Ada satu lagi indeks saham yang cangkupannya secara global, yakni MSCI. MSCI tentu saja berbeda dengan indeks IDX30, IDX80, hingga LQ45 yang mana berada di bawah kendali Bursa Efek Indonesia.
Dalam dunia pasar modal global, indeks MSCI pasti menjadi istilah yang paling sering disebut, terutama ketika membahas arus dana asing, rebalancing indeks, atau pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
Pada 28 Januari 2026 kemarin, pihak MSCI mengumumkan bahwa mereka akan menunda rebalancing saham-saham Indonesia. Keputusan ini berkaitan dengan kekhawatiran MSCI terhadap aksesibilitas pasar, data free float, dan transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.
Padahal pengumuman tersebut adalah tentang aksi menunda, bukan membatalkan rebalancing secara permanen. Namun nyatanya, pengumuman tersebut menjadi pemicu melemahnya IHSG secara tajam hingga terjadi trading halt pada 28 Januari 2026.
Memangnya, seberapa penting eksistensi indeks MSCI ini bagi keberlangsungan saham-saham di Indonesia, atau bahkan secara global? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Indeks MSCI
Indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) merupakan indeks saham yang disusun oleh lembaga riset bernama MSCI itu sendiri. Lembaga global ini memang sudah terkenal di seluruh dunia dalam menyediakan indeks, data, dan alat analisis pasar keuangan.
MSCI didirikan pada tahun 1969 dan awalnya merupakan bagian dari Morgan Stanley. Seiring waktu, MSCI berkembang menjadi perusahaan independen yang fokus menyediakan indeks pasar global dan data investasi. Saat ini, indeks MSCI digunakan oleh investor yang mengelola triliunan dolar aset di seluruh dunia.
Indeks ini dirancang untuk mengukur kinerja pasar saham di berbagai negara dan kawasan, serta menjadi acuan (benchmark) bagi investor global dalam mengambil keputusan investasi.
MSCI menerbitkan indeks-indeks yang mencakup pasar di Asia, termasuk Indonesia secara spesifik. Namun ingat, MSCI bukan lembaga di bawah BEI, tetapi sebagai penyedia indeks global yang independen.
Jika di Asia, MSCI menerbitkan indeks saham bernama MSCI The Emerging Market Index dari berbagai negara Asia. Nah, MSCI juga turut menerbitkan indeks saham khusus Indonesia yakni MSCI Indonesia Index dan MSCI Indonesia IMI Index.
MSCI Indonesia Index berisikan saham-saham besar dan menengah di pasar Indonesia. Sementara MSCI Indonesia IMI Index justru isinya lebih luas, karena mencakup saham-saham besar, menengah, dan kecil yang ada di pasar Indonesia.
Pihak MSCI biasanya akan melakukan rebalancing alias proses peninjauan ulang komposisi indeks secara berkala. Rebalancing indeks MSCI ini dapat dilakukan secara triwulan dan semi-tahunan. Dalam proses rebalancing indeks MSCI, umumnya dapat:
- Menambahkan saham baru
- Menghapus saham tertentu
- Mengubah bobot saham atau negara
FYI, MSCI Indonesia Index seringkali berpengaruh langsung terhadap IHSG. Itulah kenapa, saat MSCI mengumumkan penundaan rebalancing kemarin, IHSG langsung anjlok hingga trading halt.
Biasanya, indeks MSCI ini digunakan oleh:
- Manajer investasi global
- Dana pensiun
- Sovereign wealth fund/dana kekayaan negara (misal Danantara)
- Reksa dana indeks dan ETF
- Investor institusi internasional
Baca Juga: Trading Halt - Pengertian, Penyebab, dan Rekam Jejak Sejarahnya di Indonesia
Fungsi dan Tujuan Indeks MSCI
Secara umum, indeks MSCI memiliki beberapa fungsi utama:
1. Sebagai Patokan Investasi Global
Indeks MSCI digunakan sebagai patokan untuk mengukur kinerja portofolio investasi. Investor dapat membandingkan performa portofolionya dengan indeks MSCI yang relevan.
2. Dasar Produk Investasi Pasif
Banyak produk investasi seperti ETF dan reksa dana indeks dibuat dengan tujuan meniru komposisi indeks MSCI. Artinya, jika suatu saham masuk MSCI, produk-produk ini akan membeli saham tersebut secara otomatis.
3. Alat Alokasi Aset Global
Investor institusi menggunakan indeks MSCI untuk menentukan porsi investasi di negara maju, emerging markets, atau sektor tertentu.
4. Indikator Daya Tarik Pasar
Masuknya suatu negara atau saham ke indeks MSCI sering dianggap sebagai indikator bahwa pasar tersebut cukup likuid, transparan, dan layak bagi investor global.
Jenis-Jenis Indeks MSCI
MSCI memiliki ratusan indeks, tetapi secara garis besar terbagi dalam beberapa kategori utama:
1. MSCI Developed Markets
Mewakili negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis. Contohnya adalah MSCI World Index.
2. MSCI Emerging Markets
Mewakili negara berkembang dengan pasar modal yang sedang tumbuh, seperti China, India, Brasil, Korea Selatan, dan Indonesia. Indeks ini sangat populer di kalangan investor global.
3. MSCI Frontier Markets
Berisi negara dengan pasar saham yang masih relatif kecil dan berkembang, tetap memiliki potensi pertumbuhan.
4. MSCI Regional & Thematic Index
Seperti MSCI Asia ex-Japan, MSCI ASEAN, atau indeks berbasis sektor dan tema tertentu.
Eksistensi Indeks MSCI di Indonesia
Tidak semua saham bisa masuk ke indeks MSCI. MSCI memiliki kriteria yang cukup ketat, antara lain:
- Kapitalisasi pasar yang memadai
- Likuiditas tinggi (sering diperdagangkan)
- Free float yang cukup
- Aksesibilitas bagi investor asing
- Kepatuhan terhadap standar pasar modal
Itulah mengapa, saham yang masuk MSCI umumnya adalah saham-saham unggulan di bursa. MSCI memiliki beberapa indeks yang secara khusus mencerminkan pasar saham Indonesia, antara lain:
1. MSCI Indonesia Index
Mencerminkan kinerja saham-saham Indonesia yang memenuhi kriteria MSCI dan memiliki kapitalisasi besar serta likuiditas tinggi. Berdasarkan laporan MSCI pada Desember 2025, berikut 10 saham yang masuk ke daftar MSCI Indonesia Index:
- Bank Central Asia - BBCA
- Bank Rakyat Indonesia - BBRI
- Bank Mandiri - BMRI
- Telkom Indonesia - TLKM
- Astra International - ASII
- Dian Swastatika Sentosa - DSSA
- Amman Mineral Intl - AMMN
- Barito Renewables Energy - BREN
- Barito Pacific - BRPT
- Bank Negara Indonesia - BBNI
*untuk tahu harga sahamnya, kamu bisa langsung klik kode saham tersebut.
2. MSCI Indonesia Large Cap
Berisi saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) di Indonesia. Berdasarkan laporan MSCI pada Desember 2025, berikut 10 saham yang masuk ke daftar MSCI Indonesia Large Cap:
- Bank Central Asia - BBCA
- Bank Rakyat Indonesia - BBRI
- Bank Mandiri - BMRI
- Telkom Indonesia - TLKM
- Astra International - ASII
- Dian Swastatika Sentosa - DSSA
- Amman Mineral Intl - AMMN
- Barito Renewables Energy - BREN
- Barito Pacific - BRPT
- Chandra Asri Pacific - TPIA
*untuk tahu harga sahamnya, kamu bisa langsung klik kode saham tersebut.
3. MSCI Indonesia Mid Cap
Fokus pada saham kapitalisasi menengah. Indeks ini mencakup sekitar 28% dari kapitalisasi pasar Indonesia yang disesuaikan dengan free float. Berdasarkan laporan MSCI pada Desember 2025, berikut 10 saham yang masuk ke daftar MSCI Indonesia Mid Cap:
- Bank Negara Indonesia - BBNI
- Bumi Resources Minerals - BRMS
- Goto Gojek Tokopedia - GOTO
- MD Entertainment - FILM
- United Tractors - UNTR
- Bumi Resources - BUMI
- Sumber Alfaria Trijaya - AMRT
- Charoen Pokphand Indo - CPIN
- Petrosea - PTRO
- Indofood Sukses Makmur - INDF
*untuk tahu harga sahamnya, kamu bisa langsung klik kode saham tersebut.
4. MSCI Indonesia Small Cap
Berisi saham-saham dengan kapitalisasi lebih kecil namun tetap memenuhi standar MSCI. Berisikan 56 saham atau sekitar 14% dari keseluruhan pasar saham Indonesia. Berdasarkan laporan MSCI pada Desember 2025, berikut 10 saham yang masuk ke daftar MSCI Indonesia Small Cap:
- MD Entertainment - FILM
- Bumi Resources - BUMI
- Petrosea - PTRO
- Aneka Tambang - ANTM
- Energi Mega Persada - ENRG
- Kalbe Farma - KLBF
- Merdeka Copper Gold - MDKA
- Indah Kiat Pulp & Paper - INKP
- XLSmart Telecom - EXCL
- Perusahaan Gas Negara - PGAS
*untuk tahu harga sahamnya, kamu bisa langsung klik kode saham tersebut.
Baca Juga: Rebalancing Portofolio di Awal Tahun Untuk Pemula, Perhatikan Hal-Hal Ini!
Minat Berinvestasi Saham?
Nah, dapat disimpulkan bahwa indeks MSCI adalah indeks saham global yang berperan penting dalam dunia investasi internasional. Indeks ini tidak hanya mencerminkan kinerja pasar saham suatu negara, tetapi juga memengaruhi arus dana global, volatilitas pasar, dan persepsi investor terhadap suatu pasar.
Walau saham MSCI sering dianggap sebagai saham berkualitas, masuk MSCI bukan jaminan keuntungan. Ingat, sebagai investor kamu harus tetap memperhatikan fundamental perusahaan, valuasi saham, kondisi makroekonomi, dan tujuan investasi pribadi. Indeks MSCI sebaiknya dijadikan referensi, bukan satu-satunya dasar keputusan investasi.
Meskipun demikian, kamu bisa langsung berinvestasi pada saham-saham yang masuk daftar indeks MSCI seperti BBCA, TLKM, ASII, dan lainnya pada aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)