Kalau kamu masih belajar istilah-istilah investasi, pasti akan menemukan market cap alias kapitalisasi pasar. Market cap ini biasanya dilihat untuk menilai bagaimana ukuran suatu emiten, sehingga investor dapat mempertimbangkan potensi peluang maupun risikonya.
Perusahaan riset penyedia indeks keuangan global seperti MSCI juga sering menggunakan istilah market cap sebagai tolok ukur untuk menentukan bobot suatu saham. Jadi, memang investor tidak bisa menyepelekan eksistensi market cap alias kapitalisasi pasar ini.
Memangnya, apa itu market cap? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Market Cap?
Kapitalisasi pasar adalah nilai total suatu perusahaan yang tercatat di bursa saham berdasarkan harga pasar sahamnya saat ini. Dalam bahasa Inggris, istilah ini dikenal sebagai market capitalization atau sering disingkat menjadi market cap.
Market cap alias kapitalisasi pasar ini mencerminkan nilai kekayaan perusahaan saat ini di pasar modal. Semakin tinggi nilai kapitalisasi pasar suatu perusahaan, semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut dari sudut pandang investor.
Melansir dari jurnal penelitian berjudul Penggolongan Saham Blue Chip Berdasarkan Kapitalisasi Pasar Pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2020, menyatakan bahwa keberadaan market cap alias kapitalisasi pasar yang besar justru menjadi salah satu daya tarik investor dalam memilih saham. Mengingat besaran serta pertumbuhan kapitalisasi pasar menjadi tolok ukur untuk melihat keberhasilan atau kegagalan perusahaan tersebut.
Ada beberapa teori mengenai pembagian market cap ini berdasarkan pendapatan dan pengeluaran yang dikemukakan dalam jurnal penelitian berjudul Pengaruh Kapitalisasi Pasar dan Likuiditas Saham Terhadap Harga Saham Pada PT Astra International Tbk., yakni:
- Berdasarkan pendapatan (earning), yaitu nilai market cap ditentukan berdasarkan pendapatan yang diperoleh setiap tahunnya, kemudian dikalikan dengan multiplayer tertentu.
- Berdasarkan pengeluaran (cost), yakni nilai market cap ditentukan berdasarkan pada pengeluaran dari fixed capital dari suatu perusahaan.
Sementara dari jurnal penelitian berjudul Analisis Pengaruh Kapitalisasi Pasar dan Rasio Keuangan Terhadap Return Saham, menyatakan bahwa sebuah perusahaan dikatakan berkapitalisasi besar jika nilainya lebih besar atau sama dengan Rp5 triliun.
Banyak investor menggunakan market cap sebagai indikator untuk mengelompokkan perusahaan berdasarkan ukurannya. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar umumnya memiliki karakteristik:
- Bisnis yang lebih matang dan stabil.
- Likuiditas saham yang relatif tinggi.
- Risiko volatilitas yang cenderung lebih rendah.
- Menjadi incaran investor institusi.
Perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil biasanya memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi juga disertai risiko yang lebih besar. Itulah kenapa, market cap sering menjadi salah satu faktor penting dalam menyusun strategi investasi dan diversifikasi portofolio.
Perlu diketahui juga bahwa nilai market cap itu sifatnya dinamis, sehingga dapat berubah setiap saat mengikuti pergerakan harga saham di pasar.
Jika harga saham naik, maka kapitalisasi pasar perusahaan akan meningkat. Sebaliknya, apabila harga saham turun, nilai kapitalisasi pasarnya juga akan menurun.
Baca Juga: Saham Musiman - Pengertian, Ciri, Risiko, dan Contoh Sahamnya dari Berbagai Sektor
Cara Menghitung Kapitalisasi Pasar
Menghitung market cap sebenarnya cukup sederhana yakni dengan rumus berikut:
Keterangan:
- Jumlah saham beredar (outstanding shares) adalah total saham yang dimiliki investor dan beredar di pasar.
- Harga saham saat ini adalah harga pasar per lembar saham yang diperdagangkan di bursa.
Contoh: Ada perusahaan J memiliki jumlah saham beredar total 10 miliar lembar dengan harga saham Rp1.000 per lembar. Maka hitungannya adalah:
Market Cap = 10 miliar × Rp1.000 = Rp10 triliun
Artinya, perusahaan tersebut memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp10 triliun.
Penggolongan Market Cap
Hingga pertengahan 2026 ini, sudah ada 957 emiten saham listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tentu saja semua emiten tersebut memiliki angka market cap yang berbeda-beda, sekalipun bergerak di sektor yang sama atau malah dari satu induk perusahaan yang sama.
Secara umum, market cap diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Saham Large Cap (Kapitalisasi Besar)
Saham large cap adalah saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar. Berikut karakteristik saham berkapitalisasi besar yakni:
- Fundamental bisnis relatif kuat.
- Likuiditas tinggi.
- Banyak diminati investor institusi.
- Volatilitas cenderung lebih rendah.
Umumnya, disebut sebagai saham berkapitalisasi besar jika nilainya berasa di atas Rp5 triliun dan sahamnya memang cenderung diterbitkan oleh perusahaan mapan sekaligus berkinerja baik. Saham large cap biasanya disebut sebagai saham lapis pertama.
Pihak Bursa Efek Indonesia telah mengklasifikasikan saham dengan market cap terbesar setiap bulannya. Klik di sini untuk tahu daftar market cap terbesar di Indonesia.
Sementara itu, menurut Index MSCI per 29 Mei 2026, ada 10 saham Indonesia yang masuk kategori Large Cap yaitu:
- Bank Central Asia - BBCA
- Bank Rakyat Indonesia - BBRI
- Bank Mandiri - BMRI
- Telkom Indonesia - TLKM
- Astra International - ASII
- Amman Mineral International - AMMN
- Barito Pacific - BRPT
- Barito Renewables Energy - BREN
- Chandra Asri Pacific - TPIA
- Petrindo Jaya Kreasi - CUAN
*klik kode saham untuk tahu harga terbarunya
2. Saham Mid Cap (Kapitalisasi Menengah)
Saham mid cap berada di antara saham large cap dan small cap. Berikut karakteristik saham mid cap alias berkapitalisasi menengah, yaitu:
- Memiliki peluang pertumbuhan yang menarik.
- Risiko moderat.
- Cocok untuk investor yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Umumnya, saham mid cap memiliki nilai kapitalisasi di bawah Rp1 - 5 triliun, sehingga disebut pula sebagai saham lapis ke-2.
Menurut Index MSCI per 29 Mei 2026, ada 10 saham Indonesia yang masuk kategori Mid Cap, yakni:
- Bank Negara Indonesia - BBNI
- Goto Gojek Indonesia - GOTO
- United Tractors - UNTR
- Bumi Resources Minerals - BUMI
- Charoen Pokphand Indonesia - CPIN
- Indofood Sukses Makmur - INDF
- Merdeka Copper Gold - MDKA
- Aneka Tambang - ANTM
- Sumber Alfaria Trijaya - AMRT
- Alamtri Resources Indonesia - ADRO
*klik kode saham untuk tahu harga terbarunya
3. Saham Small Cap (Kapitalisasi Kecil)
Saham small cap merupakan saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar relatif kecil. Berikut karakteristik saham small cap alias saham berkapitalisasi kecil, yakni:
- Potensi pertumbuhan lebih tinggi.
- Pergerakan harga lebih fluktuatif.
- Risiko investasi lebih besar dibanding saham large cap.
Dalam kondisi pasar yang kurang baik, saham small cap umumnya mengalami penurunan yang lebih tajam dibanding saham berkapitalisasi besar. Saham small cap biasanya memiliki nilai kapitalisasi di bawah Rp1 triliun, sehingga disebut juga sebagai saham lapis ke-3.
Menurut Index MSCI per 29 Mei 2026, ada 10 saham Indonesia yang masuk kategori Small Cap, yakni:
- Indofood Sukses Makmur - INDF
- Merdeka Copper Gold - MDKA
- Aneka Tambang - ANTM
- Alamtri Resources Indonesia - ADRO
- Energi Mega Persada - ENRG
- Indah Kiat Pulp & Paper - INKP
- Bumi Resources - BUMI
- Perusahaan Gas Negara - PGAS
- XLSmart Telecom - EXCL
- Kalbe Farma - KLBF
*klik kode saham untuk tahu harga terbarunya
Baca Juga: 3 Papan Bursa - Utama, Pengembangan, dan Akselerasi, Apa Bedanya?
Minat Berinvestasi Saham?
Nah, itulah pengertian kapitalisasi pasar yakni nilai total suatu perusahaan yang dihitung berdasarkan jumlah saham beredar dikalikan harga saham saat ini. Istilah ini juga dikenal sebagai market cap atau market capitalization.
Lantas, apakah saham berkapitalisasi besar itu selalu lebih baik? Tidak selalu.
Kapitalisasi pasar yang besar memang sering dikaitkan dengan stabilitas bisnis dan risiko yang lebih rendah. Namun, saham dengan market cap besar biasanya memiliki potensi pertumbuhan yang lebih terbatas dibanding perusahaan yang masih berkembang.
Sebaliknya, saham small cap dapat menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi investor juga harus siap menghadapi risiko volatilitas yang lebih besar. Jadi, pemilihan saham sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu investasi, dan toleransi risiko masing-masing investor.
Nah, beberapa contoh saham market cap dari kategori apapun di atas dapat kamu investasikan secara mudah melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Hendarsih, I., & Harjunawati, S. (2020). Penggolongan Saham Blue Chip Berdasarkan Kapitalisasi Pasar Pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2020. Akrab Juara: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial, 5(2), 115-133.
Mufreni, A. N., & Amanah, D. (2015). Pengaruh kapitalisasi pasar dan likuiditas saham terhadap harga saham pada PT. Astra Internasional Tbk. Jurnal Ekonomi Manajemen, 1(1), 29-35.
Sundari, I. A., Nurbaiti, B., Ningrum, E. P., Nuryati, T., & Yulaeli, T. (2025). Pengaruh Kapitalisasi Pasar, Struktur Modal dan Arus Kas Operasi terhadap Tingkat Pengembalian Saham. SCIENTIFIC JOURNAL OF REFLECTION: Economic, Accounting, Management and Business, 8(4), 1189-1200.
Wahyudi, A. S., BENY, B., & DANIEL, D. (2020). Analisis Pengaruh Kapitalisasi Pasar dan Rasio Keuangan terhadap Return Saham. Media Bisnis, 12(1), 9-16.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)