Tahun 2026 baru berjalan beberapa hari. Artinya, awal tahun ini bisa menjadi momen penting untuk kamu sebagai investor dalam menata kembali strategi investasi. Lagipula, banyak alasan kenapa rebalancing portofolio investasi cocok dilakukan saat awal tahun.
Yap, saat awal tahun justru kerap terjadi perubahan sentimen pasar. Mulai dari strategi investasi baru dari Manajer Investasi khususnya untuk reksadana, outlook ekonomi, dan kebijakan moneter.
Tak hanya itu saja, dari sisi psikologis justru adanya awal tahun memberikan momentum “reset” dari keadaan tahun kemarin. Jadi, investor bisa menyesuaikan kembali portofolio investasi mereka dengan kondisi terbaru, tanpa tergesa-gesa.
Yuk, simak bagaimana konsep rebalancing portofolio di awal tahun ini, khususnya bagi pemula!
Apa Itu Rebalancing Portofolio?
Pahami dulu konsep apa itu rebalancing portofolio.
Rebalancing portofolio adalah proses menyesuaikan kembali komposisi aset investasi agar sejalan dengan alokasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, kamu telah menetapkan alokasi portofolio 60% saham dan 40% instrumen pendapatan tetap. Setelah satu tahun, karena kinerja saham yang lebih baik, porsi saham bisa naik menjadi 70%.
Rebalancing dilakukan dengan cara mengurangi porsi saham dan menambah porsi aset lain agar kembali ke komposisi awal.
FYI, waktu yang ideal bagi investor pemula untuk rebalancing portofolio selain awal tahun adalah saat portofolio sudah jauh melenceng dan setelah terbitnya laporan keuangan tahunan dari emiten. Lagipula, jika terlalu sering rebalancing justru biaya transaksi akan banyak dan malah merugi.
Bagi investor pemula, rebalancing portofolio penting karena membantu mengelola risiko tanpa harus menebak-nebak arah pasar. Proses ini menekankan disiplin investasi dan mencegah keputusan emosional yang sering muncul akibat euforia atau kepanikan pasar, apalagi jika sering scroll sosmed.
Contoh lain, investor pemula dengan profil risiko moderat dapat membagi portofolio ke dalam saham, reksa dana pendapatan tetap, dan instrumen pasar uang. Jika salah satu aset mengalami kenaikan tajam, rebalancing membantu mencegah portofolio menjadi terlalu agresif.
Salah satu kesalahan paling umum dalam hal rebalancing portofolio ini adalah justru terlalu sering melakukan rebalancing. Ingat, apapun yang dilakukan secara berlebihan pasti tidak baik ‘kan?
Pun demikian dengan rebalancing ini. Jika terlalu sering justru, malah bisa meningkatkan biaya transaksi dan mengurangi hasil investasi. Maka dari itu, rebalancing portofolio sebaiknya dilakukan secara berkala saja seperti setahun sekali atau ketika deviasi alokasi sudah cukup besar.
Kesalahan lainnya adalah mengikuti tren tanpa analisis. Rebalancing portofolio seharusnya berdasarkan pada alokasi dan tujuan, bukan pada sentimen sesaat. Tidak perlu FOMO.
Selain itu, kegiatan rebalancing portofolio mampu membantu investor pemula mengendalikan emosi. Mayoritas investor pemula akan mudah panik ketika nilai portofolio investasinya turun.
Alhasil, saat pasar naik, investor cenderung ingin menambah aset yang sedang naik. Sebaliknya, saat pasar turun, muncul dorongan untuk menjual.
Nah, melalui rebalancing portofolio yang dilakukan saat awal tahun ini nantinya akan memberikan kerangka kerja rasional. Jadi, tidak stress atau overthinking lagi.
Baca Juga: Bagaimana Pengaruh Influencer Terhadap Keputusan Investasi Gen Z?
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan
Perhatikan hal-hal ini ketika hendak melakukan rebalancing portofolio investasi, mumpung masih awal tahun.
1. Apakah Tujuan Investasi Masih Sama atau Tidak?
Tanyakan ke dirimu sendiri, apakah tujuan investasi masih sama dengan tahun lalu atau tidak. Baik jangka pendek, jangka menengah, atau bahkan jangka panjang. Apakah itu untuk dana pensiun, beli rumah, atau untuk grow wealth?
Jika tujuanmu belum berubah, maka alokasi awal investasi sebaiknya tetap jadi patokan untuk rebalancing portofolio tahun ini.
Namun jika ternyata tujuan investasi berubah, misalnya kamu tengah butuh dana lebih cepat maka rebalancing dilakukan secara defensif khususnya pada saham-saham yang stabil.
2. Cermati Selalu Profil Risikomu
Ingat, profil risiko itu tidak bisa sama, sekalipun kamu kembar atau bahkan berteman akrab sejak kecil. Jangan ikut-ikutan profil risiko teman, rekan kerja, anggota keluarga, atau bahkan influencer.
Tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kamu masih nyaman melihat portofolio yang naik-turun? Apakah kamu bisa tidur nyenyak tanpa overthinking saat market koreksi?
Jika kamu tidak nyaman, berarti portofolio justru terlalu agresif. Jadi, perlu di-rebalancing ke arah lebih defensif yakni ke obligasi, reksadana pasar uang, maupun saham defensif.
3. Kondisi Fundamental Aset
Rebalancing itu tidak sama dengan aksi jual secara asal-asalan. Kamu harus cermati apakah bisnis emitennya masih sehat atau tidak. Apakah ada perubahan besar pada emiten tersebut misalnya utang melonjak, laba turun tajam, atau malah ada kasus hukum.
Jika ternyata fundamental aset portofolio investasimu memburuk, maka kamu tidak hanya sekadar rebalancing saja. Lakukan cut loss saja secara terencana.
4. Likuiditas Saham
Pastikan saham yang hendak kamu jual itu memang likuid dan spread tidak terlalu lebar. Jangan rebalancing secara agresif, terutama pada saham gorengan.
5. Jangan Kejebak Emosi
Rebalancing portofolio harus secara rasional. Kesalahan umum yang masih saja banyak dilakukan adalah saat saham naik, justru merasa sayang untuk dijual. Sementara saham turun, justru malas untuk menambah.
Yap, saat saham lagi untung pasti kamu akan merasa “wah ini saham jagoan”. Alhasil, muncul ketakutan “nanti kalau dijual, malah ternyata naik lagi gimana?”
Padahal, kalau saham naik terlalu tinggi justru bobotnya di portofolio jadi kebesaran. Risiko portofolio pun ikut naik. Jika koreksi, dampaknya lebih ‘sakit’.
Sementara saham turun, justru malas untuk menambah. Hal ini bisa saja terjadi karena merasa salah pilih saham, sehingga takut melihat market ‘merah’. Alhasil, diri kamu akan menjauh.
Padahal, jika bisnis saham tersebut masih sehat, tidak apa-apa menambah lagi, apalagi jika bobotnya di portofolio masih kekecilan.
Contoh Rebalancing Portofolio untuk Pemula
Archen adalah seorang investor pemula dengan modal Rp10 juta dan profil risikonya adalah moderat. Berikut alokasi awal investasi Archen:
- 60% saham → Rp6.000.000
- 30% reksa dana pendapatan tetap / obligasi → Rp3.000.000
- 10% pasar uang / cash → Rp1.000.000
Nah, setelah berjalan 1 tahun ternyata pasar saham naik, sementara obligasi relatif stabil. Alhasil, portofolionya jadi:
- Saham → Rp7.800.000
- Obligasi → Rp3.100.000
- Pasar uang → Rp1.000.000
Total portofolio sekarang: Rp11.900.000
Ada banyak opsi rebalancing portofolio. Jika kamu hanya ingin rebalancing saham saja, maka bisa dilakukan dengan berinvestasi pada BBRI 40%, BBCA 40%, dan ICBP 15%.
Jika ternyata saat setahun berjalan BBRI naik jadi 50%, sementara BBCA jadi 35%, dan ICBP jadi 15%. Maka, kamu bisa menjual sebagian BBRI, kemudian menambah saham BBCA dan ICBP. Alasan kenapa kamu jual BBRI bukan karena saham tersebut jelek, melainkan karena porsinya kebesaran di portofolio.
DISCLAIMER! Ingat bahwa ini hanya contoh saja, bukan ajakan untuk membeli saham tertentu. Keputusan berinvestasi tetap berada di tanganmu sebagai investor.
Baca Juga: Saham Defensif - Prospek Bisnis dan Tantangan dari 6 Sektor Saham yang Tahan Krisis
Minat Rebalancing Portofolio Mumpung Awal Tahun?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu rebalancing portofolio yang mampu menjaga keseimbangan risiko investasimu. Alih-alih mencoba menebak arah pasar, rebalancing mengajarkan disiplin dan konsistensi.
Kamu bisa langsung melakukan rebalancing portofolio baik pada produk saham defensif, reksadana, maupun obligasi melalui aplikasi InvestasiKu.
Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)