SAHAM
 

S&P Dow Jones Indices: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Status Indonesia

by Rifda Arum - 10 Jul 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) menjadi sorotan pelaku pasar setelah memasukkan Indonesia ke dalam Watchlist Country Classification 2027. Melansir dari CNBC Indonesia, lembaga indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) ini ternyata kembali mempertahankan status Bursa Efek Indonesia (BEI) pada klasifikasi Emerging Market alias pasar berkembang. 

Pada pengumuman resmi S&P Dow Jones Indices yang dirilis pada 7 Juli 2026, Indonesia berhasil mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market. Namun, pihak S&P DJI turut memberikan peringatan bahwa status tersebut bisa saja berubah jika isu terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar tidak segera diatasi. 

Memangnya, apa itu Indeks S&P Dow Jones Indices itu? Apakah sama saja dengan S&P 500? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu S&P Dow Jones Indices?

S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) merupakan salah satu penyedia indeks pasar keuangan terbesar di dunia. Perusahaan ini adalah hasil kerja sama dari 3 perusahaan yakni S&P Global, CME Group, dan News Corp yang mengelola berbagai indeks saham, obligasi, ESG, hingga komoditas.

Indeks yang diterbitkan S&P DJI digunakan sebagai benchmark oleh investor institusi, manajer investasi, ETF, dana pensiun, hingga sovereign wealth fund untuk mengukur kinerja suatu pasar maupun portofolio investasi.

Saat ini S&P DJI mengelola lebih dari satu juta indeks yang mencakup berbagai negara dan sektor industri, sehingga menjadi salah satu referensi utama dalam investasi global. Indeks yang paling terkenal dari S&P DJI ini adalah S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA). 

Kalau kamu sering membaca berita perekonomian dunia, pasti sering menemukan istilah S&P 500 dan Down Jones Industrial Average ‘kan? Nah, kedua indeks tersebut memang kerap digunakan oleh banyak negara termasuk Indonesia sebagai tolok ukur indikator pasar. 

Setiap tahunnya, S&P DJI melakukan Country Classification Review yakni berupa evaluasi terhadap bagaimana tingkat kematangan dan aksesibilitas pasar modal suatu negara. Nantinya, S&P DJI akan membagi negara-negara tersebut dalam 4 kategori yakni:

  1. Developed Market
  2. Emerging Market
  3. Frontier Market
  4. Standalone Market

Berita terbarunya, pada 7 Juli 2026 silam, pihak D&P DJI merilis informasi bahwa Indonesia masih mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market alias pasar berkembang. Artinya, pasar modal Indonesia dianggap masih layak menjadi tujuan investasi global dan berpotensi memiliki pertumbuhan ekonomi. 

Namun pada pengumuman resmi S&P Dow Jones Indices, turut memberikan peringatan kepada Indonesia bahwa status Emerging Market tersebut bisa saja berubah jika belum ada evaluasi. Evaluasi tersebut berkaitan dengan aspek transparansi kepemilikan saham, efektivitas keterbukaan informasi pemegang saham, dan implikasinya terhadap likuiditas pasar.

FYI, hal ini juga telah disinggung oleh lembaga Index MSCI sebelumnya. 

Apa Fungsi S&P Dow Jones Indices?

Fungsi utama S&P DJI bukan hanya membuat daftar saham saja, tetapi juga menyediakan acuan (benchmark) bagi investor global.

Beberapa fungsi utamanya meliputi:

  • mengukur kinerja pasar saham;
  • menjadi acuan bagi ETF dan reksa dana indeks;
  • membantu investor membandingkan performa portofolio;
  • menyediakan klasifikasi negara berdasarkan tingkat perkembangan pasar modal;
  • menjadi referensi investasi institusi global.

Berhubung ada banyak dana investasi pasif mengikuti indeks S&P, perubahan komposisi indeks atau perubahan klasifikasi suatu negara dapat memengaruhi aliran modal internasional.

Baca Juga: Review MSCI Indonesia 2026 - Bertahan di Emerging Market, Apa Dampaknya Jika Indonesia Turun Status?

Jenis-Jenis Indeks S&P 

Setelah memahami bahwa S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) adalah perusahaan penyedia dan pengelola indeks pasar keuangan, maka tentu saja memiliki beragam indeks saham. 

Simak apa saja!

1. S&P 500

Indeks milik S&P yang paling terkenal adalah S&P 500. Indeks S&P 500 ini berisi sekitar 500 perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat dengan 11 sektor berdasarkan kapitalisasi pasar yang memenuhi berbagai kriteria kelayakan.

Perusahaan seperti Apple, Microsoft, Nvidia, Amazon, Alphabet hingga Berkshire Hathaway termasuk dalam indeks ini. Bagi investor global, S&P 500 sering dianggap sebagai representasi kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Klik di sini untuk tahu grafik Indeks S&P 500.

2. Dow Jones Industrial Average (DJIA)

Dow Jones Industrial Average (DJIA) juga merupakan salah satu indeks saham tertua di dunia yang terdiri dari 30 perusahaan blue chip Amerika Serikat. 

Eits, sekalipun jumlah saham pada indeks ini hanya ada 30 emiten saja, tetapi DJIA masih dianggap sebagai indikator penting bagi pasar saham AS.

Klik di sini untuk tahu grafik Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA).

3. S&P Global BMI

S&P Global Broad Market Index (BMI) meliputi ribuan saham dari puluhan negara developed maupun emerging market. Indeks ini memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi pasar saham global dibandingkan S&P 500.

Melansir dari Investopedia, Indeks S&P Global BMI ini memuat sekitar 11.000 perusahaan di lebih dari 50 negara developed maupun emerging market. Indeks ini juga mencakup S&P Developed BMI dan S&P Emerging BMI. 

Kriteria suatu perusahaan untuk masuk di indeks ini adalah kapitalisasi pasar harus sebesar US$100 juta (sekitar 1 triliun). 

Klik di sini untuk tahu grafik Indeks S&P Global BMI. 

4. S&P Global 1200

Indeks ini menggabungkan beberapa indeks regional sehingga mewakili sekitar 70% kapitalisasi pasar dunia. Investor internasional banyak menggunakan indeks yang diluncurkan pada tahun 1999 ini sebagai benchmark investasi global.

Melansir dari Grokipedia, indeks ini disusun dari 7 sub-indeks regional:

  • S&P 500 (Amerika Serikat)
  • S&P Europe 350 (Eropa)
  • S&P/TOPIX 150 (Jepang)
  • S&P/TSX 60 (Kanada)
  • S&P/ASX AII Australian 50 (Australia)
  • S&P Asia 50 (Asia di luar negara Jepang)
  • S&P Latin America 40 (Amerika Latin)

Klik di sini untuk tahu grafik S&P Global 1200

Baca Juga: Daftar Saham Indeks LQ45 dan Perbedaannya dengan Blue Chip (Update Mei 2026)

Apa Itu S&P Country Classification?

Country Classification merupakan sistem penilaian S&P DJI terhadap tingkat kematangan suatu pasar modal. Penilaian dilakukan menggunakan berbagai indikator, seperti:

  • aksesibilitas pasar;
  • likuiditas;
  • transparansi;
  • perlindungan investor;
  • efisiensi regulasi;
  • kemudahan investasi asing;
  • kualitas infrastruktur pasar modal.

Evaluasi ini dilakukan setiap tahun oleh S&P DJI dalam membagi suatu negara menjadi 4 kategori utama, yakni:

  1. Developed Market, berisikan negara-negara dengan pasar modal yang matang, likuid, memiliki infrastruktur dan regulasi yang baik.
  2. Emerging Market, berisikan negara-negara berkembang dengan pasar modal yang ukuran dan likuiditasnya cukup besar, tetapi masih ada sejumlah tantangan dalam aspek aksesibilitas maupun regulasi. 
  3. Frontier Market, berisikan negara-negara dengan pasar modal yang relatif kecil dan kurang likuid dibandingkan Emerging Market, tetapi masih bisa diakses oleh investor asing. 
  4. Standalone Market, berisikan negara-negara dengan berbagai hambatan yang signifikan, sehingga belum memenuhi syarat untuk masuk sebagai Frontier Market.   

Semakin baik kualitas suatu pasar, semakin besar peluang negara tersebut masuk kategori Developed Market. Sebaliknya, apabila terdapat hambatan struktural yang mengurangi kenyamanan investor global, status suatu negara dapat diturunkan menjadi Frontier Market.

Adanya S&P Country Classification ini berpengaruh besar terhadap bagaimana persepsi investor internasional terhadap suatu negara. Banyak manajer investasi, dana pensiun, ETF, dan reksa dana indeks menggunakan klasifikasi S&P DJI sebagai salah satu referensi dalam menentukan alokasi investasi. 

Bagaimana Eksistensi S&P DJI di Indonesia?

Walaupun Indonesia tidak memiliki indeks seperti S&P 500, hubungan S&P DJI dengan pasar modal Indonesia cukup erat.

Melansir dari IDN Financials, pada 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan S&P Dow Jones Indices meluncurkan tiga indeks hasil kolaborasi, yaitu:

  • S&P/IDX Indonesia ESG Tilted Index
  • S&P/IDX Indonesia Shariah High Dividend Index
  • S&P/IDX Indonesia Dividend Opportunities Index

Indeks-indeks ini akan mencakup saham-saham yang terdaftar di IDX, dikategorikan berdasarkan faktor penilaian ESG dan imbal hasil dividen, meliputi saham konvensional dan saham yang sesuai dengan syariah.

Indeks-indeks tersebut dirancang dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan investor yang mencari peluang di Indonesia.

Pada indeks S&P/IDX Indonesia ESG Tilted Index akan mengukur kinerja saham-saham di Bursa Efek Indonesia dalam lingkup S&P Indonesia LargeMidCap yang memenuhi kriteria berkelanjutan sekaligus meningkatkan skor ESG S&P Global secara keseluruhan. 

Lalu pada indeks S&P/IDX Indonesia Shariah High Dividend Index, akan mengukur kinerja 30 saham dengan dividen tinggi dari S&P Indonesia Sharia BMI yang memenuhi persyaratan Saham Syariah Indonesia.

Terakhir yakni S&P/IDX Indonesia Dividend Opportunities Index akan mengukur kinerja 30 saham dari S&P Indonesia LargeMidCap dengan mempertimbangkan faktor dividen, profitabilitas, rasio pembayaran dividen, dan likuiditas. 

Bagaimana Status Indonesia Menurut S&P DJI?

Pada 7 Juli 2026 silam, pihak D&P DJI merilis informasi bahwa Indonesia masih mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market alias pasar berkembang. Artinya, pasar modal Indonesia dianggap masih layak menjadi tujuan investasi global dan berpotensi memiliki pertumbuhan ekonomi. 

Namun pada pengumuman resmi S&P Dow Jones Indices, turut memberikan peringatan kepada Indonesia bahwa status Emerging Market tersebut bisa saja berubah jika belum ada evaluasi. Evaluasi tersebut berkaitan dengan aspek transparansi kepemilikan saham, efektivitas keterbukaan informasi pemegang saham, dan implikasinya terhadap likuiditas pasar.

Singkatnya,Indonesia tetap berstatus Emerging Market, tetapi masuk ke dalam daftar pemantauan untuk evaluasi tahun 2027. 

Alasan utama yang disampaikan S&P DJI adalah masih adanya perhatian terhadap:

  • transparansi kepemilikan saham;
  • kualitas keterbukaan informasi;
  • potensi dampak terhadap likuiditas pasar.

S&P DJI menyatakan akan terus memantau implementasi panduan yang telah diterbitkan Bursa Efek Indonesia untuk mengatasi isu tersebut.

Apabila kondisi memburuk, S&P DJI dapat menerapkan Special Measures terhadap efek Indonesia. Jika masalah tidak terselesaikan dalam satu tahun setelah tindakan khusus diberlakukan, status Indonesia akan dievaluasi kembali pada peninjauan tahunan berikutnya. 

Melansir dari CNBC Indonesia, pihak Bursa Efek Indonesia menanggapi evaluasi S&P DJI tersebut. Bursa Efek Indonesia menyatakan telah mencermati keputusan S&P DJI dan akan berkoordinasi dengan regulator serta seluruh pemangku kepentingan untuk menjawab berbagai perhatian yang disampaikan.

BEI juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat transparansi dan kualitas keterbukaan informasi guna menjaga daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global.

Baca Juga: Black Monday 1987 - Kronologi, Penyebab, dan Apakah Indonesia Ikut Terdampak Atas Fenomena Ini?

Minat Berinvestasi Saham?

Nah, itulah pengertian apa itu Dow Jones Indices (S&P DJI) yang merupakan salah satu penyedia indeks pasar keuangan terbesar di dunia. Perusahaan ini adalah hasil kerja sama dari 3 perusahaan yakni S&P Global, CME Group, dan News Corp yang mengelola berbagai indeks saham, obligasi, ESG, hingga komoditas.

Bagi Indonesia, status sebagai Emerging Market menjadi faktor penting karena memengaruhi persepsi investor global dan potensi aliran dana asing. Meski Indonesia masih mempertahankan status tersebut, masuknya ke Watchlist S&P 2027 menjadi sinyal bahwa regulator dan pelaku pasar perlu terus meningkatkan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, serta kualitas likuiditas pasar.

Sebagai investor, memahami perkembangan indeks global seperti S&P ini dapat membantumu mengambil keputusan investasi yang lebih bijak. Dengan terus mengikuti dinamika pasar dan memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko, kamu dapat menyusun strategi investasi untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

Jika ingin mulai berinvestasi saham dengan mudah, kamu bisa menggunakan aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO