Tahukah kamu pada tahun 1987, pernah terjadi krisis pasar saham yang menimpa banyak negara-negara di dunia. Fenomena tersebut dinamakan Black Monday 1987. Bayangkan, dalam satu hari perdagangan saja, pasar saham Amerika Serikat kehilangan lebih dari 22% nilainya, sehingga tentu saja bursa saham di berbagai negara lain ikut mengalami kejatuhan yang tajam.
Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah pasar modal dunia karena mendorong regulator keuangan untuk memperkenalkan berbagai mekanisme perlindungan seperti circuit breaker, guna mencegah kepanikan pasar yang berlebihan.
FYI, pengadaan sistem ARA dan ARB pada pasar saham Indonesia itu juga merupakan dampak dari fenomena Black Monday 1987 ini.
Yuk, simak apa itu Black Monday, penyebabnya, negara mana saja yang terdampak, dan apakah Indonesia ikut terkena pengaruhnya berikut ini!
Apa Itu Black Monday?
Black Monday adalah sebutan untuk kejatuhan pasar saham global yang terjadi pada 19 Oktober 1987. Pada hari tersebut, indeks saham utama Amerika Serikat, Dow Jones Industrial Average (DJIA), anjlok sebesar 22,6% dalam satu hari. Hingga saat ini, angka tersebut masih menjadi penurunan harian terbesar sepanjang sejarah indeks.
Melansir Encyclopedia Britannica, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang merupakan salah satu indeks saham tertua di Amerika Serikat, mencatat kenaikan yang sangat kuat dan mencapai rekor tertinggi pada Agustus 1987.
Namun, setelah itu pasar mulai mengalami koreksi akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi saham, suku bunga, dan kondisi ekonomi. Pada 19 Oktober 1987, kejatuhan pasar saham yang diawali dari kawasan Asia, termasuk Hong Kong, kemudian menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat sehingga memicu peristiwa yang dikenal sebagai Black Monday.
Peristiwa tersebut menghapus sekitar US$500 miliar kapitalisasi pasar di Amerika Serikat, sementara kerugian secara global diperkirakan mencapai US$1,71 triliun.
Saking parahnya, masyarakat mulai khawatir akan ketidakstabilan ekonomi berkepanjangan alias terulangnya fenomena The Great Depression pada tahun 1929 sampai 1939, dimana tingkat pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat di AS, Inggris Raya, dan Jerman.
Di wilayah Australia dan Selandia Baru, peristiwa ini justru disebut dengan nama Black Tuesday karena terjadi sehari setelah Black Monday. Meskipun ada perbedaan waktu di belahan bumi tersebut, tetapi kerugian pasar saham Australia justru anjlok lebih dari 40%.
Baca Juga: Auto Rejection Saham - Pengertian, Aturan Batas, Serta Perbedaan ARA dan ARB
Kronologi Terjadinya Black Monday 1987
Melansir dari Dupoin, fenomena Black Monday 1987 terjadi dengan rangkaian peristiwa berikut:
14 - 16 Oktober 1987
Banyak pihak setuju bahwa awal terjadinya Black Monday adalah saat hari-hari sebelum Senin, 19 Oktober 1987 itu.
Rabu, 14 Oktober 1987:
Ketidakstabilan pasar mulai meningkat ketika Kongres AS mengajukan proposal perpajakan yang dapat menghilangkan insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan akuisisi melalui skema leveraged buyouts.
Leveraged Buyout adalah suatu proses mengakuisisi suatu perusahaan atau divisi perusahaan lain menggunakan uang pinjaman seperti utang bank atau pihak ketiga. Aset dari perusahaan yang akan diakuisisi itu nantinya akan dijadikan jaminan atas utang tersebut.
Di Indonesia, skema leveraged buyouts diatur pada beberapa dasar hukum salah satunya UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Kondisi tersebut ternyata berdampak negatif terhadap saham sejumlah perusahaan besar yang sedang melakukan merger. Di sisi lain, data defisit perdagangan Amerika Serikat justru lebih buruk dari perkiraan, sehingga semakin memperburuk sentimen pasar dan menyebabkan Dolar AS melemah.
Kamis, 15 Oktober 1987
Terjadi ketegangan militer di Teluk Persia. Kala itu, sebuah rudal Iran menghantam kapal tanker minyak milik AS. Pasar minyak tentu saja bergejolak. Investor mulai cemas akan potensi perang AS-Iran yang mampu mengganggu pasokan energi global.
Pada hari tersebut, indeks Dow Jones Industrial Average turun 95 poin, yang merupakan penurunan besar selama itu.
Jumat, 16 Oktober 1987
Terjadi bencana alam berupa badai besar yang menghantam London, Seluruh wilayah Inggris mengalami kerusakan parah termasuk hilangnya aliran listrik, sehingga memaksa bursa saham London (LSE) tutup lebih awal.
Sementara itu, pasar saham New York masih tetap buka, tetapi pergerakan harga saham berlangsung sangat fluktuatif dan penuh gejolak.
Di AS, indeks Dow Jones Industrial Average turun 108 poin.
19 Oktober 1987 - Wilayah Asia dan Eropa
Sebenarnya, pada Jumat 16 Oktober 1987 sudah banyak investor yang gelisah atas imbas peristiwa tadi. Benar saja, gelombang kegelisahan dari Wall Street selaku Bursa Saham New York yang merupakan bursa saham terbesar di dunia, berubah menjadi kepanikan global.
Pasar Asia (Hong Kong, Tokyo, Sydney)
Bursa Hong Kong yakni Indeks Hang Seng menjadi pihak yang pertama merasakan akibatnya, dengan kemerosotan tajam, sehingga turut memicu aksi jual di Tokyo dan Sydney.
Pasar Eropa (London, Frankfurt)
Pasar saham London akhirnya dibuka kembali setelah bencana alam badai besar. Para investor langsung berbondong-bondong melakukan aksi jual. Alhasil, Bursa London jatuh lebih dari 10% dalam hitungan jam saja.
Sentimen itu tentu berdampak pada Wall Street.
Senin Siang - Wall Street Dibuka
Saat bursa New York dibuka, terjadi ketidakseimbangan besar antara order jual dan beli. Harga jatuh begitu cepat sehingga menyebabkan banyak perdagangan terhenti.
Sistem komputer juga kewalahan memproses jutaan order jual dan beli.
Benar saja, saat penutupan pasar, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan 508 poin.
Penyebab Black Monday 1987
Tidak ada penyebab tunggal yang dianggap menjadi pemicu Black Monday. Para ekonom menilai bahwa krisis tersebut terjadi akibat kombinasi beberapa faktor.
1. Program Trading
Melansir dari Dupoin, faktor teknis ini menjadi penyebab yang paling banyak disebutkan oleh berbagai pihak.
Pada tahun 1980-an, memang penggunaan komputer untuk trading otomatis sudah mulai populer. Kala itu, para investor menggunakan strategi Portfolio Insurance yang diprogram untuk menjual saham secara otomatis ketika harga turun.
Nah, beberapa hari sebelum Black Monday terjadi, program trading tersebut digunakan secara bersamaan sehingga malah menciptakan feedback loop. Mengingat teknologi ini masih tergolong baru pada pertengahan 1980-an, banyak pelaku pasar belum memahami dampaknya terhadap stabilitas pasar.
2. Rumor Naiknya Suku Bunga AS
Melansir dari International Banker, beberapa minggu sebelum Black Monday, sudah terjadi depresiasi yang signifikan pada dollar AS. Kala itu, pihak Federal Reserve selaku bank sentral Amerika Serikat telah menaikkan suku bunga pada September 1987. Sayangnya, kebijakan itu ternyata kurang mampu menopang nilai mata uang tersebut.
Di sisi lain, harga saham yang sudah terlalu tinggi membuat investor mulai beralih ke obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Pelemahan dollar AS dan aksi jual saham secara besar-besaran semakin memperburuk sentimen pasar.
Pada 16 Oktober 1987, bahkan indeks Dow Jones sudah turun 4,6%, yang menjadi pertanda awal dari kejatuhan pasar beberapa hari kemudian.
3. Media Digital
Fenomena Black Monday menjadi peristiwa jatuhnya pasar saham terbesar pertama yang tentu saja diliput oleh media. Alhasil, pemirsa dari seluruh dunia dapat melihat pasar anjlok secara langsung, sehingga menyebabkan kepanikan massal.
4. Kepanikan Massal
Sejalan dengan poin sebelumnya, setelah terjadi penurunan di awal perdagangan. Alhasil, banyak investor yang panik dan ikut-ikutan menjual saham bukan karena fundamental perusahaan buruk, tetapi FOMO.
Terlebih lagi pada kala itu, sumber informasi belum secanggih zaman sekarang, sehingga spekulasi liar kian merajalela.
5. Ketegangan Geopolitik
Spekulasi liar bisa disebabkan oleh ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Menurut Britannica, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan aksi militer Amerika Serikat terhadap platform minyak Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai gangguan pasokan energi dunia.
Ketidakpastian geopolitik tersebut memperburuk sentimen investor.
Baca Juga: 17 Saham Perusahaan Minyak Bumi & Gas Beserta Tantangan Bisnisnya
Dampak Terjadinya Black Monday
Black Monday membawa banyak perubahan dalam sistem keuangan dunia, termasuk Indonesia.
1. Lahirnya Circuit Breaker
Regulator pasar modal memperkenalkan mekanisme circuit breaker, yaitu penghentian perdagangan sementara ketika pasar mengalami penurunan ekstrem. Melansir dari Investopedia, mekanisme circuit breaker ini akan menghentikan seluruh aktivitas perdagangan jika indeks seperti S&P 500 turun secara tidak wajar
Seiring perkembangannya, konsep tersebut melahirkan berbagai aturan pembatasan pergerakan harga saham, termasuk Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) di Indonesia.
Tujuannya untuk mengurangi kepanikan investor dan menjaga perdagangan tetap berlangsung secara teratur saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem.
2. Perubahan Kebijakan Bank Sentral
Menurut Dupoin, dampak lain terjadinya Black Monday 1987 ini adalah adanya perubahan kebijakan pada bank sentral Amerika Serikat yakni Federal Reserve (The Fed).
Di bawah kepemimpinan Alan Greenspan, The Fed berperan besar dalam menjaga stabilitas pasar dengan menyediakan likuiditas dan bertindak sebagai lender of last resort ketika terjadi tekanan di pasar keuangan. Pendekatan ini kemudian menjadi salah satu acuan dalam penanganan berbagai krisis keuangan berikutnya, termasuk krisis keuangan global 2008.
Negara-Negara yang Terdampak Black Monday
Black Monday bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi menyebar hampir ke seluruh dunia.
1. Amerika Serikat
Amerika Serikat mengalami dampak paling besar. Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 22,6% dalam satu hari, yang masih menjadi rekor penurunan harian terbesar hingga saat ini.
2. Hong Kong
Hong Kong menjadi salah satu pasar pertama yang mengalami tekanan. Kejatuhan indeks Hang Seng kemudian memicu kepanikan yang menyebar ke negara lain. Kala itu, Indeks Hang Seng turun 420,81 poin yang artinya merugikan sebesar HK$65 miliar, sekitar 10% dari nilai saham indeks tersebut.
3. Inggris
Pasar saham London juga mengalami penurunan tajam. Bisa dibilang, Inggris justru jadi negara yang apes dua kali karena saat itu mereka masih berduka akibat bencana alam badai besar. Investor di Eropa ikut melakukan aksi jual setelah melihat pelemahan yang terjadi di Asia.
4. Australia
Di Australia, dampak Black Monday bahkan dikenal sebagai Black Tuesday karena perbedaan zona waktu. Pasar saham Australia turun lebih dari 40%.
5. Selandia Baru
Selandia Baru termasuk negara yang paling terpukul. Menurut Britannica, pasar saham Selandia Baru kehilangan hampir dua pertiga nilainya dari puncak tahun 1987.
6. Jepang
Jepang juga mengalami tekanan besar, meskipun dampaknya relatif lebih ringan dibandingkan beberapa negara Barat. Menurut Wikipedia, penurunan pasar saham di Tokyo berada di angka 14,9% dengan total kerugian US$421 miliar.
Angka kerugian itu berada di urutan kedua setelah kerugian New York yakni sebesar US$500 miliar.
Apakah Indonesia Terkena Dampak Black Monday?
Ya, tetapi dampaknya relatif terbatas. Pada tahun 1987, pasar modal Indonesia masih sangat kecil dan belum terintegrasi secara mendalam dengan pasar keuangan global.
FYI, pasar saham Indonesia sudah ada sejak tahun 1912 yang kala itu menjadi bursa efek pertama di Batavia (sekarang menjadi Jakarta) dengan nama Vereniging voor de Effectenhandel. Namun, Bursa Efek Indonesia (BEI), baru diaktifkan kembali pada tahun 1977 dan jumlah emiten maupun investor masih sangat sedikit.
Alhasil, tingkat keterkaitan dengan pasar internasional masih rendah, sehingga dampak langsung Black Monday terhadap Indonesia tidak sebesar yang terjadi di Amerika Serikat, Hong Kong, atau Australia.
Namun demikian, Indonesia tetap merasakan dampak tidak langsung berupa:
- Menurunnya sentimen investor terhadap negara berkembang.
- Berkurangnya aliran modal asing.
- Volatilitas pasar keuangan karena ikut dipengaruhi oleh sentimen global.
Baca Juga: Suspend Saham - Pengertian, Berlaku Berapa Lama, Nasib Pemegang Saham, dan Contoh Emitennya
Mau Berinvestasi Pada Saham?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu peristiwa Black Monday 1987 kejatuhan pasar saham global yang terjadi pada 19 Oktober 1987 dan menjadi salah satu krisis finansial terbesar dalam sejarah modern. Penurunan indeks Dow Jones sebesar 22,6% dalam satu hari memicu kepanikan di berbagai negara dan menyebabkan kerugian triliunan dolar secara global.
Dampak secara tidak langsung pada Indonesia atas peristiwa Black Monday 1987 adalah adanya sistem ARA dan ARB di Bursa Efek Indonesia.
Jika kamu ingin berinvestasi pada saham dapat melalui aplikasi, salah satunya InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Wikipedia. Black Monday 1987.
Investopedia. (2026). Black Monday: Stock Market Crash Causes and Impact.
Oanda. (2025). What is Black Monday? A Beginner’s Guide.
International Banker. (2021). Black Monday 1987.
Dupoin. (2026). Black Monday 1987: Tragedi Runtuhnya Pasar Saham Global dalam Satu Hari.
Britannica. (2026). Black Monday.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)