KEUANGAN
 

Bank Syariah Adalah: Berikut Prinsip dan Daftar Perusahaannya

by William Fernandes - 02 Jul 2024 - Reviewed by Rifdah Fatin H.

 

Bank Syariah saat ini sudah mulai umum di telinga masyarakat. Selain itu, ini adalah kabar baik bagi masyarakat yang kini memilih alternatif pilihan dari bank konvensional.

Tapi pertanyaannya, apa perbedaan bank syariah vs bank konvensional? Nah simak artikel berikut ini ya.

 

Apa Itu Bank Syariah

Bank Syariah atau Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kini hadir sebagai alternatif bagi masyarakat selain bank konvensional.

Dibandingkan dengan bank konvensional, Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) menerapkan prinsip-prinsip syariah. Ini berarti semua aturan dan kebijakan diatur di bawah prinsip dan hukum Islami.

Pada tahun 1991, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bekerja sama dengan pemerintah dan pengusaha Muslim untuk mendirikan bank syariah di Indonesia.

Salah satu Bank Muamalat Indonesia (BMI) menjadi pelopor bank syariah di Indonesia, yang mulai beroperasi pada 1 Mei 1992.

Dewan Syariah Nasional terus mengembangkan produk perbankan syariah dan melihat potensi perbankan syariah yang sangat bagus dan bisa diterapkan di Indonesia.

Karena semakin banyaknya produk perbankan syariah yang ditawarkan,, kita perlu mengetahui tentang bank syariah dan perbedaannya.

Menurut Wikipedia, Bank merupakan lembaga keuangan yang umumnya didirikan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau banknote.

Di Indonesia, ada dua sistem operasional dalam perbankan, yakni bank konvensional dan bank syariah. Apa perbedaannya?

 

Baca juga: 10 Saham Syariah Blue Chip

 

Perbankan Konvensional vs Perbankan Syariah

Secara definisi bank konvensional adalah bank yang menjalankan aktivitasnya secara konvensional yang mengacu pada kesepakatan nasional hingga internasional, serta berlandaskan hukum negara.

Sedangkan bank syariah adalah bank yang menjalankan aktivitas berdasarkan prinsip hukum Islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dilansir dari Bank Mega Syariah, berikut perbedaan perbankan konvensional dan syariah

 

  1. Prinsip Bank Konvensional dan Bank Syariah

Perbedaan utama antara bank konvensional dan bank syariah terletak pada prinsip dan pelaksanaannya. Bank konvensional mengacu pada kesepakatan nasional dan internasional serta berlandaskan hukum formil negara, sedangkan bank syariah mengacu pada prinsip syariah yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Aktivitas bank syariah didasarkan pada prinsip jual beli dan bagi hasil.

 

  1. Tujuan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Bank Konvensional memiliki tujuan untuk mencapai keuntungan dengan sistem bebas nilai atau sesuai dengan prinsip yang dianut oleh masyarakat umum. Sementara itu, Bank Syariah tidak hanya fokus pada keuntungan dan profit, namun juga harus sesuai dengan prinsip syariah. Produk perbankan syariah didasarkan pada kerelaan masing-masing pihak tanpa adanya unsur paksaan, serta tolong-menolong antar sesama nasabah.

 

  1. Sistem Operasional Bank Konvensional dan Bank Syariah

Sistem operasional yang digunakan oleh bank konvensional dan bank syariah berbeda. Bank konvensional menggunakan suku bunga dan perjanjian umum berdasarkan aturan nasional, sedangkan bank syariah menggunakan sistem bagi hasil atau nisbah. Keuntungan yang diterima oleh nasabah pada bank syariah bergantung pada keuntungan yang diterima oleh bank, sehingga semakin tinggi keuntungan bank, maka semakin tinggi juga bagi hasil yang diterima nasabah.

 

  1. Pengawasan Kegiatan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Undang-Undang No 10 Tahun 1998 mengenai perbankan mengatur pengawasan kegiatan bank konvensional dan bank syariah. Pengawasan kegiatan bank konvensional dilakukan oleh Dewan Komisaris, sedangkan pengawasan kegiatan bank syariah dilakukan oleh berbagai lembaga seperti Dewan Syariah Nasional, Dewan Pengawas Syariah, dan Dewan Komisaris Bank.

 

  1. Hubungan antara Nasabah Bank Konvensional dan Bank Syariah

Perbedaan hubungan nasabah dan bank terletak pada bank konvensional yang memiliki hubungan sebagai debitur dan kreditur. Sedangkan pada bank syariah, terdapat empat jenis hubungan nasabah dan bank, yakni penjual-pembeli, kemitraan, sewa, dan penyewa.

 

  1. Pengelolaan Dana Bank Konvensional dan Bank Syariah

Jika dibandingkan, terdapat perbedaan signifikan antara pengelolaan dana di bank konvensional dan bank syariah. Pada bank konvensional, pengelolaan dana dapat dilakukan pada seluruh lini bisnis yang menguntungkan, dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku.

Namun pada bank syariah, pengelolaan dana didasarkan pada aturan Islam. Ini berarti bahwa bank syariah harus memastikan pengelolaan dana tidak bertentangan dengan nilai atau aturan Islam. Sehingga, bank syariah hanya dapat berinvestasi pada bisnis yang sesuai dengan prinsip syariah dan yang pastinya halal.

 

Fungsi Bank Syariah 

UU Perbankan Syariah mewajibkan bank untuk menjalankan fungsi sosial sebagai lembaga baitul mal. Artinya bank menerima dana dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai keinginan pemberi wakaf (wakif). 

Kegiatan bisnis Bank Umum Syariah mencakup beberapa hal yaitu sebagai berikut ini:

  1. Menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang setara dengan itu berdasarkan Akad wadiah atau Akad lain yang sesuai dengan Prinsip Syariah.
  2. Menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang disetarakan dengan itu berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lainnya yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
  3. Menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudharabah, murabahah, salam, istishna , musyarakah, qardh, atau Akad lainnya yang sesuai dengan Prinsip Syariah.
  4. Menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
  5. Melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah atau Akad lainnya yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.

 

Daftar Saham Bank Syariah Yang Terdaftar di BEI

Buat kamu yang tertarik untuk membeli saham Bank Syariah, berikut ini adalah daftar Saham Bank Syariah yang terdaftar di BEI:

  1. PT Bank Aladin Syariah Tbk - BANK
  2. PT Bank Syariah Indonesia Tbk - BRIS
  3. PT Bank BTPN Syariah Tbk - BTPS
  4. PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk - PNBS

 

Agar memudahkan kamu untuk berinvestasi saham, kamu bisa mulai investasi di platform khusus untuk investasi, yakni InvestasiKu!

InvestasiKu adalah platform investasi online, yang punya banyak produk dan fitur unggul, baik untuk investor pemula maupun profesional. Saat ini, InvestasiKu menyediakan produk saham, reksadana, obligasi, dan rencana.

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.care@investasiku.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

© 2024 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK KOMINFO