Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), memang tidak mudah untuk diprediksi akan menguat atau melemah.
Ada banyak faktor yang membuat IHSG naik-turun, sehingga investor dibuat bingung dalam memilih hingga mempertahankan saham.
Tapi, kalau IHSG sedang melemah, sebaiknya pilih saham atau emiten yang bagaimana?
Penyebab IHSG Melemah
Nah, pasar saham yang sedang lesu biasanya terjadi akibat beberapa hal, seperti:
- Pelemahan nilai rupiah
- Dolar menguat
- Inflasi
- Suku bunga naik
- Perlambatan ekonomi, hingga
- Yield treasury US tenor 10 tahun yang naik
Meski hal tersebut masih dalam batas wajar, namun perlu diwaspadai. Terlebih, semenjak rupiah melemah, pasar saham mengalami penurunan terutama pada saham-saham blue chip.
Kalau begini, harus bagaimana? Yuk, simak tips memilih investasi saham saat IHSG sedang anjlok, yang dilansir dari CNBC Indonesia.
Baca juga: Rumus IHSG dan Cara Membacanya
Tips Memilih Investasi Saham Saat IHSG Anjlok
1. Cari perusahaan yang tidak memiliki hutang berbunga
Mungkin hal ini sulit untuk ditemukan, meskipun perusahaan tersebut memiliki kinerja, fundamental, growth yang bagus, tapi sayangnya punya hutang berbunga di bank.
Tapi, bagaimana dengan emiten yang ada di sektor perbankan itu sendiri? Apakah berpengaruh akan suku bunga yang tinggi?
Nah, ketika suku bunga naik, revenue perbankan itu akan tinggi. Tapi ada kekhawatiran, karena jika suku bunga sedang tinggi, maka akan ada banyak perusahaan yang gagal bayar, dan akhirnya non performing loan (NPL) naik.
Namun, jika kamu tertarik di saham-saham perbankan, kamu bisa pilih perusahaan bank besar, yang memiliki pertumbuhan kredit tinggi dan kinerja yang baik, meski suku bunga naik seperti BBCA atau BBRI.
2. Cek GPM Perusahaan
Nah, kalau Kawan Visto menemukan kondisi perusahaan sedang punya hutang berbunga, dan tetap ingin membelinya, kamu bisa pastikan bahwa perusahaan tersebut memiliki Gross Profit Margin (GPM) atau rasio laba kotor, yang besar di range (30%-50%) atau lebih.
Tujuannya, agar kamu bisa melihat bahwa mereka bisa membayar beban hutang tersebut. Jika GPM-nya di range 10%-20% atau dibawahnya, maka hindari dulu untuk membeli emiten di perusahaan tersebut.
3. Cari saham dengan valuasi yang masih wajar
Jika kamu merupakan tipikal investor yang kontrarian, maka kamu bisa masuk ke emiten yang belum diapresiasi marketnya, atau sedang koreksi. Mengapa?
Karena kamu bisa berkesempatan mendapatkan keuntungan di kemudian hari, meski hal tersebut sulit dilakukan oleh investor pemula, atau bagi kamu yang belum mampu menghadapi volatilitas market.
Ketika IHSG sedang terkoreksi, maka banyak saham berfundamental baik juga akan ikut terkoreksi. Meski begitu, saat ini ada banyak perusahaan juga yang sudah masuk ke nilai valuasi yang wajar.
Jadi, kamu bisa cek kembali saham incaranmu yang harganya sedang turun, apakah sudah memasuki valuasi yang wajar atau belum.
4. Cari perusahaan yang kasih dividen besar
Terakhir, kamu bisa pilih saham yang perusahaannya akan membagikan dividen besar, atau minimum cari perusahaan yang kasih dividen setara dengan yield obligasi.
Jika saat ini yield obligasinya di angka 6%-7%, cari emiten yang bisa bagi dividen atau dividen yield di tahun depan setara 6% juga.
Pasalnya, perusahaan yang bagi dividen, ibarat sedang membagikan pemanis untuk para investor, agar kamu bisa menunggu sampai harga sahamnya nanti akan mengalami kenaikan.
Dari tips di atas, jangan lupa untuk selalu tetap melakukan analisis mendalam, baik secara fundamental maupun teknikal. Karena apapun pilihannya, keputusan tetap ada di kamu ya Kawan!
Jangan lupa juga untuk selalu gunakan aplikasi investasi terpercaya, seperti aplikasi InvestasiKu by Mega Capital Sekuritas!