Sektor energi menjadi salah satu sektor paling krusial dalam perekonomian global maupun domestik. Mengingat hampir seluruh aktivitas industri dan kehidupan sehari-hari bergantung pada energi. Mulai dari listrik, bahan bakar kendaraan, hingga kebutuhan manufaktur.
Melansir dari Antara News, negara maju seperti Singapura saja turut mengimpor energi berupa listrik berkisar 2-3 gigawatt dari Indonesia. Rencana tersebut kian dimatangkan pada pertengahan Maret 2026 ini.
Pun demikian pada sub sektor batu bara, pihak Kementerian ESDM mencatatkan bahwa produksi batu bara Indonesia mencapai 357,6 juta ton selama semester I tahun 2025. Hal itu membuktikan bahwa Indonesia memang memiliki sumber daya energi yang besar.
Secara umum, sektor energi terbagi menjadi tiga kategori utama, yaitu:
- Energi fosil
- Energi terbarukan
- Jasa layanan energi
Yuk, bahas satu per satu apa saja sub sektor energi termasuk contoh emiten sahamnya di Indonesia.
1. Energi Fosil
Energi fosil masih menjadi kontributor terbesar dalam sumber energi global. Sumber energi ini berasal dari bahan organik yang telah terdekomposisi selama jutaan tahun. Sayangnya, karena kebutuhan energi fosil ini tiap tahunnya meningkat maka menyebabkan ketersediaannya menipis.
Contoh energi fosil adalah batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Namun tahukah kamu bahwa ada pendapatan moderat yang menyatakan bahwa dalam kurun waktu 21 tahun mendatang, energi fosil tersebut akan habis.
Melansir dari Kementerian ESDM, upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah ketersediaan energi fosil tersebut adalah dengan mengupayakan energi baru terbarukan alias EBT. EBT ini berasal dari bahan bakar nabati berupa biosolar, bioetanol, dan biodiesel.
Sub Sektor Energi Fosil
a. Batu Bara
Batu bara banyak digunakan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan industri berat. Melansir dari website Kementerian ESDM, menyatakan bahwa sebesar 67% pembangkit listrik di Indonesia masih mengandalkan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Jika produksi batu bara Indonesia turun drastis maka harga batu bara global bisa melonjak, sehingga memengaruhi industri global dan mengurangi daya saing internasional. Sebaliknya jika produksi batubara Indonesia naik drastis, maka harga batubara akan turun. Alhasil, industri batubara skala kecil akan banyak yang gulung tikar dan akan menyisakan masalah lingkungan dan sosial.
Contoh Emiten Batu Bara:
- ADRO – Adaro Energy Indonesia Tbk.
- PTBA – Bukit Asam Tbk.
- ITMG – Indo Tambangraya Megah Tbk.
- HRUM – Harum Energy Tbk.
- BYAN – Bayan Resources Tbk.
*Klik kode saham terkait untuk tahu harga terbarunya.
b. Minyak Bumi
Minyak bumi digunakan untuk bahan bakar kendaraan, petrokimia, hingga industri. Daerah penghasil minyak bumi di Indonesia ada Cilacap, Balikpapan, Balongan, hingga Pangkalan Brandan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, negara kita telah mengekspor minyak bumi ke berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Thailand, Australia, hingga Amerika Serikat.
Namun eksistensi minyak bumi sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Khususnya saat terjadi konflik di Timur Tengah saat ini, yang berpotensi mengalami gangguan jalur distribusi energi global.
Melansir dari Kontan, kondisi di Timur Tengah masih berisiko memicu lonjakan harga minyak bumi. Terlebih lagi apabila konflik kian meluas dan mengganggu lalu lintas tanker minyak di Selat Hormuz.
Contoh Emiten Minyak Bumi:
- MEDC – Medco Energi Internasional Tbk.
- ELSA – Elnusa Tbk.
- AKRA – AKR Corporindo Tbk. (distribusi BBM & kimia)
*Klik kode saham terkait untuk tahu harga terbarunya.
c. Gas Bumi
Gas bumi sering disebut sebagai energi transisi karena lebih ramah lingkungan daripada batu bara dan minyak. Melansir dari Kementerian ESDM, selama periode 2025, seluruh kebutuhan gas bumi pada masyarakat domestik dipasok dari produksi gas dalam negeri alias tidak ada yang berasal dari impor.
Sekitar 69% pasokan gas bumi digunakan untuk kebutuhan hilirisasi seperti Bahan Bakar Gas (BBG), jaringan gas bumi, ketenagalistrikan, LNG, dan LPG. Sisanya sekitar 31% diekspor ke negara lain.
Contoh Emiten Gas:
Baca Juga: 10+ Saham yang Bagi Dividen 2 Hingga 3 Kali Setahun, Mana Saja?
2. Energi Terbarukan
Energi terbarukan berasal dari sumber alam sehingga dapat diperbaharui secara alami. Jenis energi terbarukan adalah energi panas bumi, energi air, energi matahari (surya), energi angin, dan bioenergi.
FYI, Indonesia menjadi salah satu dari 195 negara yang menandatangani Paris Agreement untuk berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 29% pada tahun 2030 dengan usaha sendiri. Komitmen ini mensyaratkan bahwa Indonesia memang konsisten mengembangkan energi terbarukan (sumber: IESR)
Berdasarkan PP Nomor 9 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, negara kita ini menargetkan penggunaan energi terbarukan minimum 23% di tahun 2025, dan 31% di tahun 2050. Artinya, Indonesia memang menargetkan penggunaan energi terbarukan secara berkelanjutan dan terus-menerus (sumber: Kemenhan)
Potensi energi terbarukan di Indonesia untuk ketenagalistrikan mencapai 443 gigawatt. Meliputi panas bumi, air dan mikro-mini hidro, bioenergi surya, angin, dan gelombang laut. Potensi tenaga surya di Indonesia juga memiliki porsi besar yakni lebih dari 207 MW, disusul dengan air dan angin. (sumber: IESR)
Sub Sektor Energi Terbarukan
a. Energi Panas Bumi
Panas bumi ini berkaitan dengan proses pergerakan magma di dalam kerak bumi menuju permukaan. Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi panas bumi alias geothermal terbesar di dunia. Berhubung Indonesia terletak di ring of fire, maka tentu saja berpotensi memiliki panas bumi dalam jumlah besar yakni 40%.
Contoh Emiten:
b. Energi Air
Energi air termasuk jenis energi kinetik karena besar kecilnya bergantung pada gerakan partikelnya. Di Indonesia, aliran air digunakan untuk menghasilkan listrik yang mencapai 75.000 megawatt tetapi baru dimanfaatkan hanya 10% saja.
Adapun pemanfaatan energi air ini adalah untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH).
Contoh Emiten:
- PGEO – Pertamina Geothermal Energy Tbk, (kombinasi energi)
- KEEN – Kencana Energi Lestari Tbk,
- ARKO – Arkora Hydro Tbk.
c. Energi Surya (Matahari)
Energi dari sinar matahari menggunakan panel surya. Kamu pasti sudah tahu ‘kan bahwa matahari itu merupakan energi alam paling besar yang diterima oleh permukaan bumi.
Melansir dari Kementerian ESDM, [potensi energi surya di Indonesia adalah sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp. Pemanfaatan energi surya ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga termal, dan sel surya fotovoltaik.
Ada 10 provinsi dengan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terbesar di Indonesia. Sebut saja ada Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Riau, Sumatera Utara, Jambi, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Papua.
Contoh Emiten:
- SURE – Super Energy Tbk
- KBLM – Kabelindo Murni Tbk (pendukung infrastruktur listrik)
- JSKY – Sky Energy Indonesia Tbk.
d. Energi Angin
Pemanfaatan energi angin memang masih terbatas di Indonesia, tetapi berpotensi besar. Biasanya, energi angin digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) dan pompa air. Beberapa wilayah di Indonesia yang berpotensi memiliki energi angin relatif besar adalah Sukabumi, Lombok, Garut, Pandeglang, dan Lebak.
Contoh Emiten:
e. Bioenergi
Bioenergi adalah energi terbarukan yang berasal dari pengolahan bahan baku organik. Misalnya kelapa sawit, kotoran ternak, ubi kayu, dan lainnya. Untuk bioenergi yang berasal dari bahan organik kelapa sawit disebut biodiesel.
Hingga tahun 2019, negara kita sudah memiliki 4 pembangkit listrik tenaga bioenergi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan NTT.
Contoh Emiten:
Baca Juga: 30 Saham BUMN yang Terdaftar di Bursa dari Berbagai Sektor
3. Jasa Layanan Energi
Sub sektor ini sering disebut sebagai “supporting sector” karena menyediakan layanan penting dalam eksplorasi hingga distribusi energi.
Sub Sektor Jasa Energi
a. Jasa Pengeboran & Eksplorasi
Adalah layanan teknik yang aktivitasnya berupa mencari, mengambil sampel, dan menganalisis berbagai potensi energi seperti mineral, batu bara, maupun minyak bumi yang ada di bawah permukaan tanah.
Setiap emiten di Indonesia yang memiliki layanan ini harus melaporkan kegiatannya pada BEI. Laporan tersebut memuat bagaimana progress layanan, biaya layanan, hingga rencana selanjutnya.
Contoh Emiten:
b. Infrastruktur Energi
Layanan yang meliputi penyimpanan, kilang, dan fasilitas energi. Biasanya mencakup sub sektor kelistrikan, minyak, dan gas bumi.
Contoh Emiten:
c. Distribusi Energi
Menghubungkan energi ke konsumen akhir, baik itu konsumen individu maupun institusi dalam jumlah besar.
Contoh Emiten:
Baca Juga: 9 Saham Milik Lippo Group yang Melantai di Bursa, Bukan Cuma Siloam Saja!
Mau Berinvestasi Pada Saham Energi?
Nah, itulah penjelasan tentang apa saja sub sektor energi beserta emiten sahamnya di Indonesia. Setiap subsektor memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda, serta peluang investasi yang menarik. Bagi investor, penting untuk memahami siklus komoditas dan tren global sebelum masuk ke saham energi.
Jika kamu ingin berinvestasi pada emiten-emiten di atas, dapat melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya.
Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Energi Terbarukan: Energi untuk Kini dan Nanti. (2017). IESR
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)