Eksistensi bank digital kian menjamur di era serba internet seperti sekarang ini. Coba ‘deh kamu lihat sudah seberapa banyak masyarakat yang bertransaksi menggunakan smartphone maupun tablet, daripada datang ke kantor bank terdekat?
Melalui perubahan perilaku konsumen tersebut kemudian mendorong sektor bisnis perbankan mempercepat transformasi ke arah perbankan digital. Tak hanya itu saja, mereka turut melantai di bursa dan memperdagangkan sahamnya kepada publik.
Memangnya apa saja saham bank digital di BEI? Bagaimana pula peluang bisnisnya di masa sekarang? Langsung simak ulasannya berikut ini!
Apa Itu Bank Digital?
Sesuai namanya, bank digital adalah bank yang menawarkan layanan perbankan secara digital atau melalui internet, tanpa harus datang ke kantor cabang fisik. Semua layanan dari buka rekening, transfer, hingga pinjaman dapat dilakukan melalui aplikasi saja. Biasanya, bank digital dapat berupa bank baru atau bank konvensional yang sudah lama tetapi berinovasi ke digital.
Melansir dari Bank Indonesia, pemanfaatan sistem pembayaran QRIS yang telah menjangkau hampir 60 juta pengguna ini turut meningkatkan penggunaan bank digital di masyarakat kelas bawah sekalipun. Sekitar 93% pengguna QRIS justru berasal dari UMKM, sehingga mencerminkan bahwa digitalisasi keuangan memang telah tumbuh secara organik di masyarakat.
Di Indonesia, penggunaan bank digital berkembang pesat seiring dengan perubahan gaya hidup ke arah cashless, yang didukung pula dengan adanya QRIS di berbagai kalangan penjual.
Pihak OJK juga telah mengatur bank digital ini dalam POJK Nomor 21 Tahun 2023 tentang Layanan Bank Digital oleh Bank Umum. Aturan ini mencakup layanan digital, perizinan, kerja sama, manajemen IT, dan perlindungan data nasabah.
Baca Juga: 11+ Saham Perbankan dan Performanya Pada Tahun 2026
Daftar Saham Bank Digital di Bursa Efek Indonesia
Saat ini, terdapat beberapa emiten bank digital yang sudah tercatat di BEI, di antaranya:
1. Bank Jago - ARTO
Bank Arto mulanya berdiri dengan nama PT Bank Artos Indonesia Tbk. pada tahun 1992 di Bandung. Barulah pada tahun 2016, perusahaan yang bergerak di bidang layanan perbankan digital ini melantai di bursa dengan kode ARTO.
Bank digital yang satu ini tentu memiliki aplikasi yakni Jago sesuai dengan tujuannya untuk menjadi bank berbasis teknologi yang terintegrasi dalam berbagai ekosistem digital. FYI, pada tahun 2020 GoPay mengakuisisi saham ARTO sekitar 22,16% sehingga ada rumor bahwa namanya akan diganti menjadi GoBank, tetapi tidak jadi.
Per 22 April 2026, harga saham ARTO adalah Rp1,375 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham ARTO terbarunya.
2. Bank Neo Commerce - BBYB
Bank Neo Commerce mulanya berdiri pada tahun 1990 dengan nama PT Bank Yudha Bakti. Pada tahun 2020, bank ini bertransformasi menjadi bank digital sekaligus mengganti namanya seperti sekarang.
Pada tahun 2015, bank digital ini melantai di bursa dengan kode BBYB. Pemegang saham mayoritas BBYB ini adalah Akulaku yakni 27,32%, sisanya publik.
Per 22 April 2026, harga saham BBYB adalah Rp330 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham BBYB terbarunya.
3. Allo Bank Indonesia - BBHI
Bank digital yang masuk pada ekosistem konglomerasi CT Corp ini mulanya berdiri pada tahun 1992 dengan nama Bank Harda. Barulah pada tahun 2020, bank ini diakuisisi oleh Mega Corpora dan berfokus pada layanan perbankan secara digital.
Per 22 April 2026, harga saham BBHI adalah Rp1,290 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham BBHI terbarunya.
4. Bank Raya Indonesia - AGRO
Selanjutnya ada Bank Raya Indonesia yang mulanya berdiri pada tahun 1989 dengan nama PT Bank Agro. Setelah diakuisisi oleh BRI, bank digital yang sekaligus menjadi bagian dari BUMN ini berubah nama menjadi PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga.
Bank digital yang memiliki aplikasi bernama Pinang ini melantai di bursa dengan kode AGRO. Per 22 April 2026, harga saham AGRO adalah Rp1,155 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham AGRO terbarunya.
5. Bank Aladin Syariah - BANK
Bank Aladin Syariah ini bisa disebut sebagai bank digital berbasis syariah pertama di Indonesia. Mulanya, bank ini berdiri pada tahun 1994 dengan nama Maybank Nusa International sebagai bank patungan usaha antara Maybank dan Bank Nusa Nasional.
Setelah sahamnya dialihkan kepada Kementerian Keuangan dan Perusahaan Pengelola Aset, maka namanya pun lagi menjadi Bank Maybank Syariah Indonesia, hingga akhirnya berubah lagi menjadi nama yang sekarang.
Pada tahun 2021, bank yang turut berafiliasi dengan Alfamart dan Halodoc ini melantai di bursa dengan kode BANK. Per 22 April 2026, harga saham BANK adalah Rp555 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham BANK terbarunya.
6. Bank Amar Indonesia - AMAR
Selanjutnya ada Bank Amar Indonesia yang didirikan oleh keluarga Noto Suhardjo dan Hartini Wibisono dengan nama Anglomas International Bank pada tahun 1991.
Setelah diakuisisi oleh Tolaram Group pada tahun 2014, akhirnya bank digital ini berubah nama menjadi Bank Amar sekaligus melantai di bursa dengan kode AMAR.
FYI, Bank Amar justru menjadi salah satu pelopor dalam industri teknologi finansial di Indonesia sejak tahun 2014 dengan layanan TunaiKu.
Per 22 April 2026, harga saham AMAR adalah Rp196 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham AMAR terbarunya.
7. Super Bank Indonesia - SUPA
Saham bank digital yang baru saja IPO adalah Super Bank Indonesia dengan kode SUPA. Bank digital ini berdiri pada tahun 1993 dengan nama Bank Fama. Setelah itu, diakuisisi oleh Emtek sebanyak 93%.
FYI, KakaoBank asal Korea Selatan turut menjadi investor SUPA sebesar 10%.
Per 22 April 2026, harga saham SUPA adalah Rp885 per lembarnya. Klik di sini untuk tahu harga saham SUPA terbarunya.
Baca Juga: [e-IPO] SUPA - Profil, Prospektus, Prospek Bisnis, dan Tanggal Pentingnya
Mau Berinvestasi Pada Saham Bank Digital?
Nah, itulah penjelasan tentang apa saja saham bank digital yang memiliki prospek besar seiring dengan meningkatnya gaya hidup cashless di kalangan masyarakat sekarang. Memang saham bank digital itu menawarkan peluang besar, tetapi juga memiliki risiko yang tidak kecil.
Jika kamu ingin berinvestasi pada emiten-emiten di atas, dapat melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya.
Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Alwi, M. N., Fitriana, B., Agil, R., Andriani, M., & Semmawi, R. (2024). Tantangan dan Peluang Perbankan Digital: Studi Kasus Inovasi Keuangan dan Transformasi Perbankan Universitas Brawijaya. Institut Agama Islam Negeri Manado. Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 3 (2): 2160-2177, January.
Arifin, S. (2025). Tantangan dan Peluang yang Dihadapi Perbankan dalam Menghadapi Era Keuangan Digital. Persya: Jurnal Perbankan Syariah, 3(1), 27-33.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)