Indonesia sudah lama dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki sumber daya alam energi yang cukup besar, termasuk minyak bumi dan gas alam. Melansir dari World O Meter, cadangan minyak di Indonesia menempati peringkat ke-33 di dunia dengan jumlah 2.410.000.000 barel. Sementara produksi minyak di Indonesia di peringkat ke-23 dari seluruh dunia dengan jumlah 840.868 per hari.
Meskipun produksi minyak nasional tidak sebesar negara-negara Timur Tengah, sektor minyak dan gas bumi (migas) masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Pun demikian pada perusahaan minyak bumi dan gas di Indonesia yang sudah melantai di BEI, pasti selalu dilirik investor sekalipun kinerjanya dipengaruhi oleh harga komoditas energi dunia.
Ketika harga minyak global mengalami kenaikan, saham-saham perusahaan minyak bumi dan gas akan ikut terdorong naik. Sebaliknya, saat harga minyak melemah, kinerja perusahaan migas ini berpotensi mengalami tekanan.
Yuk, simak serba-serbi perusahaan minyak bumi dan gas beserta peran sektor tersebut dalam pergerakan indeks saham Indonesia.
Perusahaan Migas dalam Perekonomian Indonesia
Perusahaan minyak bumi dan gas adalah perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha di sektor energi, khususnya yang berkaitan dengan eksplorasi, produksi, pengolahan, distribusi, hingga perdagangan minyak bumi dan gas alam. Dalam praktiknya, industri migas terbagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu:
1. Hulu (Upstream)
Sektor hulu berfokus pada pencarian cadangan energi dan produksi minyak maupun gas dari dalam bumi. Kegiatan yang termasuk sektor hulu antara lain:
- Survei geologi dan seismik
- Eksplorasi cadangan migas
- Eksploitasi sumur
- Produksi minyak dan gas
FYI, ada perbedaan besar antara kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dalam konteks industri migas. Eksplorasi adalah kegiatan mencari dan menemukan cadangan minyak atau gas bumi yang berpotensi ekonomis dengan tahapan berupa survei geologi, survei seismik, pengeboran sumur eksplorasi.
Sementara eksploitasi adalah kegiatan mengembangkan dan memproduksikan cadangan migas yang telah ditemukan dengan tahapan berupa pengeboran sumur produksi, pembangunan fasilitas produksi, pengangkutan dan penjualan migas.
Ada banyak BUMN dan perusahaan swasta yang berkontribusi dalam sektor hulu ini yakni Pertamina dan PT Medco Energi Internasional Tbk.
2. Hilir (Downstream)
Sektor hilir berhubungan langsung dengan pengolahan dan penjualan produk energi kepada masyarakat maupun industri. Bisa dibilang, kegiatan usaha di sektor hilir ini berfokus pada menghasilkan produk bernilai ekonomi sebagai energi dan bahan baku industri.
Jadi, hasil akhir dari sektor ini berupa kilang minyak, distribusi BBM, distribusi LPG, dan penjualan gas industri. Berhubung Pertamina adalah BUMN terbesar yang berfokus pada sektor minyak bumi dan gas, maka tentu saja turut hadir dalam kegiatan hilir ini.
Sementara perusahaan minyak bumi dan gas swasta yang bekontribusi pada sektor hilir ini adalah PT Anugerah Gasindo dan PT Tribuana Gasindo.
3. Midstream
Segmen ini bertugas mengangkut, menyimpan, dan mendistribusikan minyak maupun gas dari lokasi produksi ke fasilitas pengolahan atau konsumen. Contohnya meliputi jaringan pipa gas, terminal penyimpanan, hingga kapal tanker energi
Baca Juga: 35+ Saham Energi yang Terdaftar di BEI dan Kode Sahamnya
Tantangan Sektor Minyak Bumi dan Gas di Indonesia
Menurut Money Kompas, menyatakan bahwa harga minyak dunia telah melonjak bahkan lebih dari 4% per 1 Juni 2026. Hal ini terjadi setelah Iran menghentikan negosiasi secara tidak langsung dengan AS.
Iran bahkan mempertimbangkan untuk pemblokiran Selat Hormuz secara penuh yang justru memicu kekhawatiran pasar terkait pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah yang kemungkinan akan terganggu.
Nah, berikut 3 tantangan dalam sektor minyak bumi dan gas:
1. Jumlah Cadangan Minyak Terus Menurun
Melansir dari Kata Data, sejak tahun 2012 hingga 2019 wilayah kerja migas terus berkurang. Selain belum ditemukannya lokasi cadangan baru, banyak juga blok migas yang berakhir masa eksplorasinya.
Harga minyak dunia dan ketersediaan cadangan energi menjadi faktor penting yang memengaruhi investasi di sektor migas.
Jika harga minyak turun dalam jangka panjang dan tidak ada penemuan cadangan baru, minat investasi pada industri migas dapat menurun karena prospek produksinya menjadi kurang menarik.
Oleh karena itu, kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber minyak dan gas baru menjadi penting guna menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan industri migas di masa depan.
2. Minyak dan Gas Masih Menjadi Tumpuan Energi
Di Indonesia, minyak bumi dan gas masih menjadi energi yang dominan digunakan. FYI, sudah banyak negara justru mulai mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) karena cadangan minyak dunia juga terus menurun, seperti Swedia dan Jerman.
Jenis EBT ini berfokus pada tenaga panas bumi, tenaga angin, tenaga air, dan sebagainya, sebagai upaya energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pada Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik Tahun 2025-2034 (halaman V-315), menyatakan bahwa pemerintah tengah mengembangkan EBT.
Seiring dengan efek pemanasan global dam tren pembangkit EBT, Indonesia turut berupaya dalam proyek Green Enabling.
3. Penurunan Produksi Minyak Domestik
Berdasarkan laporan penelitian berjudul Dinamika Industri Migas dan Pertambangan di Indonesia, produksi minyak bumi di Indonesia ternyata malah menurun.
Sepanjang Indonesia merdeka, puncak produksi minyak terjadi hanya 2x saja yakni pada tahun 1977 dengan produksi 1,68 juta barel per hari dan pada tahun 1995 dengan jumlah sebesar 1,62 juta barel per hari. Barulah setelah tahun 1995, produksi minyak bumi di Indonesia menurun sekitar 12% pertahun.
Sebaliknya, produksi gas bumi di negara ini justru meningkat sejak tahun 1970-an. Sekalipun akhir-akhir ini produksinya juga cenderung stagnan pada level 8.000 million standard cubic feet per day.
Baca Juga: 32 Perusahaan Pelayaran di Indonesia dan Kode Sahamnya di Bursa
17 Saham Perusahaan Minyak Bumi dan Gas di BEI
Sektor energi merupakan salah satu sektor penting di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan saham-saham sektor migas dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti:
- Harga minyak mentah dunia (Brent dan WTI)
- Nilai tukar rupiah
- Produksi dan lifting migas nasional
- Kebijakan energi pemerintah
- Kondisi geopolitik global
Melansir dari Detik Finance, SKK Migas mencatat bahwa terjadi produksi dan lifting minyak yang mengalami kenaikan sejak Mei-Juni 2025. Produksinya konsisten menjadi 580.405 barel per hari.
Tak jarang, emiten-emiten sektor minyak bumi dan gas juga menjadi penyeimbang IHSG. Berikut daftar saham perusahaan minyak bumi dan gas yang terdaftar di BEI.
- Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
- Elnusa Tbk (ELSA)
- Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
- Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
- Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
- Rukun Raharja Tbk (RAJA)
- AKR Corporindo Tbk (AKRA)
- Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA)
- Super Energy Tbk (SURE)
- Capitalinc Investment Tbk (MTFN)
- Mitra Investindo Tbk (MITI)
- Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS)
- Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK)
- Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO)
- Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)
- Ginting Jaya Energi Tbk (WOWS)
- Sunindo Pratama Tbk (SUNI)
Mau Berinvestasi Pada Saham Migas?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu perusahaan minyak bumi dan gas merupakan bagian penting dari sektor energi Indonesia yang bergerak mulai dari eksplorasi, produksi, distribusi, hingga perdagangan minyak dan gas alam.
Saham migas masih menjadi salah satu pilihan investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap sektor energi dan komoditas. Namun, karakteristik sektor ini cenderung bersifat siklikal (cyclical), artinya kinerjanya sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan harga komoditas global.
Jika kamu ingin berinvestasi pada emiten-emiten di atas, dapat melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Badaruddin, M. (2018). Dinamika Industri Migas dan Pertambangan di Indonesia.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)