Investasi obligasi sering dianggap sebagai pilihan yang lebih stabil daripada saham. Eits, tetapi, bukan berarti investasi obligasi itu bebas risiko. Salah satu risiko terbesar dalam berinvestasi obligasi adalah perubahan suku bunga dan menjaga arus kas tetap stabil.
Nah, kamu bisa mencoba strategi laddering pada obligasi berikut ini!
Apa Itu Strategi Laddering pada Obligasi?
Melansir dari Investopedia, strategi laddering pada obligasi adalah strategi investasi dengan cara membeli obligasi yang memiliki jatuh tempo berbeda-beda, kemudian menyusunnya seperti tangga alias ladder. Itulah kenapa, strategi ini disebut sebagai bond laddering.
Strategi ini membantu investor dalam mengurangi risiko reinvestasi sambil memanfaatkan perubahan suku bunga.
Kamu pasti tahu kan dalam investasi obligasi, ada faktor yang harus diperhatikan yakni jatuh tempo alias maturity, yang merupakan tanggal penetapan oleh peminjam untuk melunasi utangnya. Walaupun tanggal jatuh tempo ini sudah ditetapkan, bukan berarti obligasi harus disimpan hingga jatuh tempo.
Berdasarkan jatuh tempo tersebut, obligasi terbagi menjadi beberapa kategori, yakni:
- Jangka pendek - kurang dari 5 tahun
- Jangka menengah - antara 5 sampai 10 tahun
- Jangka panjang - lebih dari 10 tahun
Melansir dari East Spring, setiap obligasi pasti sudah memiliki maturity masing-masing. Jadi, kecil peluang semua obligasi dalam portofolio itu memiliki waktu jatuh tempo yang bersamaan.
Alih-alih membeli satu obligasi dengan jangka panjang atau pendek saja, investor membagi dana ke berbagai tenor. Misalnya 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, atau bahkan 10 tahun.
Lantas, berapa jumlah ideal “anak tangga” untuk strategi laddering ini? Sebenarnya, jumlah “anak tangga” alias obligasi yang menyusun strategi ini bergantung pada besarnya investasi dan tingkat diversifikasi setiap investor. Struktur “anak tangga” yang paling dasar biasanya 5 hingga 10 obligasi dengan jatuh tempo berbeda-beda (Investopedia).
Contohnya, ada manajer investasi yang memegang dana Rp100 miliar dan menginvestasikan masing-masing 10 milyar ke berbagai obligasi dengan jangka waktu berbeda, hingga membentuk tangga (ladder).
Saat salah satu obligasi mencapai waktu jatuh tempo, maka dana yang diperoleh dapat diinvestasikan kembali pada obligasi jangka panjang 10 tahun (atau obligasi apapun yang maturity paling jauh). Strategi tersebut berlanjut sehingga akhirnya pihak manajer investasi dapat membentuk tangga penuh untuk obligasi 10 tahun.
Strategi laddering pada obligasi ini memang berupaya mengimbangi risiko harga rata-rata dan risiko tingkat reinvestasi selama siklus tingkat suku bunga. Ingat, bahwa obligasi itu berbanding terbalik dengan suku bunga.
Saat suku bunga naik, harga obligasi akan turun. Saat suku bunga turun, justru harga obligasi naik. Nah, kalau kamu beli semua obligasi di satu waktu yang sama, kemudian suku bunga naik, maka nilai investasi akan turun dalam jumlah besar.
Nah, laddering itu seperti “penyeimbang” dengan risiko tersebut. Melalui strategi laddering, kamu memiliki obligasi jangka pendek, menengah, dan panjang sekaligus. Jadi kondisi apapun, kamu tidak terlalu dirugikan.
Strategi laddering ini hampir mirip dengan strategi diversifikasi, tetapi lebih spesifik pada obligasi saja.
Baca Juga: 15 Istilah Pada Obligasi, Bukan Cuma Coupon Rate Saja!
Cara Kerja Strategi Laddering
Misalnya kamu punya dana Rp200 juta. Alih-alih membeli satu obligasi 10 tahun, kamu membaginya pada obligasi negara:
- Rp50 juta → tenor 2 tahun (kupon 5%)
- Rp50 juta → tenor 4 tahun (kupon 6%)
- Rp50 juta → tenor 6 tahun (kupon 6,5%)
- Rp50 juta → tenor 8 tahun (kupon 7%)
Nah, melalui diversifikasi tersebut akan ada beberapa peluang sebagai berikut:
- Tahun ke-1: obligasi 2 tahun jatuh tempo → dana bisa diinvestasikan lagi ke tenor panjang
- Tahun ke-3: obligasi berikutnya jatuh tempo → ulangi proses
- Begitu seterusnya
Dengan cara ini, portofolio kamu akan terus “berputar” dan tetap seimbang. Selain itu, strategi laddering cocok digunakan saat:
- Kondisi suku bunga tidak pasti
- Investor ingin stabilitas pendapatan
- Menghindari risiko investasi sekaligus
Namun, saat suku bunga sedang sangat rendah, laddering mungkin kurang optimal karena yield yang didapat juga rendah.
Kekurangan Strategi Laddering
Sayangnya, meskipun strategi laddering pada obligasi ini menarik, tetap saja punya kekurangan:
1. Return Tidak Maksimal
Berhubung strategi ini hampir sama dengan diversifikasi, maka potensi keuntungan bisa lebih rendah dibanding strategi agresif. Namun ingat bahwa prinsip investasi itu high risk-high return, dan low risk-low return.
Jika kamu ingin investasi yang benar-benar high return, maka harus high risk juga.
2. Butuh Modal Lebih Besar
Agar efektif, perlu cukup dana untuk membeli beberapa obligasi sekaligus. Khususnya bagi pemula yang masih belum financial stable, mungkin akan sulit.
3. Perlu Pemantauan
Meski tidak terlalu aktif, tetap perlu evaluasi berkala. Tidak semua investor memiliki waktu lebih untuk memantau proyeksi strategi ini.
Tips Menerapkan Strategi Laddering untuk Pemula
Agar strategi ini berjalan optimal, berikut beberapa tips penting:
- Pilih obligasi berkualitas seperti obligasi pemerintah dan obligasi korporasi dengan rating tinggi.
- Sesuaikan dengan tujuan keuanganmu.
- Perhatikan obligasi mana yang likuiditas alias mudah dijual di pasar sekunder sewaktu-waktu.
- Saat obligasi jatuh tempo, jangan dibiarkan menganggur begitu saja. Langsung segera investasikan kembali pada tenor yang lebih panjang.
- Selalu pantau pergerakan suku bunga.
- Gunakan platform investasi yang tepat.
Baca Juga: Rating Obligasi - Pengertian, Kode, Faktor Pengaruh, dan Lembaga Pemeringkatnya di Indonesia
Mau Berinvestasi dengan Strategi Laddering?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu strategi laddering pada obligasi yang cara kerjanya membagi dana ke berbagai tenor obligasi. Meski tidak selalu memberikan return tertinggi, strategi ini unggul dalam hal kestabilan dan manajemen risiko.
Salah satu tips untuk pemula yang ingin menerapkan strategi laddering pada obligasi ini adalah menggunakan aplikasi investasi terpercaya. Misalnya seperti InvestasiKu yang telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya.
Di InvestasiKu, ada banyak obligasi pemerintah seperti FR0059, FR0064, dan lainnya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Sumber:
Investopedia. (2025). Bond Ladder: Overview, Benefits, and Examples.
Investopedia. (2026). Bond Laddering: A Strategy for Income and Risk Management.
Spring Smart. Fixed Income Duration Model Strategy: Ladder, Bullet, Barbell.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)