produk Akhir Nasional, menggarisbawahi bagaimana upaya hilirisasi mineral terutama tembaga di beberapa perusahaan pertambangan.
Hilirisasi adalah proses pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi yang lebih bernilai tinggi. Dalam konteks hilirisasi ini mengacu pada bahan tembaga. Dari perspektif ekonomi dan kebijakan publik, hilirisasi tembaga bahkan berkaitan erat dengan upaya peningkatan daya saing industri nasional dan penciptaan lapangan kerja.
Untuk mengoptimalkan strategi hilirisasi tembaga ini, maka dibangunkan smelter produk katoda tembaga oleh perusahaan-perusahaan tambang. Alhasil nantinya, smelter ini mampu memproduksi produk berupa katoda tembaga dalam jumlah ratusan ribu ton per tahunnya.
Contoh nyata adalah pembangunan smelter milik PT Freeport Indonesia di kawasan Gresik.
Baca Juga: 37 Saham Sektor Transportasi dan Logistik Beserta Prospek Bisnisnya
Tantangan Bisnis Sektor Tembaga
Setiap sektor bisnis tentu saja memiliki tantangannya tersendiri, tidak terkecuali pada sektor tembaga ini. Nah, berikut
-
Produksi Tembaga Dunia Tidak Tersebar Merata
Melansir dari IEA, diperkirakan pasar tembaga dapat menghadapi defisit pasokan sebesar 30% pada tahun 2035 kelak.
Sementara berdasarkan jurnal penelitian berjudul Pengembangan Hilirisasi Tembaga dan Perannya dalam Mendorong Industri Produk Akhir Nasional, pengembangan hilirisasi tembaga menghadapi tantangan dalam hal pasokan dan permintaan global yang bersifat struktural.
Memang keberlangsungan transisi energi, perkembangan teknologi AI, maupun infrastruktur kendaraan listrik benar-benar mendunia sehingga membutuhkan banyak tembaga. Namun, pasokan primer tembaga ini tidak tersebar merata.
Hanya beberapa negara saja yang memiliki pertambangan tembaga yakni Chili, Peru, China, dan Kongo. Jika negara-negara tersebut mengalami konflik politik, perubahan aturan tambang, atau bahkan demo pekerja, maka pasokan tembaga global bisa terganggu.
FYI, justru sudah banyak yang menyoroti para pekerja tambang di Kongo dari sisi kemanusiaan. Hal itu karena diperkirakan sekitar 40.000 anak di Kongo dipaksa bekerja di tambang tanpa alat pelindung diri.
-
Pembangunan Tambang Baru yang Lama
Sayangnya, meskipun tembaga menjadi produk pertambangan yang banyak dibutuhkan untuk kemajuan teknologi, tetapi proyek pembangunan tambang barunya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Hal ini mencakup eksplorasi, perizinan, hingga produksi sehingga suplainya pun mengalami ketimpangan.
Hal ini juga disampaikan pada jurnal penelitian berjudul Revitalisasi Industri Melalui Hilirisasi Tambang, menyatakan bahwa keterbatasan smelter turut menjadi tantangan dalam industri tambang.
Keterbatasan ini disebabkan oleh regulasi, biaya modal yang tinggi, dan kurangnya keragaman industri hilir yang ada.
-
Belum Ada Upaya Pengendalian Dampak Lingkungan dari Aktivitas Pertambangan
Pembangunan smelter tentu saja menyebabkan pencemaran lingkungan seperti gas SO² dari proses pengolahan konsentrat, dan unsur beracun dari distribusi spasial pada tanah sekitar smelter.
Kondisi tersebut berdampak pada pencemaran udara dan tentu saja mempengaruhi kesehatan warga sekitar lokasi smelter. Pada jurnal penelitian berjudul Revitalisasi Industri Melalui Hilirisasi Tambang, risiko tersebut dapat diatasi jika pemerintah dan perusahaan terkait memiliki pendekatan secara holistik.
Pendekatan tersebut meliputi pengukuran atau studi terkait pergerakan polutan dari tumpukan tempat penyimpanan limbah, dampaknya terhadap kontaminasi tanah, air dan lingkungan, serta pengaruhnya terhadap vegetasi, mikroflora tanah, parameter kimia dan biologi tanah.
Selain itu, juga harus ada peraturan yang ketat dan efektif guna memastikan bahwa perusahaan-perusahaan tambang dan fasilitas pemurnian tembaga mengimplementasikan kontrol yang cermat dan menyampaikan laporan secara teratur terkait emisi gas beracun.
Baca Juga: 5 Saham Kendaraan Listrik di BEI dan Masa Depannya di Indonesia
Apakah Tembaga Bisa Mengalahkan Emas dan Perak?
Banyak orang bertanya-tanya, apakah eksistensi tembaga bisa mengalahkan emas maupun perak dalam aspek bisnis? Jawabannya bisa, tetapi ketiga produk tambang tersebut berada dalam konteks yang berbeda.
- Tembaga adalah komoditas industri
- Emas adalah komoditas logam mulia yang dikenal sebagai safe haven.
- Perak adalah komoditas logam mulia sekaligus industri.
Saat ekonomi global tumbuh kuat, tembaga berpotensi mengalami kenaikan harga secara agresif karena permintaan industri meningkat. Terlebih karena keterkaitannya pada eksistensi kendaraan listrik, AI, hingga transisi energi global, maka tembaga lebih disorot.
Sebaliknya, ketika pasar dilanda ketidakpastian geopolitik, inflasi tinggi, atau krisis keuangan, emas biasanya lebih unggul.
Lalu perak yang mana memiliki karakter campuran antara logam mulia dan logam industri, sehingga harganya justru lebih mahal daripada tembaga. Memang perak mampu menjadi konduktor listrik yakni sekitar 7% lebih konduktif dari tembaga. Namun, tembaga lebih terjangkau harganya daripada perak.
Melansir dari IDN Financials, muncul optimisme yang memproyeksikan bahwa tembaga akan lebih unggul daripada emas dan perak. Optimisme ini didorong oleh defisit pasokan struktural di industri pertambangan yang bertabrakan dengan tingginya permintaan jangka panjang untuk elektrifikasi global, transisi energi hijau, dan investasi infrastruktur.
Daftar Saham Sektor Tembaga di BEI
Ketika berinvestasi saham sektor tembaga, kamu tidak berarti membeli tembaga secara langsung, melainkan membeli saham perusahaan yang nilai kinerjanya sangat dipengaruhi oleh:
- harga tembaga global,
- volume produksi,
- cadangan tambang,
- biaya produksi,
- kebijakan ekspor maupun hilirisasi.
Jadi, ketika harga tembaga naik, emiten yang memproduksi tembaga umumnya berpotensi menikmati kenaikan margin laba, meskipun bergantung pada efisiensi operasional masing-masing perusahaan. Berikut saham sektor tembaga di BEI:
- Amman Mineral Internasional Tbk. - AMMN
- Merdeka Copper Gold Tbk. - MDKA
- Aneka Tambang Tbk. - ANTM
- Bumi Resources Minerals Tbk. - BRMS
- Tembaga Mulia Semanan Tbk. - TBMS
*Klik kode saham untuk tahu harga saham terbarunya.
Perlu dipahami bahwa emiten sektor tembaga memang tidak hanya memproduksi satu jenis produk pertambangan saja.
Baca Juga: 7 Perusahaan Saham Emas yang Terdaftar di Bursa, Simak Apa Saja!
Mau Berinvestasi Pada Saham Sektor Tembaga?
Nah, itulah penjelasan tentang apa saja saham sektor tembaga beserta peluang dan tantangannya di Indonesia. Saham tembaga di bursa menjadi semakin menarik karena dunia sedang bergerak menuju elektrifikasi dan transisi energi.
Kamu bisa berinvestasi pada emiten-emiten saham sektor tembaga di atas melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
S&P Global. (2026). Copper in the Age of AI: Challenges of Electrification.
Visual Capitalist. (2021). Visualizing the Copper Intensity of Renewable Energy.
IEA. Mineral Requirements for Clean Energy Transitions.
IEA. Overview of Outlook for Key Minerals.
IDN Financials. (2026). CEO Vizsla: Harga Tembaga Akan Kalahkan Emas dan Perak.
Gobel, A. P., Addavari, M. R., Faatihah, M. D., & Sumarsyah, O. M. (2026). Pengembangan Hilirisasi Tembaga dan Perannya Dalam Mendorong Industri Produk Akhir Nasion. Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(1), 1-11.
Chasmir, D., & Iskandar, L. (2023). Revitalisasi Industri Melalui Hilirisasi Tembaga. Ancaman Kelaparan Masih Terjadi, Akankah Pembangunan Ketahanan Pangan Berhasil?, 8. %20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)