Belakangan ini, istilah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) semakin sering muncul dalam pemberitaan ekonomi maupun pasar keuangan Indonesia. Melansir dari berita IDN Financials, pihak Bank Indonesia (BI) mencatatkan aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN bahkan mencapai sekitar US$9 miliar hingga 26 Juni 2026.
Kehadiran instrumen ini juga kerap dikaitkan dengan kebijakan suku bunga Bank Indonesia, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga masuknya aliran dana investor asing ke pasar keuangan domestik. Tak heran jika banyak masyarakat mulai penasaran tentang apa itu SRBI.
Simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu SRBI?
Mungkin istilah SRBI ini masih asing bagi kamu karena memang eksistensinya baru. Yap, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai diperkenalkan Bank Indonesia pada tahun 2023 sebagai surat berharga jangka pendek dalam mata uang Rupiah yang menggunakan underlying asset berupa surat berharga milik BI.
Melansir dari Wantimpres, Gubernur Bank Indonesia yakni Perry Warjiyo menyatakan bahwa tenor SRBI diterbitkan dengan jangka waktu 6 bulan, 9 bulan, dan maksimal 12 bulan. Sementara untuk besaran bunganya bersifat kompetitif.
Investor domestik maupun asing yang memenuhi ketentuan Bank Indonesia dapat memiliki SRBI. Namun, akses investor ritel pada pasar perdana tidak tersedia, sedangkan akses di pasar sekunder masih sangat terbatas dalam praktiknya.
Berbeda dengan SBN yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai APBN, keberadaan SRBI yang diterbitkan BI ini justru merupakan instrumen operasi moneter untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Penerbitan SRBI dilandasi oleh kebutuhan Bank Indonesia untuk memiliki instrumen yang lebih fleksibel dalam mengelola likuiditas di pasar uang. Instrumen ini diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 6 Tahun 2023 dan ketentuan pelaksanaannya.
Berbeda dengan SBN yang bertujuan memperoleh dana guna membiayai APBN, penerbitan SRBI sama sekali bukan untuk mencari pembiayaan pemerintah. Dana yang diperoleh melalui SRBI digunakan dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter Bank Indonesia.
Melansir dari One Shildt, SRBI ini menjadi terobosan baru setelah pandemi Covid-19 yang menyebabkan perubahan suku bunga US secara drastis. Alhasil, berdampak pada nilai Rupiah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal lain yang membedakan SRBI adalah adanya underlying asset berupa Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki Bank Indonesia. Underlying asset adalah aset dasar yang menjadi penopang atau jaminan penerbitan SRBI.
Proses alurnya adalah:
Pemerintah menerbitkan SBN ➡️ Bank Indonesia membeli sebagian SBN tersebut untuk dijadikan underlying asset ➡️ BI menerbitkan SRBI
Jadi, pihak Bank Indonesia yang memiliki SBN setidaknya lebih dari Rp1.000 triliun, akan dijadikan underlying pada penerbitan SRBI. Singkatnya, SRBI bukan SBN baru, tetapi surat berharga dari BI yang didukung oleh kepemilikan SBN yang sudah ada.
Dengan demikian, SRBI bukanlah surat utang baru pemerintah, melainkan sekuritas yang diterbitkan Bank Indonesia dengan menggunakan kepemilikan SBN sebagai aset dasar.
Selain itu, SRBI diterbitkan menggunakan mekanisme diskonto. Artinya, investor membeli SRBI pada harga di bawah nilai nominal, kemudian memperoleh keuntungan dari selisih harga tersebut saat jatuh tempo. Mekanisme ini berbeda dengan sebagian besar SBN yang memberikan pembayaran kupon secara berkala.
Mengapa Bank Indonesia Menerbitkan SRBI?
Untuk memahami kenapa SRBI ini diterbitkan oleh Bank Indonesia, kamu harus paham terlebih dahulu antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Pemerintah bertanggung jawab mengelola anggaran negara, sehingga menerbitkan SBN untuk memperoleh pembiayaan APBN. Sementara itu, Bank Indonesia memiliki mandat utama menjaga stabilitas nilai rupiah, baik dari sisi inflasi maupun nilai tukar.
Dalam menjalankan tugas tersebut, Bank Indonesia harus mampu mengendalikan jumlah likuiditas yang beredar di sistem keuangan. Ketika likuiditas terlalu berlebihan, tekanan terhadap inflasi maupun nilai tukar dapat meningkat. Sebaliknya, apabila likuiditas terlalu ketat, aktivitas ekonomi juga dapat terganggu.
Di sinilah SRBI berperan sebagai salah satu instrumen operasi moneter. Melalui penerbitan SRBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan likuiditas dari pasar sekaligus memberikan alternatif penempatan dana bagi pelaku pasar keuangan.
Selain itu, kehadiran SRBI juga bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor, memperdalam pasar uang Indonesia, serta memperkuat transmisi kebijakan suku bunga Bank Indonesia ke sektor keuangan.
Memang antara SBN dan SRBI itu sama-sama surat utang, tetapi fungsi utamanya berbeda. Jika SBN berorientasi pada pembiayaan negara, maka SRBI berorientasi pada pelaksanaan kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan.
Baca Juga: Rating Obligasi - Pengertian, Kode, Faktor Pengaruh, dan Lembaga Pemeringkatnya di Indonesia
Apakah Investor Ritel Bisa Membeli SRBI?
Investor ritel tidak bisa membeli SRBI secara langsung, karena memang mereka bukan target marketnya.
Berbeda dengan SBN Ritel yang memang dirancang agar dapat diakses oleh masyarakat umum, SRBI diterbitkan melalui mekanisme operasi moneter Bank Indonesia.
Jadi, pihak yang bisa membeli SRBI adalah bank umum, dealer utama (Primary Dealer), perusahaan efek tertentu, serta investor institusi.
Setelah bank atau investor institusi membeli SRBI ini di pasar perdana, barulah bisa diperjualbelikan kembali di pasar sekunder kepada investor ritek. Namun dalam praktiknya, akses investor ritel terhadap pembelian SRBI di pasar sekunder masih sangat terbatas.
Hal ini karena tujuan utama SRBI bukan untuk menghimpun dana dari masyarakat, melainkan sebagai instrumen yang digunakan Bank Indonesia dalam mengelola likuiditas di pasar keuangan. Oleh sebab itu, distribusi SRBI dilakukan melalui mekanisme yang berbeda dengan penjualan SBN Ritel.
Meski demikian, bukan berarti investor individu sama sekali tidak memiliki peluang untuk memiliki eksposur terhadap SRBI. Dalam praktiknya, investor ritel dapat memperoleh manfaat secara tidak langsung apabila berinvestasi pada produk reksa dana pasar uang yang dikelola oleh manajer investasi.
Lagipula, SRBI ini tidak bisa dibeli oleh investor ritel melalui aplikasi atau mitra distribusi resmi pemerintah. Jadi, jelas berbeda dengan SBN khususnya pada produk ORI atau sukuk ritel yang dapat dibeli oleh investor ritel melalui aplikasi.
Mau Berinvestasi Pada Obligasi?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu SRBI alias Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang mulai diperkenalkan Bank Indonesia pada tahun 2023 sebagai surat berharga jangka pendek dalam mata uang Rupiah yang menggunakan underlying asset berupa surat berharga milik BI.
Sayangnya, sebagai investor ritel kamu tidak bisa membeli SRBI ini di pasar perdana. Sekalipun keberadaan SRBI sudah ada di pasar sekunder, tetapi aksesnya masih terbatas. Eits, tenang saja karena masih ada pilihan surat utang seperti obligasi negara yang dijual kepada investor ritel.
Mulai dari obligasi negara seri FR0059, FR0065, ORI025T3, dan lainnya melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)