Pernahkah kamu bertanya-tanya, di mana data dari aplikasi yang digunakan setiap hari itu disimpan?
Saat membuka media sosial, melakukan pembayaran digital, menyimpan foto di cloud, menonton video streaming, memesan makanan, menggunakan aplikasi perbankan, hingga bertanya kepada AI, ada infrastruktur yang bekerja di belakang layar untuk menyimpan dan memproses data tersebut.
Salah satu infrastruktur penting tersebut adalah data center atau pusat data. Seiring meningkatnya penggunaan internet, cloud computing, kecerdasan artifisial (AI), hingga layanan digital, kebutuhan terhadap data center tentu saja ikut berkembang.
Melansir dari penelitian berjudul Downtime Data Center: Memahami Penyebab, Dampak, dan Solusi Efektif menggarisbawahi bahwa besarnya penggunaan tempat penyimpanan data oleh banyaknya organisasi di era digital ini berdampak pada semakin banyak pula data center yang digunakan.
Di Indonesia, perkembangan data center juga mulai terlihat dari ekspansi berbagai perusahaan yang bergerak di bidang pusat data dan infrastruktur pendukungnya. Yuk, simak apa saja saham data center di Indonesia!
Apa Itu Data Center?
Sebelum membahas apa saja saham data center di Indonesia, pahami dulu apa itu data center.
Data center adalah database yang digunakan untuk menyimpan, memproses, mengelola, dan mendistribusikan data di sebuah ruangan fisik. Di dalam sebuah data center, biasanya terdapat berbagai perangkat seperti server, sistem penyimpanan data, perangkat jaringan, sistem keamanan, sumber listrik cadangan, hingga sistem pendingin.
Jadi, data center bukan sekadar sebuah gedung yang berisi komputer saja. Data center dirancang agar perangkat di dalamnya dapat bekerja secara terus-menerus dengan dukungan listrik, konektivitas, pendinginan, keamanan, dan sistem operasional yang memadai.
Eksistensi data center menjadi semakin penting ketika beban komputasi semakin besar. Salah satunya penggunaan AI dengan kebutuhan komputasi jauh yang lebih tinggi dibandingkan aplikasi digital konvensional.
Melansir dari Telkom Indonesia, adanya perkembangan Ai, cloud, dan analitik data berskala besar yang terjadi saat ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur data center, salah satunya AI-Ready Data Center.
Mengingat sekarang ini telah terjadi lonjakan penggunaan AI di berbagai sektor seperti keuangan, manufaktur, kesehatan, hingga pemerintahan, maka mendorong kebutuhan terhadap data center hyperscale yang mampu beroperasi secara fleksibel.
Artinya, data center bukan hanya mendukung aplikasi yang digunakan saat ini, tetapi juga menjadi fondasi untuk teknologi yang sedang berkembang.
Memangnya, data center dipakai untuk kehidupan sehari-hari? Tentu saja eksistensi data center dipakai dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi kamu yang semuanya serba mengandalkan digitalisasi.
Contoh: saat menggunakan mobile banking untuk mengecek saldo maupun melakukan transfer, aplikasi perlu berkomunikasi dengan sistem perbankan yang menyimpan dan memproses data transaksi.
Lalu saat kamu membayar sesuatu menggunakan QRIS, tentu saja perlu diproses melalui infrastruktur sistem pembayaran dan jaringan digital. FYI, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026, tumbuh 28,69% secara tahunan (Sumber: BI)
Ada juga ketika kamu menggunakan AI baik itu Gemini, ChatGPT, Klaude, dan lainnya. Ketika mengetik pertanyaan pada chatbot AI atau menggunakan fitur AI untuk membuat gambar, teks, maupun analisis, maka permintaan tersebut diproses menggunakan infrastruktur komputasi yang membutuhkan server berkapasitas tinggi.
Singkatnya semakin banyak aktivitas yang berpindah ke dunia digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur yang menopangnya.
Baca Juga: 42+ Daftar Saham Teknologi di Indonesia yang Cocok Untuk Jangka Panjang
Apa Saja yang Ada di Dalam Data Center?
Kamu bisa membayangkan data center itu adalah sebuah ekosistem, maka tentu saja di dalamnya memiliki beberapa komponen yang saling terhubung.
Melansir dari AWS Amazon, data center itu berisikan infrastruktur komputasi yang dibutuhkan oleh sistem IT. Mulai dari server, drive penyimpanan data, dan peralatan jaringan.
1. Server dan perangkat komputasi
Server menjadi "otak" yang memproses berbagai permintaan data. Perangkat ini akan menjalankan aplikasi, memproses permintaan pengguna, dan mengolah data yang dibutuhkan oleh berbagai layanan digital.
Nah, untuk AI justru kebutuhan komputasi dapat menjadi jauh lebih besar. Mengingat beban kerja AI itu membutuhkan prosesor berkemampuan tinggi, maka GPU atau akselerator juga harus khusus. Alhasil, data center harus didesain menyesuaikan sistem power dan cooling yang dibutuhkan.
2. Penyimpanan data
Data center juga membutuhkan perangkat penyimpanan untuk menyimpan berbagai jenis data, mulai dari dokumen, foto, video, informasi transaksi, hingga database perusahaan. Bentuknya dapat berupa hard disk, solid-state drive (SSD), storage area network (SAN), maupun network-attached storage (NAS).
3. Konektivitas
Data yang disimpan di data center harus dapat dikirim dan diterima dengan cepat. Itulah kenapa, data center membutuhkan jaringan fiber optik, koneksi internet, interkoneksi antardata center, serta infrastruktur telekomunikasi lainnya.
4. Listrik
Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena server dan perangkat pendukung harus dapat beroperasi secara terus-menerus selama 24 jam. Listrik ini nantinya tidak hanya digunakan untuk menjalankan server saja, tetapi juga sistem daya untuk jaringan, sistem pendingin, keamanan, dan fasilitas pendukung lainnya.
Kebutuhan listrik ini menjadi semakin besar ketika data center digunakan untuk beban kerja AI.
5. Sistem Pendinginan (Cooling)
Server menghasilkan panas ketika beroperasi. Semakin tinggi kemampuan komputasi, semakin besar pula panas yang harus dikelola. Itulah kenapa, sistem cooling menjadi bagian penting dalam data center, termasuk teknologi pendinginan yang dirancang untuk menangani beban komputasi AI.
6. Bangunan dan lokasi
Data center membutuhkan fasilitas fisik yang dirancang khusus agar seluruh sistem dapat berjalan secara berkelanjutan. Selain ruang untuk server, fasilitas tersebut mencakup sistem listrik, pendinginan, jaringan, pemadam kebakaran, keamanan fisik, serta sistem pendukung lainnya.
Lokasi juga menjadi faktor penting. Data center membutuhkan akses terhadap listrik, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur pendukung. That’s why, pembangunan data center dapat menciptakan keterkaitan bisnis dengan pengembang kawasan industri maupun perusahaan konstruksi.
Apa Saja Perusahaan yang Bergerak di Rantai Bisnis Data Center?
Berhubung dalam ekosistem data center itu ada banyak komponen yang saling terhubung, maka tidak sedikit pula perusahaan yang berada di rantai bisnis ini. Secara sederhana, rantai bisnis data center terbagi menjadi 4 kelompok:
1. Operator Data Center
Kelompok pertama adalah perusahaan yang paling dekat dengan bisnis pusat data karena secara langsung mengembangkan atau mengoperasikan fasilitas data center.
Operator data center menyediakan ruang dan infrastruktur bagi pelanggan untuk menempatkan server serta perangkat IT mereka. Fasilitas tersebut dilengkapi dengan sistem listrik, pendinginan, keamanan, jaringan, dan berbagai infrastruktur pendukung agar perangkat dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Ketika semakin banyak perusahaan membutuhkan cloud, AI, penyimpanan data, dan layanan digital, maka kebutuhan terhadap kapasitas data center dapat ikut meningkat.
Namun, bisnis ini juga membutuhkan belanja modal (capex) yang besar, karena penambahan kapasitas berarti membangun fasilitas, membeli perangkat pendukung, menambah kapasitas listrik, serta memperkuat jaringan.
Contoh perusahaan yang bergerak sebagai operator data center adalah DCI Indonesia (DCII) yang telah mengoperasikan data center di beberapa lokasi dengan total 9 data center dan 132 MW shell capacity.
Ada juga Telkom Indonesia (TLKM) yang mengembangkan bisnis data center melalui NeutraDC. Perkembangan data center juga semakin berkaitan dengan kebutuhan cloud dan AI. Komdigi menyebut pusat data kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan data, tetapi juga menjadi fondasi untuk cloud computing, AI, IoT, dan teknologi digital lainnya.
Berikut contoh emiten yang berperan sebagai operator center:
- DCI Indonesia Tbk. - DCII
- Telkom Indonesia Tbk. - TLKM
- Dian Swastatika Sentosa Tbk. - DSSA
- Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. - INET
- Indosat Tbk. - ISAT
2. Listrik & Energi
Data center tentu saja membutuhkan listrik dalam jumlah besar karena server, sistem penyimpanan, jaringan, pendingin, keamanan, dan berbagai fasilitas lainnya harus beroperasi secara terus-menerus.
Kebutuhan ini menjadi semakin besar ketika data center digunakan untuk AI dan high-performance computing, karena perangkat komputasi dengan kepadatan tinggi membutuhkan daya yang lebih besar.
Melansir dari Infradigital Komdigi, pihak Kementerian Komunikasi dan Digital secara resmi menggandeng PT PLN untuk mempercepat proyek Pusat Data Nasional, dimana Indonesia membutuhkan pasokan listrik hingga 2.000 megawatt dan energi termasuk daya rendah karbon untuk pemerataan infrastruktur digital nasional.
Itulah kenapa, perusahaan energi juga aktif dalam ekosistem data center ini. Berikut contoh emiten yang berperan sebagai penyedia listrik dan energi untuk eksistensi data center:
- Cikarang Listrindo Tbk. - POWR - kebutuhan listrik
- Barito Renewables Tbk. - BREN - kebutuhan listrik berbasis energi terbarukan
- Pertamina Geothermal Energy Tbk. - PGEO - kebutuhan listrik berbasis energi terbarukan
- Arkora Hydro Tbk. - ARKO - pembangkit listrik tenaga air
- Perusahaan Gas Negara Tbk. - PGAS - distribusi gas
3. Kawasan Industri & Konstruksi
Perlu kamu pahami bahwa data center itu tidak bisa dibangun sembarangan.
Sebuah pusat data membutuhkan lokasi yang memiliki akses terhadap listrik, jaringan telekomunikasi, air, jalan, keamanan, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Di sinilah pengembang kawasan industri memiliki peran. Perusahaan kawasan industri dapat menyediakan lahan yang telah dilengkapi infrastruktur dasar sehingga perusahaan data center tidak perlu membangun seluruh kebutuhan tersebut dari awal.
Misalnya, PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) yang bergerak di sektor properti & real estate ini telah mengembangkan Data Center Zone sekitar 300 hektare di Kota Deltamas, Cikarang yang didukung jaringan fiber optik dan pasokan listrik premium dari PLN sebesar 993 MVA. Hingga akhir 2025, kawasan tersebut telah memiliki 15 tenant data center.
Berikut contoh emiten yang berperan sebagai pengembang kawasan data center:
- Puradelta Lestari Tbk. - DMAS
- Surya Semesta Internusa Tbk. - SSIA
- Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. - BEST
- Kawasan Industri Jababeka Tbk. - KIJA
- Total Bangun Persada Tbk. - TOTL
4. Fiber & Menara
Data yang tersimpan di pusat data tidak akan banyak berguna jika tidak dapat dikirimkan kepada pengguna. Itulah mengapa, data center membutuhkan konektivitas.
Konektivitas tersebut dapat berasal dari fiber optik, jaringan terrestrial, kabel bawah laut, menara telekomunikasi, hingga berbagai infrastruktur jaringan lainnya.
Singkatnya, pengguna → jaringan → data center → jaringan → pengguna.
Semakin besar penggunaan internet, cloud, streaming, AI, dan layanan digital lainnya, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas jaringan.
Berikut contoh emiten yang berperan sebagai penyedia fiber & menara untuk kebutuhan data center:
- Ekamas Mora Republik Tbk. - MORA
- Ketrosden Triasmitra Tbk. - KETR
- Sarana Menara Nusantara Tbk. - TOWR
- Dayamitra Telekomunikas Tbk. - MTEL
Baca Juga: IDX Green Equity Designation, Label Baru dari BEI Untuk Ekonomi Hijau Rendah Karbon
Mau Berinvestasi Pada Saham Data Center?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu data center dan emiten yang berkontribusi. Data center berfungsi bukan hanya menyimpan data, tetapi juga menyediakan kemampuan komputasi yang dibutuhkan berbagai layanan digital, cloud, big data, dan AI.
Nah, kamu bisa berinvestasi pada saham-saham data center di atas melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Sinaga, Z. A., & Harahap, L. M. (2025). Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Ekonomi Digital: Tantangan Dan Strategi. Jurnal Rumpun Manajemen Dan Ekonomi, 2(3), 26-33.
Sulaiman, S. F., & Priambodo, A. H. (2024). Downtime Data Center: Memahami Penyebab, Dampak, dan Solusi Efektif. Sanskara Manajemen Dan Bisnis, 2(02), 67-78.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)