Sejak ribuan tahun lalu, emas memang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu sebagai simbol kekayaan dan alat penyimpan nilai. Melansir dari Gold, Raja Julius Caesar memberikan 200 koin emas kepada setiap prajuritnya yang berhasil memenangkan Perang Galia pada 58 SM.
Seiring berjalannya waktu khususnya pada perabadan modern ini, emas pun masih sering disebut sebagai safe haven alias aset aman terutama ketika kondisi ekonomi sedang tidak stabil. Memangnya kenapa emas disebut aset aman? Se-”aman” apa emas sebagai aset khususnya saat terjadi inflasi maupun perang? Simak selengkapnya berikut ini!
Apa Itu Safe Haven dalam Investasi?
Dalam dunia investasi, safe haven adalah aset yang cenderung tetap stabil atau bahkan meningkat nilainya saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau krisis. Karakteristik safe haven alias aset aman adalah:
- Nilainya tidak mudah tergerus inflasi
- Permintaannya tetap tinggi bahkan saat krisis keuangan
- Tidak terlalu bergantung pada kondisi ekonomi suatu negara
- Dianggap sebagai “penyimpan nilai” (store of value)
Contoh umum safe haven adalah emas dan obligasi pemerintah negara maju. Ada juga yang menyebutkan bahwa mata uang tertentu seperti USD bisa menjadi aset aman. Namun, emas justru lebih populer sebagai pilihan aset aman.
Baca Juga: 7 Perusahaan Saham Emas yang Terdaftar di Bursa, Simak Apa Saja!
Kenapa Emas Disebut Aset Aman (Safe Haven)?
Emas selalu menjadi sorotan ketika membicarakan safe haven alias aset aman. Hal ini dibahas pada artikel jurnal berjudul Konstruksi Makna Emas Sebagai Aset Safe Haven di Era Perang Dagang AS dan China, menyatakan bahwa emas selalu dipercaya sebagai aset aman khususnya pada situasi krisis.
Terlebih lagi bagi masyarakat Indonesia, emas tidak hanya sebagai komoditas finansial semata, tetapi juga bernilai simbolik dan kultural yang kuat. Misalnya saja pada beberapa budaya masyarakat Indonesia, mengenakan perhiasan untuk acara penting menjadi simbol status atas kemapanan hidup mereka.
Padahal, emas juga tidak selalu konsisten dalam menghadapi krisis, sebab semuanya bergantung pada kondisi geopolitik makroekonomi, dan bahkan dinamika psikologis investor itu sendiri.
Makna “aman” dalam konteks emas sebagai safe haven ini bukan berarti bebas risiko yaa… Emas tetap memiliki risiko terutama turun harganya dalam jangka pendek. Makna “aman” di sini mengacu pada nilainya yang relatif stabil dibandingkan aset lain dan bahkan naik harganya saat krisis.
Belakangan ini, harga emas justru melonjak hingga Rp1,4 jutaan untuk 0,5 gr saja. Jika membeli emas batangan 1 gram saja, kamu harus merogoh kocek sekitar Rp2,8 jutaan (Logam Mulia, per 7 Mei 2026).
Singkatnya, peran emas sebagai safe haven itu bersifat dinamis dan subjektif, tidak hanya ditentukan pada harga pasar atau indikator rasional ekonomi. Ada beberapa alasan utama kenapa emas mendapatkan status sebagai safe haven:
1. Nilainya Tidak Bergantung pada Pemerintah
Berbeda dengan mata uang yang dikontrol bank sentral, emas adalah aset fisik yang tidak bisa “dicetak” sesuka hati. Kamu tahu ‘kan jika emas itu harus ditambang terlebih dahulu, sehingga jumlahnya terbatas dan tidak bisa dikontrol langsung oleh pemerintah.
Meskipun demikian, emas tetap bereaksi terhadap kebijakan moneter. Misalnya saat bank sentral menaikkan suku bunga, maka permintaan emas dan harganya juga akan turun. Hal itu karena investor memilih berinvestasi pada obligasi.
2. Jumlahnya Terbatas
Seperti yang tertulis sebelumnya, emas yang merupakan sumber daya alam itu jumlahnya terbatas. Proses penambangannya juga sulit dan mahal. Hal ini membuat emas tidak mudah mengalami oversupply dan nilainya cenderung naik dalam jangka panjang.
3. Diterima Secara Global
Emas memiliki nilai di hampir seluruh dunia. Tidak peduli negara atau sistem ekonominya, emas tetap dianggap berharga karena menjadi simbol kekayaan, kekuasaan, dan prestise di berbagai budaya.
FYI, masyarakat global masih khawatir atas kenaikan biaya hidup kedepannya, sehingga mereka mengalokasikan investasi pada aset emas lebih banyak sepanjang tahun 2024 hingga 2025 (Investopedia).
Hal ini berbeda dengan mata uang lokal yang bisa melemah drastis kapan saja.
4. Likuiditas Tinggi
Emas mudah diperjualbelikan kapan saja, baik dalam bentuk emas batangan, emas dalam bentuk perhiasan, emas digital, atau bahkan ETF emas. Jadi, memudahkan investor yang memang butuh dana secepatnya.
5. Perlindungan Terhadap Inflasi
Saat inflasi tinggi, nilai uang menurun. Namun emas seringkali naik karena dianggap sebagai pelindung nilai, tetapi tidak selalu instan. Saat inflasi, nilai uang turun sehingga orang-orang akan mencari aset sebagai pelindung daya beli, dan mereka memilih emas.
Alhasil, permintaan emas akan meningkat dan sejalan dengan harganya yang ikut naik. Hal ini dinyatakan pada artikel jurnal berjudul Analisis Peranan Emas dan Obligasi Pemerintah Indonesia Sebagai Safe Haven Pada Periode 2018-2020.
Pada tahun 2019, Indonesia mengadakan pemilu presiden dan wakil presiden. Kala itu, banyak investor mengantisipasi kondisi politik yang kurang baik, sehingga mereka memindahkan asetnya pada emas yang dinilai lebih stabil. Namun tidak demikian saat tahun 2018.
Baca Juga: Emas Digital - Performa, Perbedaan dengan Emas Batangan, dan Emiten Emas
Bukti Emas Menjadi Safe Haven
Mari lihat beberapa peristiwa besar yang membuktikan peran emas sebagai aset aman.
1. Krisis Moneter 1998
Saat Krisis 1998, nilai rupiah anjlok drastis dan banyak perusahaan bangkrut. Pasar saham bahkan ikut jatuh. Namun, harga emas dalam rupiah justru melonjak tajam dan menjadi aset pilihan masyarakat untuk investasi. Melansir dari Indo Premier, pertengahan 1998 harga emas menembus Rp145.000 per gram.
Umumnya, harga emas akan naik saat terjadi inflasi karena kepanikan finansial di antara masyarakat.
2. Krisis Keuangan Global 2008
Tahun 2008 sempat terjadi krisis keuangan global yang bahkan menjadikan harga emas naik dari US$700 menjadi US$1.800. Pasar obligasi bahkan “membeku” karena investor banyak yang mengalihkan aset ke emas sebagai safe haven (Pluang).
Hal ini turut terjadi di pasar China dan pasar Malaysia.
3. Pandemi COVID-19
Ingat tidak saat pandemi Covid-19 silam, seluruh perekonomian dunia melambat. Pasar saham tak terkecuali BEI pun sempat terjun bebas dan trading halt.
Berdasarkan artikel jurnal berjudul Peran Emas Sebagai Safe Haven Bagi Saham Pertambangan di Indonesia Pada Periode Pandemi Covid-19, menuliskan bahwa emas menjadi salah satu hasil produksi dari sektor pertambangan yang harganya malah meningkat. Padahal, selama Covid-19 silam, indeks pertambangan justru mengalami penurunan 18,34% year to date pada awal 2020.
Pada tahun 2020, permintaan emas berada di angka 3.682,5 metrik ton, dengan 1.323,7 metrik ton permintaan untuk perhiasan, 1.749,9 metrik ton untuk permintaan investasi (meliputi emas batangan, koin emas, dan ETF emas), 254,9 metrik ton untuk simpanan bank sentral, dan 309 metrik ton untuk sektor teknologi.
4. Perang Rusia-Ukraina
Secara historis, emas cenderung naik saat kondisi geopolitik memanas. Berdasarkan artikel jurnal berjudul Investasi Safe Haven: Dampak Perang Rusia-Ukraina, tidak hanya pasar saham Indonesia saja yang berdampak, tetapi juga harga emas.
Harga emas justru mengalami peningkatan ketika perang antara kedua negara tersebut kian memanas. Hal itu jelas bertolak belakang dengan harga saham.
Saat perang Rusia-Ukraina memecah, harga emas dunia justru naik. Salah satunya pada Commodity Exchange COMEX, emas menguat 1.78% per troy ons. Kenaikan tersebut disebabkan karena banyak yang berspekulasi menjadikan emas sebagai aset aman khususnya dalam hal harga.
Risikonya pun dianggap kecil karena harga penukaran hanya terletak pada selisih harga jual dan beli dengan nominal yang mengikuti nilai waktu dari uang (time value of money).
Kombinasikan Emas dan Saham Emas
Selain membeli emas langsung, kamu juga bisa berinvestasi melalui saham perusahaan pertambangan emas. Mengingat harga saham tambang emas biasanya ikut naik saat harga emas naik sehingga potensi keuntungan lebih besar terutama saat pembagian dividen.
Di Indonesia, ada banyak emiten saham emas yang terdaftar di BEI, yakni:
- PT Aneka Tambang Tbk - ANTM
- PT Merdeka Copper Gold Tbk - MDKA
- PT Medco Energi Tbk - MEDC
- PT Archi Indonesia Tbk - ARCI
- PT Bumi Resources Minerals - BRMS
- PT J Resources Asia Pasifik - PSAB
- PT United Tractors Tbk - UNTR
*Untuk tahu harga sahamnya, kamu bisa langsung klik kode saham yang ada.
Mau Berinvestasi Pada Saham Emas?
Nah, itulah penjelasan tentang kenapa emas disebut sebagai aset aman alias safe haven. Meskipun emas selalu dipilih sebagai aset aman, tetapi bukan berarti tidak memiliki risiko.
Ada beberapa kondisi di mana emas bisa turun yakni saat suku bunga naik, dollar AS menguat, dan ketika ekonomi stabil untuk “untung cepat”, tetapi cocok untuk perlindungan jangka panjang.
Kamu bisa menerapkan strategi mengombinasikan investasi pada emas dan saham emas. Tenang saja, semua saham emas yang terdaftar di BEI bisa kamu investasikan secara mudah melalui aplikasi InvestasiKu.
Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Agustina, A., & Barus, A. C. (2023). Investasi Safe Haven: Dampak Perang Rusia-Ukraina. Owner: Riset dan Jurnal Akuntansi, 7(3), 2330-2339.
Yuliana, A. F., & Robiyanto, R. (2021). Peran Emas Sebagai Safe Haven Bagi Saham Pertambangan Di Indonesia Pada Periode Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Bisnis Dan Ekonomi Asia, 15(1), 1-11.
Isabella, M., & Hapsari, Y. D. (2022). ANALISIS PERANAN EMAS DAN OBLIGASI PEMERINTAH INDONESIA SEBAGAI SAFE HAVEN PADA PERIODE 2018–2020. Prosiding Working Papers Series in Management, 14(2), 544-556.
Vita, N., & Wulandari, O. A. D. (2025). KONTRUKSI MAKNA EMAS SEBAGAI ASET SAFE HAVEN DI ERA PERANG DAGANG AMERIKA SERIKAT DAN CHINA: STUDI FENOMOLOGI INVESTOR RITEL INDONESIA: STUDI FENOMOLOGI INVESTOR RITEL INDONESIA. Jurnal Witana, 3(2), 1-13.
Investopedia. (2025). Why Has Gold Always Been Valuable.
Investopedia. (2025). Why Gold’s Safe Haven Status Is More Complex Than You Think.
Good Stats. (2025). Permintaan Emas Cenderung Meningkat Pasca Pandemi Covid-19.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)