SAHAM
 

Saham Small Cap: Pengertian, Peluang, Risiko, dan Contoh Sahamnya di Indonesia

by Rifda Arum - 07 Jul 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Dalam dunia investasi saham, istilah seperti large cap, mid cap, dan small cap memang sering muncul ketika membahas ukuran perusahaan di pasar modal. Nyatanya, banyak investor pemula tertarik pada saham small cap karena harganya sering terlihat “murah” dan memiliki potensi kenaikan yang tinggi.

Kalau kamu simak indeks MSCI Indonesia yang rilis pada 29 Mei 2026 silam, ada deretan saham di BEI yang masuk ke daftar. Mulai dari INDF hingga KLBF. 

Namun ternyata, saham small cap juga tetap memiliki risiko yang lebih besar dibanding saham perusahaan besar atau blue chip. Memang tidak sedikit saham small cap itu berhasil berkembang menjadi perusahaan raksasa, tetapi ada juga yang gagal bertahan.

Lantas, apa itu saham small cap? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu Saham Small Cap?

Sebelum tahu apa itu saham small cap, kamu harus paham dulu tentang kapitalisasi pasar alias market capitalization

Kapitalisasi pasar adalah harga yang melambangkan nilai pasar dari suatu perusahaan atas jumlah saham yang beredar di publik. Kapitalisasi pasar mencerminkan nilai kekayaan perusahaan saat ini dengan 3 ukuran yakni kapitalisasi besar (big cap), kapitalisasi sedang (mid cap), dan kapitalisasi kecil (small cap). 

Melansir pada jurnal penelitian berjudul Pengaruh Kapitalisasi Pasar dan Likuiditas Saham Terhadap Harga Saham Pada PT Astra Internasional Tbk., semakin besar kapitalisasi pasar dari sebuah perusahaan, maka makin lama pula investor menahan kepemilikan sahamnya. Hal itu karena investor menganggap bahwa perusahaan besar akan cenderung lebih stabil keuangannya, risiko lebih kecil, dan prospek jangka panjang memiliki harapan return lebih besar. 

Singkatnya, investor merasa aman dengan investasi pada saham dari perusahaan berkapitalisasi besar. 

Nah, bisa diketahui ‘kan kata “cap” pada konteks small cap itu mengacu pada small capitalization alias kapitalisasi kecil. 

Saham small cap adalah saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) relatif kecil dibanding perusahaan besar di bursa saham. Saham small cap ini biasanya memiliki pergerakan fluktuatif dan harga sahamnya juga masih relatif murah. 

Umumnya, saham small cap memiliki nilai kapitalisasi pasar di bawah 1 triliun. Kapitalisasi pasar merupakan total nilai pasar suatu perusahaan yang dihitung dari:

Contohnya ada sebuah perusahaan memiliki 10 miliar lembar saham dengan harga sahamnya Rp200 per saham. Maka hitungan kapitalisasi pasarnya adalah:

Rp200 × 10 miliar = Rp2 triliun

Semakin kecil nilai kapitalisasi pasar perusahaan, semakin kecil pula ukuran perusahaan tersebut di pasar modal.

Menurut Fidelity, saham small cap secara global umumnya mengacu pada perusahaan dengan kapitalisasi pasar sekitar US$250 juta hingga US$2 miliar. 

Baca Juga: Apa Itu Market Cap Alias Kapitalisasi Pasar Dalam Dunia Saham?

Apa yang Membuat Saham Disebut “Small”?

Ukuran “small” pada saham bukan dilihat dari harga sahamnya murah atau mahal, melainkan dari total nilai perusahaan di pasar.

Banyak investor pemula keliru menganggap saham Rp100 pasti small cap, dan saham Rp10.000 pasti big cap. Padahal tidak selalu demikian.

Berikut beberapa faktor penentu kapitalisasi pasar dari suatu perusahaan.

1. Kapitalisasi Pasarnya Memang Masih Relatif Kecil

Saham disebut small cap ketika total nilai perusahaan di pasar saham masih relatif kecil dibanding mayoritas emiten lainnya. Kapitalisasi pasar dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham beredar.

Misalnya ada 3 perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang berbeda:

  • Perusahaan A memiliki kapitalisasi pasar Rp1 triliun
  • Perusahaan B memiliki kapitalisasi pasar Rp10 triliun
  • Perusahaan C memiliki kapitalisasi pasar Rp100 triliun

Maka Perusahaan A lebih mungkin dikategorikan sebagai saham small cap karena ukuran perusahaannya di pasar modal jauh lebih kecil dibanding dua perusahaan lainnya.

Kapitalisasi pasar yang kecil biasanya mencerminkan bahwa perusahaan masih berada pada tahap awal pertumbuhan, memiliki skala bisnis yang belum sebesar perusahaan mapan, atau belum banyak mendapatkan perhatian investor.

2. Bisnis Masih Dalam Tahap Pertumbuhan

Banyak perusahaan small cap masih berada dalam fase ekspansi bisnis. Misalnya:

  • membuka cabang baru,
  • memperluas pasar,
  • meningkatkan kapasitas produksi,
  • atau membangun model bisnis yang belum matang.

Berhubung perusahaannya masih berkembang, maka valuasinya belum sebesar perusahaan berkapitalisasi besar.

3. Likuiditas Saham Relatif Rendah

Volume transaksi saham small cap sering lebih kecil dibanding saham big cap. Akibatnya:

  • spread bid-offer bisa lebih lebar,
  • harga lebih mudah bergerak tajam,
  • investor besar lebih sulit masuk dalam jumlah besar.

4. Cakupan Analis Masih Terbatas

Saham small cap biasanya tidak terlalu banyak diliput analis maupun media. Berbeda dengan saham besar seperti bank-bank besar atau perusahaan telekomunikasi yang rutin dianalisis pasar. Alhasil, saham small cap masih kurang diperhatikan pasar. 

Apakah Saham Small Cap Menarik?

Meski lebih berisiko, saham small cap tetap memiliki daya tarik besar bagi investor. FYI, dalam sejarah pasar saham global, banyak perusahaan besar saat ini dulunya merupakan small cap.

1. Potensi Pertumbuhan Lebih Tinggi

Perusahaan kecil memiliki ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar. Misalnya, pendapatan baru Rp500 miliar masih bisa tumbuh menjadi Rp5 triliun, sedangkan perusahaan raksasa akan lebih sulit tumbuh berkali-kali lipat.

Menurut Investopedia, small cap umumnya menawarkan peluang pertumbuhan lebih tinggi dibanding perusahaan besar, walaupun risikonya juga lebih tinggi. Contohnya perusahaan ternama Amazon itu dulunya juga small cap. Saat pertama kali melantai di bursa pada tahun 1997, harga penawaran perdananya adalah $18 per lembar.

Di Indonesia, ada juga contoh perusahaan besar yang dulunya small cap yakni Indomaret dari emiten PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET). Seiring berjalannya waktu dengan ekspansi gerai secara agresif, akhirnya Indomaret menjadi salah satu emiten big cap per Mei 2026 ini. 

2. Bisa Ditemukan Sebelum Dilirik Investor Besar

Banyak saham small cap belum banyak diketahui investor institusi. Jika fundamental perusahaannya berkembang baik, maka laba dan bisnis bisa bertumbuh, sehingga investor besar akan melirik. 

Jika sudah demikian, harga sahamnya bisa naik secara signifikan. Inilah alasan sebagian investor aktif senang berburu saham small cap.

Risiko Investasi Saham Small Cap

Ingat prinsip investasi yakni high return-high risk dan sebaliknya? Potensi return tinggi selalu datang bersama risiko yang lebih besar. Nah, berikut beberapa risiko utama saham small cap.

1. Volatilitas Tinggi

Harga saham small cap bisa naik atau turun sangat tajam dalam waktu singkat. Penyebabnya karena likuiditas saham small cap itu rendah dan investornya juga lebih sedikit dibandingkan saham big cap. 

Melansir dari FINRA yang menyatakan bahwa "Large-cap companies tend to be less vulnerable to the ups and downs of the market than mid-cap companies, and mid-cap companies are generally less susceptible to volatility than small-cap companies." 

Artinya, perusahaan berkapitalisasi besar cenderung lebih tahan terhadap naik-turunnya pasar dibanding perusahaan berkapitalisasi menengah, dan perusahaan berkapitalisasi menengah umumnya lebih tidak rentan terhadap volatilitas dibanding perusahaan berkapitalisasi kecil. Singkatnya, dalam kondisi pasar buruk, saham small cap biasanya lebih cepat jatuh dibanding saham big cap. 

2. Risiko Likuiditas

Likuiditas rendah berarti saham sulit diperjualbelikan dalam jumlah besar. Akibatnya, spread harga lebih lebar dan bahkan harga saham bisa turun drastis saat banyak investor jual bersamaan.

3. Fundamental Belum Stabil

Banyak perusahaan small cap masih dalam tahap pertumbuhan sehingga laba belum konsisten, utang bisa lebih tinggi, dan bisnis lebih rentan terhadap perlambatan ekonomi.

Jadi, jika kamu minat menjadi Investor saham small cap, perlu lebih cermat ketika membaca laporan keuangan, transaksi afiliasi, perubahan bisnis mendadak, atau bahkan praktik gorengan saham.

4. Lebih Rentan terhadap Sentimen Pasar

Berhubung ukuran perusahaan kecil, maka sering memperoleh sentimen negatif yang mana dapat berdampak besar. Misalnya, ketika perusahaan tersebut mengalami penurunan penjualan, gagal ekspansi, atau perubahan regulasi, bisa langsung menyebabkan sentimen negatif. 

Melansir dari Investopedia, saham berkapitalisasi kecil alias small caps cenderung memiliki reputasi buruk. Terlebih lagi jika media massa semakin “menggorengnya” dengan sisi negatif perusahaan. 

Baca Juga: 7 Ciri Saham Gorengan yang Wajib Dicermati Investor Pemula!

Contoh Saham Small Cap di Indonesia

Tahukah kamu jika indeks saham global seperti MSCI juga telah mengkategorikan saham small cap di Indonesia. Berdasarkan laporan MSCI per 29 Mei 2026, berikut daftar saham small cap di Indonesia:

  1. Indofood Sukses Makmur - INDF
  2. Merdeka Copper Gold - MDKA
  3. Aneka Tambang - ANTM
  4. Alamtri Resources Indonesia - ADRO
  5. Energi Mega Persada - ENRG
  6. Indah Kiat Pulp & Paper - INKP
  7. Bumi Resources - BUMI
  8. Perusahaan Gas Negara - PGAS
  9. XLSmart Telecom - EXCL
  10. Kalbe Farma - KLBF

*klik kode sahamnya untuk tahu harga terbaru. 

Minat Berinvestasi Pada Saham Small Cap?

Nah, itulah pengertian saham small cap yang merupakan saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar relatif kecil. Ukuran “small” ditentukan oleh market cap, bukan harga sahamnya.

Eksistensi saham small cap tidak selalu cocok untuk semua investor terutama dengan profil risiko konservatif. Saham small cap lebih cocok untuk investor agresif alias siap menghadapi volatilitas.

Beberapa contoh saham small cap di atas dapat kamu investasikan secara mudah melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO