Dalam investasi obligasi, ada istilah junk bonds yang mengindikasikan pada obligasi sampah atau tidak layak diinvestasikan. Dari konotasinya saja tampak negatif, buruk, dan berbahaya ‘kan?
Faktanya, junk bonds justru populer karena bagi sebagian investor yang mengejar imbal hasil tinggi (high yield). Meskipun tentu saja, risikonya tidak mungkin kecil. Ingat, prinsip investasi itu high risk-high return, dan sebaliknya.
Yuk, simak apa itu junk bonds alias obligasi sampah dan contoh kasus yang sempat terjadi berikut ini!
Apa Itu Junk Bonds?
Junk bonds alias obligasi sampah adalah jenis obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dengan tingkat keuntungan (kupon) yang tinggi, tetapi risiko gagal bayar juga tinggi. Obligasi sampah memiliki rating di bawah standar oleh para lembaga pemeringkat global seperti Standard & Poors, Moodys Rating, dan Fitch Ratings.
Dalam sistem rating obligasi itu ada 2 jenis yakni:
- Investment Grade yang diberikan pada obligasi layak investasi dengan penilaian di atas BBB- (untuk lembaga S&P dan Fitch), serta di atas Baa3 (untuk lembaga Moody’s).
- Non Investment Grade yang diberikan pada obligasi tidak layak investasi alias junk bonds dengan rating BB, B, CCC, atau bahkan hingga D.
Berdasarkan artikel jurnal berjudul Comparison of Sukuk and Bonds in Capital Market Activities, menuliskan bahwa junk bonds biasanya diterbitkan oleh perusahaan yang berisiko tinggi atau memang bertujuan untuk membiayai rencana merger maupun akuisisi.
Keberadaan junk bonds alias obligasi sampah ini sudah ada sejak tahun 1909 saat pertama kali penilaian obligasi dipublikasi oleh John Moody, pendiri Moody’s Investors Service.
Istilah “junk” memang terdengar negatif. Namun sebenarnya, istilah ini tidak berarti obligasi tersebut tidak bernilai sama sekali karena tetap memberikan yield tinggi meskipun risikonya juga tinggi. Ada beberapa alasan kenapa obligasi jenis ini disebut “junk” alias “sampah”, yakni:
- Penerbit junk bonds biasanya memiliki kondisi keuangan yang tidak stabil atau tingkat utang yang tinggi, sehingga risiko gagal bayarnya juga tinggi.
- Perusahaan penerbit memiliki kredibilitas rendah, sehingga mungkin belum memiliki rekam jejak yang kuat, atau sedang mengalami tekanan bisnis.
- Investor institusi seperti dana pensiun atau asuransi sering dibatasi hanya boleh membeli obligasi dengan rating investment grade saja, karena apabila nekat berinvestasi pada junk bonds justru risikonya tinggi.
Bisa dibilang, label “junk” ini lebih merupakan peringatan risiko, bukan berarti instrumen ini pasti buruk.
Tidak hanya perusahaan, negara juga bisa memiliki status “junk”. Melansir dari The Conversation, menyatakan bahwa obligasi pemerintah jangka panjang di Afrika Selatan memperoleh rating BB+ oleh Fitch dan BB oleh S&P. Artinya, obligasi pemerintah di negara tersebut diklasifikasikan berisiko alias junk bonds.
Negara lain seperti Argentina, Sri Lanka, Ghana, Brazil, hingga Kolombia juga masing memiliki obligasi dengan status junk ini.
Sementara di Indonesia, istilah junk bonds jarang digunakan secara langsung. Namun, konsepnya tetap ada. Obligasi swasta dengan rating di bawah investment grade tetap diterbitkan dan diperdagangkan, meskipun memang jarang diminati, diawasi ketat oleh regulator, dan tentunya dihindari oleh investor institusi.
Baca Juga: 8 Jenis Obligasi Berdasarkan Aspeknya, Ada Apa Saja?
Ciri-Ciri Junk Bonds
Sekalipun junk bonds itu berisiko tinggi, tetapi tetap menarik perhatian para investor yang mengejar keuntungan (yield) tinggi. Pada tahun 1977-1986, keuntungan junk bonds justru mampu sebesar 11,04% lebih tinggi daripada obligasi dengan rating AAA dan AA yang mana hanya 9,36%.
Eits, tetapi ingat bahwa tingkat keuntungan para investor junk bonds juga akan sejalan dengan risiko yang tinggi seperti gagal bayar. Untuk memahami lebih jauh, berikut karakteristik utama dari junk bonds:
- Berhubung risikonya besar, maka penerbit harus menawarkan bunga (yield) lebih tinggi untuk menarik investor.
- Harga junk bonds cenderung lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dan sentimen pasar.
- Sensitif terhadap siklus ekonomi, sehingga saat terjadi anjloknya perekonomian negara, maka risiko gagal bayar juga meningkat.
- Tidak semua junk bonds mudah diperjualbelikan di pasar sekunder.
Kelebihan dan Kekurangan Junk Bonds
Obligasi sampah ini sering diterbitkan oleh perusahaan rintisan atau bahkan perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Memang risikonya tinggi, tetapi yield juga tinggi. Berikut beberapa kelebihan dan kekurangan junk bonds:
|
Kelebihan |
Kekurangan |
|
|
|
|
|
|
Yap, sebagian investor justru sengaja membeli obligasi sampah dengan harapan harganya akan naik, seiring dengan membaiknya kondisi keuangan perusahaan penerbit. Mereka percaya bahwa kondisi ekonomi yang membaik, nantinya akan meningkatkan permintaan obligasi dengan yield tinggi seperti junk bonds ini, sekalipun ratingnya rendah.
Jika banyak investor yang membeli junk bonds, berarti para pelaku pasar bersedia mengambil banyak risiko dengan persepsi adanya perbaikan ekonomi. Namun apabila harga obligasi sampah ini turun, berarti investor memang menghindari risiko dan memilih investasi yang aman.
Perlu kamu cermati lagi bahwa risiko tertinggi dari junk bonds ini adalah perusahaan penerbit gagal membayarkan biaya pokok dan bunga kepada para investor. Hal ini terjadi karena pendapatan dari perusahaan penerbit tidak memiliki aliran dana yang memadai untuk membayarkan itu semua.
Baca Juga: Rating Obligasi - Pengertian, Kode, Faktor Pengaruh, dan Lembaga Pemeringkatnya di Indonesia
Mau Berinvestasi Pada Obligasi?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu junk bonds alias obligasi sampah yang merupakan jenis obligasi dengan peringkat kredit rendah yang menawarkan imbal hasil tinggi, tetapi juga disertai risiko besar.
Meskipun disebut “obligasi sampah”, instrumen ini tetap memiliki nilai dan bahkan bisa menjadi peluang investasi menarik jika digunakan dengan strategi yang tepat. Perlu dicermati bahwa junk bonds tidak cocok untuk semua orang. Instrumen ini lebih sesuai untuk investor dengan profil risiko agresif, investor berpengalaman, atau bahkan investor yang memang sengaja mencari yield tinggi.
Jika kamu adalah investor dengan profil risiko konservatif, sebaiknya menghindari junk bonds ini. Namun apabila kamu penasaran, lebih baik hanya mengalokasikan sebagian kecil dana saja pada obligasi sampah ini.
Sekarang ini, investasi obligasi baik pemerintah maupun swasta juga semakin mudah melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Investopedia. (2025). Junk Bonds: High Risk, High Yield Explained With Credit Ratings.
Bajaj Finance. (2026). What Are Junk Bonds.
The Conversation. (2019). South Africa is close to ‘junk status’ from all three ratings agencies. What could follow?
Fauzan, D. F. A., Al Hafidz, H., & Silviana, D. Z. (2021). Comparison of Sukuk and Bonds in Capital Market Activities: Indonesia. Journal of Islamic Economy and Community Engagement, 3(2), 103-113.
SYAICHU, M. (2004). PERAN JUNK BOND SEBAGAI SUMBER PEMBIAYAAN KORPORASI. Jurnal Studi Manajemen dan Organisasi, 1(no), 51-55.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)