ARTIKEL
 

Apa Itu ROE Saham, Manfaat, & Cara Menghitungnya

by Dany Mauriz Gibran - 18 Nov 2021 - Reviewed by Rifdah Fatin H.

 

Setidaknya ada tiga jenis return dalam saham, yakni return on equity (RoE), return on investment (RoI) dan return on asset (RoA).

Dari banyak jenis return, investor lebih tertarik dengan return on equity (RoE), karena terdiri dari keuntungan bersih perusahaan setelah dikurangi pajak dan pengeluaran lainnya.

Jika semakin tinggi return on equity (RoE) dalam saham suatu perusahaan, maka semakin baik. Wah, gimana cara hitungnya? Yuk, simak lebih dalam tentang RoE di sini!

 

Apa Itu ROE Dalam Saham?

Return on Equity (RoE) adalah ukuran performa keuangan yang bisa kamu hitung, dengan cara membagi laba bersih perusahaan, dengan ekuitas pemegang saham.

Pada dasarnya, RoE bermanfaat bagi penanam modal saham untuk menghitung tingkat profit yang perusahaan dapat dari transaksi bisnisnya. Besar atau kecilnya RoE pada sebuah perusahaan itu berbeda satu sama lainnya.

RoE berarti sebagai daya laba perusahaan dan bagaimana efisiennya dalam memperoleh profit.

Salah satu parameter yang biasa investor saham perhatikan dalam menganalisis kinerja sebuah bisnis adalah Return on Equity (RoE).

Kalau kamu mau coba membandingkan RoE perusahaan A ke B itu bisa saja. Hal ini berguna untuk mengetahui tingkat profit yang mereka peroleh, asalkan bisnis tersebut dalam sektor yang sama.

Namun, RoE dalam saham bukan satu-satunya alat ukur dalam menilai perusahaan.

 

Bagaimana Cara Menghitung RoE dalam Saham?

RoE bisa sebagai sarana menghitung laba bersih dan ekuitas pada sebuah perusahaan kalau memang angka nya positif.

Rumus Return on Equity = Laba Bersih : Ekuitas Rata-Rata Pemegang Saham

 

Baca juga: Rekomendasi Buku Belajar Investasi Saham

 

Contoh Soal Ekuitas Pemegang Saham

Pada tahun 2021 lalu, ekuitas rata-rata para pemegang saham perusahaan PT Alangkah Indah, adalah sebesar Rp700.000.000 dengan laba bersih sebesar Rp1.500.000.000.

Maka, nilai pengembalian ekuitas  dari perhitungan di atas adalah:

Rp1.500.000.000 : Rp700.000.000 = 2,1 atau 210% ROE.

Lalu bagaimana cara membaca hasilnya?

Hasil mendekati 1: Jadi, jika hasil perhitungan ROE mendekati 1, artinya hal tersebut memberitahu bahwa, semakin efektif dan efisiennya pemakaian ekuitas perusahaan, untuk mencetak pendapatan.

Hasil menuju 0: Sebaliknya, kalau ROE menuju 0, artinya perusahaan tidak sanggup untuk mengelola modal yang tersedia, secara efisien untuk memperoleh pendapatan.

 

download investasiku

 

Return on Equity (ROE) dalam Kinerja Saham

Pertumbuhan yang berkelanjutan dan tingkat pertumbuhan dividen, dapat kita ketahui dengan rumus ROE. Asumsinya adalah, bahwa rasio tersebut sejalan atau tepat melewati rata-rata terhadap perusahaan yang sejenis.

Meskipun bukan satu-satunya acuan untuk mengukur kinerja, ROE bisa kamu pakai sebagai pengukuran yang baik untuk memprediksi masa depan sebuah emiten, nilai saham, dan pertumbuhan dividennya.

Untuk memprediksi tingkat pertumbuhan perusahaan di masa depan, kamu bisa kalikan nilai ROE dengan rasio retensi perusahaan. Apa itu rasio retensi

Rasio retensi adalah persentase laba bersih, yang tertahan atau penanaman modal kembali oleh perusahaan, untuk mendanai pertumbuhan di masa depan.

Asumsinya, terdapat dua perusahaan dengan ROE dan laba bersih yang mirip, tetapi rasio retensinya berbeda.

Misalnya, perusahaan A punya ROE 15% dan mengembalikan 30% dari laba bersihnya, kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Di mana, artinya perusahaan A mempertahankan 70% dari laba bersihnya.

Lalu, ada bisnis B juga yang punya ROE 15%. Tetapi, bisnis tersebut hanya mengembalikan 10% dari laba bersihnya, kepada pemegang saham dengan rasio retensi 90%.

Untuk perusahaan A, tingkat pertumbuhannya adalah 10,5%, atau ROE bisa kamu kalikan dengan rasio retensi, yaitu 15% dikali 70%.

Jadi, tingkat pertumbuhan Bisnis B adalah 13,5%, atau 15% kali 90%.

Analisis ini artinya sebagai model tingkat pertumbuhan berkelanjutan. Investor dapat menggunakan model ini, untuk membuat perkiraan tentang masa depan.

Analisis ini berguna juga untuk mengidentifikasi saham yang bisa berisiko pada masa depan.

Saham yang naik pada tingkat yang lebih lambat dari tingkat berkelanjutannya, itu berarti saham tersebut bernilai rendah atau bisa jadi ada faktor lain, yaitu para pelaku pasar mungkin saja mengabaikan tanda-tanda berisiko dari perusahaan.

 

Menggunakan Return on Equity untuk Mengidentifikasi Masalah

Terkadang banyak banget pertanyaan, Mengapa ROE rata-rata lebih banyak yang suka, daripada ROE yang berkali-kali lipat lebih tinggi daripada rata-rata perusahaan sejenis?

Bukankah saham dengan ROE yang sangat tinggi merupakan nilai yang lebih baik?

Terkadang, ROE yang sangat tinggi adalah hal yang baik jika laba bersih sangat besar jika kamu bandingkan dengan ekuitas karena kinerja perusahaan sangat kuat.

Namun, ROE yang sangat tinggi sering kali disebabkan oleh akun ekuitas yang kecil dibandingkan dengan laba bersih, yang mengindikasikan risiko.

 

ROE bisa Mengidentifikasi 3 Masalah Ini

1. Keuntungan Tidak Konsisten

Masalah potensial pertama dengan ROE tinggi bisa jadi adalah keuntungan yang tidak konsisten.

Bayangkan sebuah perusahaan A, tercatat tidak menghasilkan laba selama beberapa tahun. Kerugian setiap tahun tersebut tercatat pada neraca pada bagian ekuitas sebagai “rugi yang ditahan”.

Kerugian ini merupakan nilai negatif dan mengurangi ekuitas pemegang saham.

 

2. Kelebihan Hutang

Masalah kedua yang dapat menyebabkan ROE tinggi adalah kelebihan utang. Jika perusahaan telah meminjam secara agresif, semakin banyak hutang yang perusahaan raih, semakin rendah ekuitasnya.

Skenario yang umum adalah ketika sebuah perusahaan meminjam utang dalam jumlah besar untuk membeli kembali sahamnya sendiri.

Hal ini dapat meningkatkan pendapatan per saham (EPS), tetapi tidak mempengaruhi kinerja aktual atau tingkat pertumbuhan.

 

3. Pendapatan Bersih Negatif

Jika ekuitas pemegang saham negatif, masalah yang paling umum adalah utang yang berlebihan atau profitabilitas yang tidak konsisten.

Namun, ada sebuah pengecualian untuk aturan tersebut bagi perusahaan telah menggunakan arus kas untuk membeli kembali saham mereka sendiri.

Bagi banyak perusahaan, ini merupakan alternatif untuk membayar dividen, dan pada akhirnya dapat mengurangi ekuitas (pembelian kembali mengalami pengurangan dari ekuitas) cukup untuk mengubah perhitungan menjadi negatif.

Dalam beberapa kasus, tingkat ROE negatif atau sangat tinggi harus dianggap sebagai tanda peringatan yang perlu diselidiki.

Dalam kasus yang jarang terjadi, penyebab rasio ROE negatif itu terjadi akibat program pembelian kembali saham yang didukung arus kas dan manajemen yang sangat baik, tetapi ini adalah hasil yang lebih kecil kemungkinannya.

Bagaimanapun, perusahaan dengan ROE negatif tidak dapat dievaluasi terhadap saham lain dengan rasio ROE positif.

 

download investasiku

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.care@investasiku.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

© 2024 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK KOMINFO