Ramadhan 2026 ini bukan hanya soal momentum spiritual dan sosial, tetapi juga menjadi periode konsumsi meningkat dan dinamika pasar yang menarik bagi para investor.
Yap, banyak pelaku pasar melihat “Ramadhan Effect”, di mana perilaku konsumsi dan penjualan perusahaan tertentu meningkat signifikan selama bulan puasa dan menjelang Lebaran. Hal ini tentu menjadi peluang untuk investasi di bulan Ramadhan, khususnya di saham Ramadhan dan sektor-sektor konsumtif lainnya.
Simak apa saja sektor saham yang sering ramai saat Ramadhan, faktor yang mendorong pergerakannya, serta apakah tren tersebut bersifat musiman atau berkelanjutan hingga selesai Ramadhan 2026 nantinya!
Apa itu “Investasi di Bulan Ramadhan”?
Investasi di Bulan Ramadhan merujuk pada strategi investasi yang memanfaatkan pola musiman pasar selama bulan Ramadhan. Saat Ramadhan, konsumsi masyarakat cenderung bergeser dan meningkat untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa, sahur, serta persiapan Lebaran.
Banyak juga yang menganggap saham-saham yang naik saat Bulan Ramadhan adalah saham musiman karena kinerjanya cenderung menguat atau melemah hanya saat periode itu saja. Secara historis, aktivitas pasar modal selama Ramadhan cenderung mengalami
- Volume transaksi yang lebih rendah dibanding bulan biasa
- Volatilitas relatif lebih terkendali
- Pergerakan indeks yang cenderung sideways hingga menguat perlahan
Fenomena ini sering dikaitkan dengan berkurangnya aktivitas spekulatif dan meningkatnya kehati-hatian investor. Banyak investor memanfaatkan bulan Ramadhan untuk mengurangi saham spekulatif, memperbesar porsi saham defensif dan konsumsi, maupun fokus pada fundamental daripada trading secara agresif.
Pada Ramadhan 2026 ini, kamu tidak harus fokus pada saham saja, tetapi juga instrumen lain seperti reksadana pasar uang maupun reksadana pendapatan tetap, obligasi, maupun saham syariah yang sejalan dengan prinsip Islami.
Baca Juga: Saham Defensif - Prospek Bisnis dan Tantangan dari 6 Sektor Saham yang Tahan Krisis
6 Sektor yang Berpeluang Tumbuh Saat Ramadhan 2026
1. Sektor Konsumer & Fast Moving Consumer Goods (FMCG)
Sektor konsumer yang mencakup barang kebutuhan pokok seperti pangan, minuman, dan produk rumah tangga tentu saja meningkat penjualannya saat Ramadhan. Masyarakat justru lebih memborong kebutuhan pokok selama Ramadhan khususnya untuk persiapan sahur, buka puasa, atau bahkan buka bersama.
Pola ini terlihat di banyak negara dengan populasi Muslim mayoritas, termasuk Indonesia. Berdasarkan jurnal penelitian berjudul Reaksi Ramadhan Effect Terhadap Saham Perusahaan Makanan dan Minuman di Indonesia oleh Arigawati D (2020) menunjukkan penjualan makanan dan minuman sering meningkat signifikan selama Ramadhan, yang bahkan peningkatannya hingga puluhan persen daripada bulan-bulan biasanya.
Meskipun umat muslim berpuasa selama Ramadhan, bukan berarti konsumsi terhadap makanan dan minuman menurun. Yap, kenyataannya malah industri konsumer dan FMCG ini mengalami pertumbuhan.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), industri FMCG tumbuh sekitar 6,49% hingga kuartal III 2025 kemarin. Angka tersebut lebih tinggi daripada tahun 2024 yang hanya berada di kisaran 5% saja. Terlebih lagi, saat ini masyarakat mudah bertransaksi segala kebutuhan konsumer melalui e-commerce.
Berikut contoh saham sektor konsumer dan FMCG. Klik kode saham untuk tahu harganya.
- Indofood Sukses Makmur Tbk. - INDF
- Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. - ICBP
- Unilever Indonesia Tbk. - UNVR
- Mayora Indah Tbk. - MYOR
- Ultrajaya Milk Industry Tbk. - ULTJ
Baca Juga: 7 Saham Sektor FMCG dan Karakteristiknya dari Dua Perspektif
2. Saham Poultry
Permintaan produk unggas terutama ayam potong dan telur cenderung meningkat signifikan selama Ramadhan hingga menjelang Lebaran. Coba kamu ingat-ingat lagi, pasti saat bulan puasa, konsumsi protein hewani meningkat untuk menu berbuka puasa, sahur, acara buka bersama, atau bahkan kebutuhan Lebaran.
Melansir dari Trobos Livestock, memasuki bulan Ramadhan, komoditas daging ayam dan telur menjadi perhatian pemerintah. Pihak BPS (Badan Pusat Statistik) menyebutkan memang rata-rata harga kedua komoditas tersebut mulai sedikit melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) pada Februari 2026 ini.
Maka dari itu, Badan Pangan Nasional (BAPANAS) bekerjasama dengan beberapa emiten sektor poultry seperti Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), dan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dalam menyediakan daging ayam beku.
Ditambah lagi, permintaan komoditas ini tidak hanya demi kebutuhan Ramadhan saja, tetapi juga Program Bergizi Gratis alias MBG. Alhasil, pihak peternak nasional senantiasa menjamin distribusi komoditas ayam potong dan telur akan tetap berjalan normal, meskipun nantinya harga akan mengalami fluktuasi.
Melalui Kanal24, pihak Ketua Umum Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi, menegaskan bahwa stok telur dan ayam ras pedaging masih cukup untuk kebutuhan MBG maupun masyarakat umum selama Ramadhan.
Terlebih lagi, ayam dipilih sebagai sumber protein yang lebih terjangkau daripada sapi maupun kambing. Pun demikian dengan hotel, restoran, katering, dan UMKM kuliner yang mengalami peningkatan pesanan selama Ramadhan.
Berikut contoh saham sektor poultry, klik kode saham untuk tahu harganya.
- Charoen Pokphand Indonesia Tbk. - CPIN
- Japfa Comfeed Indonesia Tbk. - JPFA
- Malindo Feedmill Tbk. - MAIN
Baca Juga: 41 Saham Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di BEI
3. Sektor Ritel
Selain kebutuhan pokok, permintaan terhadap produk non-pangan juga meningkat. Misalnya pakaian baru, peralatan rumah tangga, dan produk fashion yang pasti serba baru menjelang Lebaran.
Melansir dari MSN, sektor ritel justru menjadi perhatian para investor saat Tahun Baru Imlek dan Ramadhan yang kebetulan kedua momen ini berdekatan. Situasi tersebut dinilai berpotensi meningkat terutama saat bulan Maret atau April, dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Tidak hanya itu saja, emiten ritel juga didukung oleh sentimen makro ekonomi pada konsumsi rumah tangga yang tumbuh solid di kisaran 5,11% year-on-year (Q4 2025). Terlebih lagi, adanya penurunan suku bunga acuan BI di angka 4,75% turut mendorong masyarakat untuk berbelanja melalui fasilitas kredit.
*Perlu dicatat bahwa sepanjang tahun 2025 silam, terjadi penurunan suku bunga sebesar 125 bps menjadi 4,75%.
Itulah mengapa, periode Ramadhan menjelang Lebaran disebut-sebut sebagai momentum konsumsi musiman, karena memang orang-orang akan berbelanja lebih banyak daripada bulan biasa.
Hal ini dinyatakan pula dalam Ekonomi Bisnis, pihak Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperkirakan kinerja pasar ritel menjelang Ramadhan dan Lebaran 2026 akan menguat, seiring dengan peningkatan konsumsi musiman oleh konsumen kelas menengah atas.
Produk ritel yang banyak diminati saat aktivitas live streaming di TikTok maupun Shopee adalah baju muslim, parfum, skincare, make up, maupun hampers Ramadhan. Berikut contoh saham sektor ritel, untuk tahu harganya kamu bisa klik kode sahamnya:
- Matahari Department Store Tbk. - LPPF
- Mitra Adiperkasa Tbk. - MAPI
- Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. - ACES
- Sumber Alfaria Trijaya Tbk. - AMRT
- Indoritel Makmur Internasional Tbk. - DNET
- Ramayana Lestari Sentosa Tbk. - RALS
- DFI Retail Nusantara Tbk. - HERO
4. Sektor E-Commerce
Hampir berkaitan dengan sektor retail, perubahan perilaku konsumen ke arah digital juga mendorong volume penjualan online meningkat selama Ramadhan.
Melansir dari Ekonomi Republika, aktivitas ekonomi digital juga meningkat lebih dari 76% dengan tren transaksi e-commerce di platform Tokopedia, Shopee, maupun TikTok Shop. Pada Ramadhan 2025 silam, nilai transaksi di TikTok Shop melonjak 10x lipat di jam sahur.
Secara langsung, aktivitas live streaming untuk berjualan dan berinteraksi dengan konsumen sekalipun melalui kolom komentar, dapat meningkatkan pertumbuhan bisnis UMKM. Untuk memaksimalkan peluang tersebut, maka para pelaku bisnis perlu menyiapkan strategi matang.
Berikut saham sektor e-commerce yang bisa kamu lihat harganya dengan klik kode sahamnya:
5. Sektor Transportasi & Logistik
Ramadhan dan Lebaran itu identik dengan pulang kampung alias mudik. Alhasil, sektor transportasi dan logistik akan berdampak besar selama momentum tersebut. Jangankan sektor transportasi, bahkan konsumsi BBM juga melonjak.
Perlu dipahami juga bahwa sektor transportasi dan logistik ini berkaitan pula dengan beberapa emiten jalan tol. Mulai dari Jasa Marga (JSMR), dan Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP).
Berdasarkan Tempo, pada Lebaran 2024 silam, konsumsi BBM meningkat signifikan, dengan Pertamax Turbo naik 90,7% dibanding penjualan normal 492 KL/hari, dan Pertamax naik 24,8% daripada hari biasanya.
Pada sektor logistik juga berpotensi mengalami peningkatan atas permintaan distribusi barang kebutuhan puasa, persiapan Lebaran, maupun aktivitas mudik. Ini termasuk layanan pengiriman barang dan jasa logistik armada darat, laut, atau udara.
Berikut contoh beberapa saham sektor transportasi dan logistik, klik kode saham untuk tahu harganya:
- Blue Bird Tbk. - BIRD
- Garuda Indonesia (Persero) Tbk. - GIAA
- Samudera Indonesia Tbk. - SMDR
- AirAsia Indonesia Tbk. - CMPP
- Express Transindo Utama Tbk. - TAXI
Baca Juga: 37 Saham Sektor Transportasi dan Logistik Beserta Prospek Bisnisnya
6. Sektor Healthcare
Bulan puasa mendorong masyarakat memperhatikan kesehatan dan gaya hidup sehat. Alhasil, minat masyarakat pada vitamin, suplemen, dan layanan kesehatan meningkat.
Melansir dari Antara News, pihak Halodoc mengungkapkan bahwa pembelian vitamin di aplikasi mereka telah meningkat 30% pada seminggu sebelum Ramadhan 2026.
Bisa dibilang, sektor ini memiliki karakter defensif karena permintaan layanan yang relatif stabil. Berdasarkan pernyataan dari Investasi Kontan, sektor ini berpeluang rebound dari level saat ini.
Terlebih lagi, momentum Ramadhan 2026 berpotensi menjadi katalis jangka pendek, terutama pada emiten yang berfokus pada farmasi dan obat-obatan herbal. Yap, saat berpuasa tubuh membutuhkan dukungan ekstra supaya tidak gampang sakit, sehingga permintaan atas vitamin, suplemen, dan obat-obatan cenderung meningkat selama Ramadhan 2026 ini.
Sebenarnya, memang tren hidup sehat sudah berlaku bahkan sebelum Ramadhan, tetapi konsumsinya justru akan melonjak karena masyarakat tengah berpuasa. Ingat, saat berpuasa pola makan itu terbatas hanya saat sahur dan berbuka saja.
Berikut contoh saham sektor healthcare, klik kode sahamnya untuk tahu harganya:
- Industri Jamu dan Farmasi Sidomuncul Tbk. - SIDO
- Kimia Farma Tbk. - KAEF
- Kalbe Farma Tbk. - KLBF
- Metro Healthcare Indonesia Tbk. - CARE
- Indofarma Tbk. - INAF
Mau Untung dari Saham yang Berpotensi Naik Saat Ramadhan 2026?
Nah, itulah penjelasan tentang apa saja deretan saham yang berpotensi naik saat Ramadhan 2026. Dengan memahami perilaku musiman, data historis penjualan, serta fundamental sektor, strategi investasi di bulan Ramadhan bisa dibuat lebih terukur dan sesuai dengan profil risiko kamu sebagai investor.
Mulai dari JPFA, MAPI, hingga INDF bisa kamu investasikan melalui aplikasi InvestasiKu. Namun ingat, tidak semua pergerakan harga saham di sektor konsumsi bergantung pada peningkatan konsumsi Ramadhan. Faktor global dan ekonomi makro tetap dominan dalam jangka panjang.
Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Arigawati, D. (2020). Reaksi Ramadhan effect terhadap saham perusahaan makanan dan minuman di Indonesia. JABE (Journal of Applied Business and Economic), 6(4), 330-340.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)