Kalau kamu baru belajar soal istilah-istilah saham, coba cermati dengan perbedaan growth stock (saham bertumbuh) dan value stock (saham nilai). Kedua kategori saham tersebut tidak hanya berbeda dalam cara pasar menilai perusahaan, tetapi juga memiliki karakteristik risiko, prospek keuntungan, dan dinamika bisnis yang berbeda.
Lagipula, di Indonesia juga sudah ada banyak contoh apa saja growth stocks maupun value stocks. Dua jenis saham ini tentu saja memiliki konsep, karakteristik, peluang, risiko, dan contoh sahamnya yang berbeda.
Perlu diingat bahwa growth stock tidak melulu saham teknologi, dan value stock tidak selalu berarti saham dengan harga murah. Langsung saja simak perbedaan growth stocks dan value stocks berikut ini!
1. Konsep
Growth Stock
Growth stocks adalah saham perusahaan yang diperkirakan memiliki pertumbuhan pendapatan atau laba yang relatif tinggi dibandingkan pasar atau perusahaan sejenis.
Perusahaan growth biasanya tidak membayarkan dividennya secara langsung karena laba digunakan untuk untuk mengembangkan bisnis melalui ekspansi pasar, pengembangan produk, peningkatan kapasitas, atau investasi teknologi. Hal ini dikemukakan pada penelitian berjudul Analisis Sifat-Sifat Growth Stocks Melalui Proses Kelahiran dan Kematian.
Itulah kenapa, sebagai investor kamu wajib memperhitungkan pertumbuhan masa depan, saham growth dapat memiliki valuasi yang relatif tinggi.
Eits, growth stocks tidak selalu berasal dari perusahaan teknologi dan tidak selalu memiliki valuasi tinggi. Klasifikasi growth lebih berkaitan dengan prospek pertumbuhan bisnis perusahaan.
Baca Juga: Growth Stocks: Pengertian, Ciri-Ciri, Risiko, dan Contohnya
Value Stock
Value stocks adalah saham yang dinilai pasar berada di bawah nilai fundamental atau nilai intrinsiknya berdasarkan analisis investor.
Jika melansir dari penelitian berjudul Komparatif Tingkat Pengembalian Antara Value Stocks dan Growth Stocks Pada Perusahaan di Bursa Efek Indonesia, berinvestasi pada value stock justru termasuk pada strategi value investing.
Pada jurnal tersebut, menuliskan bahwa value stock adalah saham dari emiten yang dinilai murah atau undervalue dibandingkan dengan harga wajarnya.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti sentimen pasar, masalah industri yang bersifat sementara, atau karena investor menilai pasar belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Nah, para investor yang menerapkan value investing ini cenderung mencari peluang ketika harga saham dianggap memiliki selisih dengan estimasi nilai wajarnya. Itulah kenapa, value stock bukan sekadar saham yang memiliki harga nominal rendah.
Saham seharga Rp500 belum tentu lebih murah daripada saham seharga Rp5.000. Hal yang lebih penting adalah membandingkan harga saham dengan fundamental dan nilai perusahaan.
2. Ciri-Ciri
Growth Stock
- Pertumbuhan pendapatan dan laba relatif tinggi
Perusahaan memiliki prospek untuk meningkatkan pendapatan atau laba lebih cepat dibandingkan perusahaan sejenis atau rata-rata industri.
- Memiliki peluang ekspansi bisnis
Pertumbuhan dapat berasal dari masuk ke pasar baru, menambah produk, meningkatkan kapasitas, atau memperluas jumlah pelanggan.
- Berinvestasi kembali untuk pertumbuhan
Perusahaan dapat menggunakan laba atau arus kas untuk ekspansi bisnis, sehingga dividen yang dibagikan bisa lebih kecil.
- Valuasi dapat relatif tinggi
Harga saham dapat mencerminkan ekspektasi pertumbuhan di masa depan. Karena itu, rasio seperti PER dapat terlihat tinggi dibandingkan perusahaan lain.
- Sensitif terhadap perubahan ekspektasi
Jika pertumbuhan yang direalisasikan lebih rendah dari perkiraan pasar, harga saham dapat mengalami tekanan.
- Tidak terbatas pada sektor teknologi
Growth stocks bisa berasal dari berbagai sektor selama perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang kuat.
Intinya, growth stocks lebih menekankan seberapa besar bisnis perusahaan dapat berkembang di masa depan
Value Stocks
- Harga saham dinilai relatif murah terhadap fundamental
Investor menilai harga pasar saham berada di bawah estimasi nilai intrinsik atau nilai wajarnya.
- Valuasi relatif rendah
Rasio seperti PER atau PBV dapat lebih rendah dibandingkan perusahaan sejenis, meskipun rasio rendah tidak otomatis berarti saham tersebut merupakan value stock.
- Bisnis cenderung sudah matang
Value stocks sering ditemukan pada perusahaan yang memiliki model bisnis yang sudah mapan, meskipun perusahaan muda juga dapat menjadi value stock jika memenuhi kriteria valuasi tertentu.
- Memiliki fundamental yang dinilai cukup kuat
Investor value biasanya mencari perusahaan yang memiliki aset, laba, arus kas, atau posisi bisnis yang dianggap belum tercermin sepenuhnya dalam harga saham.
- Potensi keuntungan berasal dari revaluasi
Investor berharap pasar pada akhirnya menilai perusahaan lebih sesuai dengan nilai fundamentalnya sehingga harga saham berpotensi meningkat.
- Berisiko mengalami value trap
Saham yang terlihat murah belum tentu undervalued. Harga rendah bisa saja mencerminkan masalah fundamental yang belum terselesaikan.
Intinya, value stocks lebih menekankan apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
3. Fokus Investasi
Growth Stocks
Lebih menitikberatkan pada pertumbuhan bisnis di masa depan.
Jadi, investor akan mencari perusahaan yang memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan, laba, pangsa pasar, atau skala bisnis.
Jika dibuat angan-angan, “Seberapa besar perusahaan ini masih bisa tumbuh?”
Value Stocks
Lebih menitikberatkan pada hubungan antara harga saham dan nilai fundamental perusahaan.
Investor value berusaha menemukan saham yang dianggap dihargai lebih rendah daripada nilai wajarnya.
Jika dibuat angan-angan, “Apakah harga saham saat ini lebih rendah daripada nilai fundamentalnya?”
Baca Juga: Daftar Saham Indeks Growth 30 (Update Agustus 2026)
4. Pertumbuhan Bisnis
Growth Stocks
Growth stocks biasanya memiliki ekspektasi pertumbuhan bisnis yang lebih tinggi. Pertumbuhan tersebut dapat berasal dari:
- peningkatan jumlah pelanggan;
- ekspansi ke pasar baru;
- produk baru;
- peningkatan kapasitas produksi;
- inovasi teknologi;
- atau perubahan tren industri.
Growth stock ≠ perusahaan baru.
Value Stocks
Value stocks tidak harus memiliki pertumbuhan yang tinggi.
Perusahaan value bisa saja merupakan perusahaan yang sudah matang dengan bisnis yang relatif stabil. Namun, pasar mungkin memberikan valuasi yang rendah dibandingkan estimasi nilai fundamentalnya.
Value stock ≠ perusahaan yang sedang mengalami masalah
5. Valuasi Saham
Growth Stock
Saham growth dapat memiliki valuasi relatif tinggi karena pasar sudah memasukkan ekspektasi pertumbuhan masa depan ke dalam harga saham. Beberapa rasio yang dapat digunakan untuk menilai valuasi antara lain:
- Price to Earnings Ratio (PER);
- Price to Book Value (PBV);
- Enterprise Value to EBITDA (EV/EBITDA);
Value Stock
Value stocks sering dicari karena memiliki valuasi yang relatif rendah dibandingkan perusahaan sejenis atau estimasi nilai intrinsiknya.
Namun, valuasi rendah tidak otomatis berarti value stock yang menarik. Bisa saja harga saham rendah karena perusahaan memang menghadapi masalah fundamental.
Begitu juga sebaliknya, PER tinggi tidak otomatis membuat sebuah saham menjadi growth stock. Itulah kenapa, rasio valuasi perlu dilihat bersama dengan pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, prospek industri, dan kualitas bisnis.
6. Dividen
Growth Stock
Biasanya, perusahaan growth stock yang mana sedang mengejar pertumbuhan, lebih memilih untuk menggunakan laba untuk ekspansi bisnis. Itulah kenapa, growth stocks bisa memiliki dividen yang rendah atau tidak membagikan dividen.
Namun, ini bukan aturan mutlak. Perusahaan growth tetap dapat membagikan dividen apabila kondisi keuangan dan kebijakan perusahaan memungkinkan.
Value Stock
Value stocks sering dikaitkan dengan perusahaan yang sudah lebih matang sehingga dapat memiliki kemampuan membagikan dividen secara rutin. Eits, tapi ingat bahwa tidak semua value stocks membayar dividen besar.
Jadi, dividen memang bukan indikator tunggal untuk menentukan apakah suatu saham termasuk growth atau value.
7. Contoh Sahamnya di BEI
Growth Stocks
- GOTO — ekosistem digital dan layanan berbasis teknologi.
- BUKA — bisnis teknologi dan perdagangan digital.
- MTDL — distribusi dan solusi teknologi informasi.
- FILM — bisnis media dan konten.
- ARTO — perbankan digital
Value Stock
- ASII — multisektor
- UNTR — industri pertambangan, konstruksi, energi, dan distribusi alat berat
- ITMG — pertambangan batu bara
*klik kode saham untuk tahu harga terbarunya
(Sumber: Todopedia)
Baca Juga: IDX Green Equity Designation, Label Baru dari BEI Untuk Ekonomi Hijau Rendah Karbon
Tabel Perbedaan Growth Stock dan Value Stock
|
Aspek |
Growth Stocks |
Value Stocks |
|
Fokus |
Pertumbuhan bisnis |
Nilai fundamental |
|
Pertumbuhan |
Cenderung tinggi |
Cenderung lebih stabil |
|
Valuasi |
Bisa relatif tinggi |
Sering relatif rendah |
|
Dividen |
Bisa rendah atau tidak ada |
Bisa lebih rutin |
|
Risiko |
Ekspektasi pertumbuhan tidak tercapai |
Value trap |
|
Potensi return |
Pertumbuhan bisnis & capital gain |
Revaluasi harga & fundamental |
Baca Juga: 42+ Daftar Saham Teknologi di Indonesia yang Cocok Untuk Jangka Panjang
Mau Berinvestasi Saham?
Nah, itulah penjelasan tentang apa saja perbedaan growth stocks dan value stocks dari berbagai aspek. Growth stocks menawarkan potensi imbal hasil tinggi namun dengan risiko lebih besar, sedangkan value stocks menawarkan kestabilan dan “harga miring” yang menjadi peluang menarik bagi investor konservatif.
Contoh-contoh saham growth stock maupun value stock dapat kamu investasikan melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya.
Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Askotamiya, C. (2017). Komparatif Tingkat Pengembalian antara Value Stocks dan Growth Stocks pada Perusahaan di Bursa Efek Indonesia. FIN-ACC (Finance Accounting), 2(5).
Novia Kusumawati (2009). Analisis Sifat-sifat Growth Stocks melalui Proses Kelahiran dan Kematian. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)