ARTIKEL
 

Profil Sudono Salim Pendiri Grup Salim

by Estrin Vanadianti Lestari - 05 Jan 2023 - Reviewed by Rifdah Fatin H.

 

Apa yang ada di pikiranmu, ketika mendengar kata Salim Group? Apakah langsung bisa mencium bau-bau kekayaan? Ya, Salim Group memang menjadi salah satu perusahaan raksasa, di Indonesia. Bagaimana dengan pemiliknya?

Tentu saja, pemilik dari Salim Group yakni Sudono Salim ini, merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia bahkan Asia. Bahkan, ia juga dikenal dekat dengan mantan Presiden Soeharto.

 

Profil Sudono Salim

Bukannya pemilik Salim Group itu, Anthony Salim ya? Oke, jadi buat kamu yang belum tahu, Anthony Salim ini merupakan anak bungsu dari Sudono Salim. Sehingga, tentu saja orang nomor satu di dalam Salim Group adalah Sudono Salim.

Sudono Salim atau Liem Sioe Liong merupakan pria kelahiran Fuqing, Fuzhou, China pada 16 Juli 1916. Meski lahir di China, Sudono akhirnya pindah atau bermigrasi ke Indonesia dari tahun 1939.

Saat itu, Sudono masih berusia 20 tahun, dan negara Indonesia juga masih dalam masa penjajahan Belanda. Tidak sendirian, di Indonesia ia tinggal bersama dengan pamannya, tepatnya di kota Kudus, Jawa Tengah.

 

Baca juga: Daftar Perusahaan Grup Salim Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

 

Sudono Salim Mendirikan CV dan PT di Indonesia

Saat Sudono bermigrasi ke Indonesia, jiwa bisnisnya pun bergejolak, sampai pada akhirnya di tahun 1969, Sudono mendirikan sebuah CV, bersama rekan-rekannya. Mereka adalah Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, atau lebih dikenal sebagai The Gang of Four.

 

1. CV Waringin Kentjana

Empat orang laki-laki ini, mendirikan sebuah CV bernama CV Waringin Kentjana. Adapun Sudono sendiri sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO.

CV Waringin Kentjana sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, ekspor kopi, lada, karet, tengkawang dan kopra, serta mengimpor gula dan beras.

 

2. PT Bogasari

Setelah berhasil membangun CV, di tahun 1970, The Gang of Four kemudian mendirikan pabrik tepung terigu, bernama PT Bogasari, dengan modal pinjaman dari pemerintah. Ketika pertama berdiri, PT Bogasari berkantor di Jalan Asemka, Jakarta dengan kantor hanya seluas 100 meter.

 

3. PT Indocement

Selanjutnya, pada tahun 1975 kelompok ini juga mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Perkasa. Lagi-lagi bisnis The Gang of Four ini berhasil, bahkan perusahaan semen ini nyaris memonopoli bisnis di sektor semen Indonesia.

 

4. PT Metropolitan Development

Tidak sampai di situ, The Gang of Four bersama Ciputra, juga mendirikan perusahaan real estate, yakni PT Metropolitan Development. Perusahaan ini bergerak di bidang properti yang membangun perumahan mewah Pondok Indah, dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai.

 

5. PT Indomobil

Tidak mau ketinggalan, di bidang otomotif Sudono Salim juga mendirikan kerajaan bisnis bidang otomotif, di bawah bendera PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) dan anak usahanya yakni PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS).

 

6. PT Bank Central Asia (BCA)

Bahkan, Sudono Salim juga merambah ke bidang perbankan, dengan mendirikan Bank Central Asia (BCA) bersama Mochtar Riyadi. Namun, belakangan ini Mochtar Riady membangun Lippo Bank.

 

Baca juga: Salim Group Ambil Bagian Dari Private Placement BUMI

 

Sudono Salim Pindah ke Singapura

Meski bisnisnya cemerlang, namun ada kalanya juga terhambat, seperti saat kejadian krisis ekonomi pada tahun 1998. Nah, semenjak krisis ekonomi dan reformasi politik tersebut, kekayaannya langsung menurun.

Bahkan, rumahnya yang terletak di Gunung Sahari Jakarta pun, ikut dijarah dan diobrak-abrik massa reformasi. Setelah itu, ia memutuskan untuk tinggal di Singapura.

Atas kejadian tersebut, yakni pada 13-14 Mei 1998, sepertinya membuat Sudono trauma untuk tinggal lagi di Indonesia. Selain tempat tinggalnya hancur, bisnis Grup Salim pun ikut jatuh, pada saat krisis moneter 1998.

Kok bisa? Bagaimana tidak? Pada saat itu, Sudono harus menyerahkan sekitar 108 perusahaannya kepada pemerintah, guna membayar utang sebesar Rp52,7 triliun.

 

Sudono Salim Meninggal Dunia di Singapura

Belum sempat kembali ke Indonesia, Sudono Salim meninggal dunia dalam usia 95 tahun. Kematiannya, disebabkan karena sakit akibat usia yang sudah tua, dan dimakamkan di Singapura.

Meski sudah meninggal dunia, Grup Salim masih tetap ada. Kini, semua bisnisnya diwariskan kepada sang anak, yakni Anthony Salim dan menantunya Franciscus Welirang.

Apakah Grup Salim berjaya di tangan Anthony Salim? Tentu saja! Sampai saat ini, sudah ada banyak gurita bisnis yang dipegang Anthony. Baca artikel berikut untuk melihat informasi terkait daftar perusahaan milik Grup Salim yang terdaftar di BEI!

 

download investasiku

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.care@investasiku.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

© 2024 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK KOMINFO