Akhir-akhir ini, kamu pasti sering membaca berita soal kenaikan suku bunga yang tentunya berpengaruh pada berbagai aktivitas ekonomi negara. Per 9 Juni 2026, pihak Bank Indonesia selaku bank sentral di negara ini resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%.
Ketika suku bunga naik, harga saham justru sering kali mengalami tekanan. Sebaliknya, saat suku bunga turun, pasar saham cenderung mendapatkan sentimen positif. Bagaimana bisa? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Suku Bunga?
Suku bunga adalah biaya yang harus dibayarkan oleh pihak yang meminjam uang atau imbal hasil yang diterima oleh pihak yang menyimpan uang. Singkatnya, suku bunga adalah biaya pinjaman untuk suatu dana pinjaman.
Bisa dibilang, suku bunga merupakan harga dari uang pinjaman.
Misalnya, ketika kamu mengajukan pinjaman sebesar Rp100 juta ke bank, maka bank akan mengenakan bunga tertentu sebagai kompensasi atas penggunaan dana tersebut.
Sebaliknya, jika kamu menyimpan uang dalam bentuk deposito, bank akan memberikan bunga sebagai imbalan karena telah menggunakan dana yang kamu simpan.
Melansir dari Bank Indonesia, suku bunga alias BI-rate merupakan suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) dan menjadi patokan oleh lembaga keuangan di seluruh Indonesia dalam menentukan besarnya suku bunga kepada nasabah, termasuk suku bunga pinjaman dan tabungan.
Saat pihak BI mengumumkan suku bunga naik, maka seluruh lembaga perbankan diharapkan juga menaikkan suku bunga perbankan, pun sebaliknya.
Dalam konteks peminjaman uang, suku bunga adalah biaya yang harus dibayarkan oleh pihak peminjam kepada pemberi pinjaman dalam jangka waktu tertentu.
Sederhananya, jika suku bunga tinggi → pinjaman mahal, konsumsi dan investasi cenderung turun. Sementara jika suku bunga rendah → pinjaman murah, konsumsi dan investasi meningkat.
Melansir dari artikel jurnal Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Suku Bunga, dan Pajak Terhadap Investasi Asing Langsung, menggarisbawahi bahwa suku bunga menjadi faktor penting dalam keputusan pihak asing untuk berinvestasi di negara ini atau tidak.
Saat terjadi peningkatan suku bunga, justru mengakibatkan investasi akan mengalami penurunan. Pun sebaliknya, jika suku bunga turun maka investasi akan mengalami peningkatan.
Tingkat suku bunga berpengaruh positif terhadap investasi asing karena pasti investor asing tersebut akan menanamkan modal di negara-negara yang membayar pengembalian lebih tinggi dari modal.
Ketika suku bunga naik, maka suku bunga deposito dan kredit yang ada di lembaga perbankan juga ikut naik. Pun sebaliknya, saat suku bunga turun, maka suku bunga deposito dan kredit cenderung turun.
Kenyataannya di lapangan, saat suku bunga turun, maka masyarakat akan banyak yang meminjam uang di bank baik khususnya untuk pengembangan usaha. Sebaliknya, kalau suku bunga naik, maka masyarakat akan mikir-mikir untuk meminjam uang di bank.
Baca Juga: Negara dengan Peringkat Kredit Tertinggi dan Dampaknya Bagi Investor Obligasi
Mengapa Suku Bunga Bisa Naik dan Turun?
Bank sentral seperti Bank Indonesia dapat menaikkan atau menurunkan suku bunga sesuai kondisi ekonomi. Umumnya, kenaikan dan penurunan suku bunga itu tidak serta-merta terjadi begitu saja, tetapi ada banyak faktor penyebabnya.
FYI, setelah Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan, masing-masing bank juga akan menyesuaikan suku bunga simpanan dan pinjaman berdasarkan kondisi bisnis mereka.
Oleh karena itu, faktor yang memengaruhi suku bunga dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor makroekonomi dan faktor internal perbankan. Namun kali ini, kita akan bahas faktor penyebab suku bunga naik dan turun dari sisi makroekonomi:
1. Tingkat Inflasi
Inflasi menjadi faktor utama dalam penentuan suku bunga. Ketika harga barang dan jasa naik terlalu cepat, daya beli masyarakat akan menurun. Untuk mengendalikan kondisi tersebut, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga agar jumlah uang yang beredar di masyarakat berkurang.
Melansir dari BPS, pada Februari 2026 inflasi di Indonesia berada di tingkat 4,76%.
Kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal sehingga masyarakat dan perusahaan cenderung mengurangi konsumsi maupun investasi. Dengan demikian, tekanan inflasi dapat mereda.
Sebaliknya, ketika inflasi rendah atau berada di bawah target, bank sentral dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi.
Contohnya pada tahun 2022-2023, Indonesia sempat terjadi inflasi sebesar 5,51% akibat kenaikan harga energi dan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Menurut Kumparan Bisnis, penyesuaian harga BBM menjadi salah satu penyumbang inflasi tahun 2022 karena turut mendorong lonjakan harga barang lainnya.
2. Pertumbuhan Ekonomi
Suku bunga juga digunakan sebagai instrumen untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi.
Ketika ekonomi tumbuh terlalu lambat, bank sentral dapat menurunkan suku bunga agar masyarakat dan perusahaan lebih mudah memperoleh pinjaman. Kredit yang lebih murah biasanya mendorong konsumsi rumah tangga, ekspansi bisnis, dan investasi.
Sebaliknya, apabila ekonomi tumbuh terlalu cepat hingga berpotensi memicu inflasi tinggi, bank sentral dapat menaikkan suku bunga untuk memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.
Misalnya saat pandemi COVID-19 tahun 2020 silam, banyak negara memangkas suku bunga ke level rendah untuk membantu pemulihan ekonomi. Langkah tersebut dilakukan agar dunia usaha tetap mendapatkan akses pendanaan dan masyarakat terdorong untuk berbelanja.
Melansir dari Kontan, bank sentral AS yakni Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 50 bps sebagai langkah darurat untuk melindungi ekonomi AS dari dampak Covid-19.
Pun demikian yang dilakukan oleh Bank Sentral Inggris yang turut menurunkan suku bunga menjadi 0,25% saat terjadi pandemi Covid-19 silam (Sumber: Ekon)
3. Nilai Tukar Rupiah
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS, juga menjadi pertimbangan penting dalam penentuan suku bunga.
Ketika rupiah melemah terlalu tajam, bank sentral dapat menaikkan suku bunga untuk menarik dana investor asing masuk ke pasar keuangan domestik. Masuknya modal asing biasanya meningkatkan permintaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar menjadi lebih stabil.
Sebaliknya, jika nilai tukar relatif stabil dan tekanan eksternal berkurang, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih besar.
Per 9 Juni 2026 ini, nilai tukar 1 dollar Amerika ($) adalah Rp18.164. Melansir dari UMM, melemahnya nilai tukar Rupiah ini justru menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi masyarakat Indonesia.
Dampak pelemahan rupiah ini menimbulkan efek berantai yang signifikan terhadap biaya hidup masyarakat, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada komoditas impor. .
4. Jumlah Uang yang Beredar
Jumlah uang yang beredar dalam perekonomian juga memengaruhi tingkat suku bunga.
Jika uang yang beredar terlalu banyak, konsumsi masyarakat dapat meningkat secara berlebihan dan memicu inflasi. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk mengurangi laju peredaran uang.
Sebaliknya, jika aktivitas ekonomi lesu dan jumlah uang yang beredar terlalu sedikit, suku bunga dapat diturunkan untuk mendorong masyarakat dan perusahaan lebih aktif menggunakan dananya.
Bayangkan perekonomian seperti sebuah bak mandi. Air di dalam bak adalah uang yang beredar. Sementara keran adalah kebijakan moneter bank sentral.
Jika air terlalu banyak hingga meluap artinya terjadi inflasi tinggi, sehingga keran akan diperkecil melalui kenaikan suku bunga. Sebaliknya, jika air terlalu sedikit alias ekonomi lesu, keran akan dibuka lebih besar melalui penurunan suku bunga.
5. Defisit Anggaran Pemerintah
Melansir dari jurnal ilmiah berjudul Analisis Dampak Defisit Anggaran Terhadap Inflasi, Jumlah Uang Beredar, dan Suku Bunga di Indonesia menuliskan bahwa defisit anggaran dapat menyebabkan adanya crowding out atau tingkat suku bunga yang naik.
Ketika pengeluaran pemerintah lebih besar daripada pendapatannya, pemerintah perlu mencari tambahan dana melalui penerbitan surat utang atau pinjaman.
Meningkatnya permintaan dana tersebut dapat mendorong kenaikan suku bunga, terutama jika pasokan dana di pasar relatif terbatas.
6. Neraca Perdagangan Internasional
Neraca perdagangan menunjukkan selisih antara nilai ekspor dan impor suatu negara.
Jika impor lebih besar daripada ekspor, negara mengalami defisit perdagangan dan membutuhkan tambahan pembiayaan dari luar negeri. Kebutuhan dana tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap modal sehingga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga.
Sebaliknya, negara yang memiliki surplus perdagangan cenderung memiliki tekanan yang lebih rendah terhadap suku bunga.
Negara yang bergantung pada impor energi atau bahan baku sering mengalami tekanan pada neraca perdagangannya ketika harga komoditas global meningkat.
Baca Juga: Capital Outflow - Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Contoh Negara yang Mengalaminya
Hubungan Suku Bunga dan Harga Saham
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan investor pemula adalah mengapa suku bunga memengaruhi harga saham? Secara umum, hubungan suku bunga dan harga saham justru bersifat berbanding terbalik.
Artinya:
- Ketika suku bunga naik, harga saham cenderung turun.
- Ketika suku bunga turun, harga saham cenderung naik.
Meskipun tidak selalu terjadi secara langsung, pola tersebut sering ditemukan dalam berbagai siklus ekonomi.
1. Investor Memiliki Alternatif Investasi yang Lebih Menarik
Saat suku bunga naik, instrumen investasi berisiko rendah seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik. Misalnya, ada 2 instrumen keuangan berupa:
- Deposito dengan penawaran bunga 3% per tahun.
- Saham berpotensi memberikan return 10%, tetapi berisiko tinggi.
Jika demikian, maka mungkin saja sebagian investor tetap memilih saham. Namun, jika deposito menawarkan bunga 7% atau bahkan 8% per tahun, sebagian investor pasti mempertimbangkan untuk memindahkan dana dari saham ke deposito atau obligasi.
Alhasil, permintaan terhadap saham berkurang sehingga harga saham berpotensi turun.
2. Biaya Pinjaman Perusahaan Menjadi Lebih Mahal
Tahukah kamu jika ada banyak cara yang dilakukan perusahaan dalam memperoleh modal, salah satunya pinjaman bank. Ketika suku bunga naik maka bunga kredit meningkat pula. Alhasil, beban keuangan perusahaan bisa bertambah dan laba malah berpotensi turun.
Berhubung laba menjadi salah satu faktor utama penilaian saham, maka ketika prospek keuntungan menurun tentu membuat investor kurang tertarik membeli saham perusahaan tersebut.
3. Konsumsi Masyarakat Menurun
Kenaikan suku bunga biasanya membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja. Hal-hal seperti kredit rumah, kredit kendaraan, dan pinjaman konsumtif lainnya menjadi lebih mahal.
Akibatnya pendapatan perusahaan menurun, sehingga harga saham bisa ikut tertekan.
4. Valuasi Saham Menjadi Lebih Rendah
Menurut teori keuangan yang dicetuskan oleh Irving Fisher melalui bukunya The Theory of Interest, mengemukakan konsep Discounted Cash Flow. Fisher menjelaskan bahwa nilai suatu aset ditentukan oleh kemampuan aset tersebut menghasilkan arus kas (cash flow) di masa depan yang didiskontokan ke nilai saat ini.
Ketika suku bunga meningkat, tingkat diskonto juga naik sehingga nilai sekarang dari keuntungan masa depan menjadi lebih kecil. Inilah salah satu alasan mengapa saham pertumbuhan (growth stocks) biasanya lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga.
Contoh Hubungan Suku Bunga dan Harga Saham
Misalkan terdapat dua pilihan investasi:
Pilihan A: Deposito
- Imbal hasil 7% per tahun.
- Risiko sangat rendah.
Pilihan B: Saham
- Potensi return 10%–12% per tahun.
- Risiko fluktuasi harga cukup tinggi.
Jika selisih keuntungan antara saham dan deposito semakin kecil, sebagian investor akan memilih deposito karena lebih aman. Akibatnya, dana yang masuk ke pasar saham berkurang dan harga saham berpotensi turun.
Sebaliknya, jika suku bunga turun menjadi 3%, saham menjadi lebih menarik karena menawarkan potensi keuntungan yang jauh lebih tinggi dibanding deposito.
Baca Juga: Bagaimana Tren Global Berpengaruh Pada Reksadana?
Sektor Saham yang Diuntungkan Saat Suku Bunga Turun
Sebenarnya, tidak semua sektor saham merespons perubahan suku bunga dengan cara yang sama. Ketika suku bunga turun, biaya pinjaman menjadi lebih murah sehingga konsumsi masyarakat dan aktivitas bisnis cenderung meningkat. Kondisi ini biasanya memberikan keuntungan bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan atau kredit.
Berikut beberapa sektor yang umumnya diuntungkan saat suku bunga turun:
Properti dan Real Estate
Sektor properti merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Ketika suku bunga turun, bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) biasanya ikut menurun. Cicilan rumah menjadi lebih terjangkau sehingga masyarakat yang sebelumnya menunda pembelian rumah mulai masuk ke pasar properti.
Dari sisi developer, biaya pinjaman untuk pembangunan proyek juga menjadi lebih rendah. Hal ini memungkinkan perusahaan properti melakukan ekspansi dengan biaya pendanaan yang lebih murah.
Alhasil, permintaan rumah dan apartemen meningkat sejalan dengan penjualan properti. Jika sudah demikian, maka arus kas emiten sektor properti menjadi lebih baik. Tidak heran apabila saham-saham properti sering menjadi salah satu sektor yang pertama kali mengalami penguatan ketika pasar memperkirakan adanya penurunan suku bunga.
Namun saat ini, suku bunga justru naik hingga angka 5,50% sehingga saham sektor properti cenderung bergerak terbatas. Hal ini disebabkan oleh kenaikan bunga KPR yang dapat mengurangi permintaan rumah serta meningkatkan biaya pendanaan bagi pengembang properti.
Baca Juga: 55 Saham Sektor Properti dari Papan Utama dan Pengembangan, Beserta Peluang Bisnisnya!
Perbankan
Sekilas, penurunan suku bunga terlihat kurang menguntungkan bagi bank karena margin bunga atau Net Interest Margin (NIM) berpotensi menyusut. Namun, dalam praktiknya penurunan suku bunga sering kali justru meningkatkan permintaan kredit secara signifikan.
Ketika bunga kredit lebih rendah, masyarakat lebih tertarik mengambil beberapa produk seperti KPR, kredit kendaraan bermotor, kredit usaha, dan lainnya. Sementara perusahaan lebih berani mengambil pinjaman dana untuk memperluas bisnisnya.
Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut dapat meningkatkan pendapatan bank dalam jangka panjang, terutama jika kualitas kredit tetap terjaga. Itulah kenapa, saham perbankan besar sering mendapat sentimen positif ketika tren suku bunga mulai menurun.
Baca Juga: 11+ Saham Perbankan dan Performanya Pada Tahun 2026
Konstruksi dan Infrastruktur
Proyek konstruksi dan infrastruktur umumnya membutuhkan modal yang sangat besar serta pembiayaan jangka panjang.
Ketika suku bunga turun, biaya pendanaan proyek menjadi lebih murah sehingga perusahaan dapat memperoleh pinjaman dengan beban bunga yang lebih rendah. Selain itu, pemerintah maupun swasta biasanya lebih agresif menjalankan proyek pembangunan ketika biaya pendanaan sedang murah.
Baca Juga: 11 Saham Sektor Konstruksi yang Melantai di Bursa, Apa Saja?
Consumer Cyclical (Barang Konsumsi Non-Primer)
Sektor consumer cyclical mencakup perusahaan yang menjual barang dan jasa yang pembeliannya dapat ditunda oleh konsumen. Mulai dari furnitur, elektronik, peralatan rumah tangga, produk gaya hidup, dan lainnya.
Ketika suku bunga turun, masyarakat cenderung memiliki lebih banyak dana untuk dibelanjakan karena biaya cicilan dan pinjaman berkurang. Peningkatan daya beli tersebut dapat mendorong penjualan perusahaan-perusahaan di sektor ini sehingga pendapatan dan laba berpotensi meningkat.
Baca Juga: Cyclical Stock - Pengertian, Karakteristik, Emiten, dan Perbedaannya dengan Saham Defensif
Mau Berinvestasi Pada Saham?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu suku bunga dan hubungannya dengan harga saham. Hubungan suku bunga dan harga saham umumnya bersifat berlawanan arah. Ketika suku bunga naik, investor cenderung beralih ke instrumen yang lebih aman seperti deposito dan obligasi, sementara biaya pinjaman perusahaan meningkat sehingga harga saham berpotensi tertekan.
Singkatnya, suku bunga akan dinaikkan ketika terjadi hal-hal berikut:
- Inflasi terlalu tinggi.
- Konsumsi masyarakat meningkat terlalu cepat.
- Nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
- Ekonomi dianggap terlalu panas (overheating).
Sementara suku bunga akan diturunkan ketika terjadi hal-hal berikut:
- Pertumbuhan ekonomi melambat.
- Konsumsi masyarakat melemah.
- Dunia usaha membutuhkan stimulus.
- Risiko resesi meningkat.
Di tengah kenaikan suku bunga yang mencapai 5,50% ini, sebenarnya tidak ada jawaban mutlak terkait lebih baik investasi saham atau deposito. Semua keputusan itu bergantung pada tujuan investasi dan toleransi risiko masing-masing.
Jika kamu ingin berinvestasi pada saham sektor perbankan, properti, hingga infrastruktur, dapat melalui aplikasi, salah satunya InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Andriyani, I., & Armereo, C. (2016). Pengaruh suku bunga, inflasi, nilai buku terhadap harga saham perusahaan indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Orasi Bisnis, 15(1), 154659.
Bank Indonesia. (2026). BI-RATE Naik 25 Bps Menjadi 5,50%: Kebijakan Lanjutan Memperkuat Stabilitas Nilai Tukar Rupiah.
Dewi, P. K., & Triaryati, N. (2015). Pengaruh pertumbuhan ekonomi, suku bunga dan pajak terhadap investasi asing langsung (Doctoral dissertation, Udayana University).
MAULIDINA, F. I. (2017). Analisis Dampak Defisit Anggaran terhadap Inflasi, Jumlah Uang Beredar, dan Suku Bunga di Indonesia. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB, 5(2).
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2020). Bank Sentral Inggris Memangkas Suku Bunga Menjadi 0,25% Guna Meminimalisir Dampak Virus Corona.
Kurniawan, A., & Yuniati, T. (2019). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, dan Nilai Tukar terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan. Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen (JIRM), 8(1).
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi maupun ajakan membeli atau menjual instrumen keuangan tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)