OBLIGASI
 

Medium Term Notes (MTN) - Pengertian, Ciri, Risiko, dan Contoh Produknya

by Rifda Arum - 29 Oct 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Kalau sudah mengenal obligasi, mungkin kamu pernah mendengar istilah Medium Term Notes alias MTN. Instrumen ini sama-sama berupa surat utang yang diterbitkan untuk memperoleh pendanaan, tetapi memiliki karakteristik dan mekanisme penerbitan yang berbeda dari obligasi.

Sebenarnya, Medium Term Notes alias MTN ini bukanlah istilah lama. Pihak Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sudah mencatatkan berbagai MTN dari sejumlah perusahaan. Tanpa basa-basi, langsung saja simak apa itu MTN secara lengkap berikut ini!

Apa Itu MTN?

Medium Term Notes (MTN) adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta dengan jangka waktu menengah. 

Sederhananya, perusahaan swasta menerbitkan MTN untuk mendapatkan dana dari investor dan kemudian memiliki kewajiban membayar imbal hasil atau bunga sesuai ketentuan yang disepakati serta mengembalikan pokok utang ketika jatuh tempo.

Sekilas memang hampir mirip dengan obligasi ya… Eits, tetapi MTN justru berbeda dengan obligasi. Salah satu aspek perbedaannya adalah mekanisme penerbitannya. 

Pada MTN biasanya diterbitkan tanpa melalui tahapan penawaran umum, sehingga investornya memang terbatas. Sementara obligasi diterbitkan melalui penawaran umum sehingga masyarakat luas dapat turut berinvestasi. 

Dalam POJK Nomor 30/POJK.04/2019, Medium Term Notes (MTN) disebut sebagai salah satu contoh bentuk atau nama Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) Tanpa Penawaran Umum. 

Hal itu diatur dalam Pasal 4 yang berbunyi “medium term notes termasuk salah satu contoh EBUS Tanpa Penawaran Umum”

Sementara pada Pasal 3 huruf a mengatur bahwa EBUS Tanpa Penawaran Umum memiliki kriteria jatuh tempo lebih dari 1 tahun, atau jatuh tempo tidak lebih dari 1 tahun tetapi memiliki klausula perpanjangan otomatis yang membuat jatuh temponya menjadi lebih dari 1 tahun. 

Istilah "medium term" sendiri mengacu pada jangka waktunya. Namun, tidak ada satu angka tenor yang bisa digunakan untuk semua MTN. Maksudnya, MTN ini tidak pasti memiliki tenor 1-5 tahun saja. Angka tenor MTN tersebut berbeda-beda, bergantung pada regulasi dan konteks penerbitannya. 

Sebagai contoh, KSEI saat ini mencatat MTN dengan jatuh tempo beberapa tahun setelah penerbitan, bahkan terdapat MTN yang memiliki tenor hingga sekitar lima tahun. 

Jadi, MTN adalah surat utang perusahaan yang diterbitkan untuk memperoleh pendanaan dengan tenor menengah dan umumnya dilakukan tanpa melalui penawaran umum seperti obligasi.

Baca Juga: Kenapa Perusahaan Menerbitkan Obligasi? Ini Alasan dan Perbandingannya dengan Saham

Ciri-Ciri MTN

Ada beberapa karakteristik yang membuat MTN berbeda dari instrumen lain, khususnya obligasi. 

1. Merupakan surat utang

MTN termasuk instrumen berbasis utang. Artinya, investor memiliki hak untuk menerima pembayaran sesuai dengan ketentuan MTN, sementara penerbit memiliki kewajiban untuk memenuhi pembayaran tersebut.

Pihak OJK memasukkan MTN sebagai salah satu bentuk Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) Tanpa Penawaran Umum. 

2. Memiliki jangka waktu tertentu

MTN memiliki tanggal jatuh tempo. Itulah kenapa, sebagai investor kamu perlu memperhatikan berapa lama dana akan ditempatkan sebelum pokoknya jatuh tempo. Tenor setiap MTN dapat berbeda. 

Contoh: MTN Bhakti Multi Artha I Tahun 2022 yang memiliki jatuh tempo pada tahun 2027.

Sementara MTN Asian Bulk Logistics I Tahun 2022 justru memiliki jatuh tempo cukup panjang yakni pada 2032.

3. Memiliki kupon atau bunga sesuai ketentuan penerbitan

MTN dapat memiliki tingkat bunga tetap maupun struktur pembayaran lain sesuai dokumen penerbitannya.

Contohnya, KSEI mencatat MTN Bhakti Multi Artha I Tahun 2022 dengan nilai nominal Rp250 miliar, tingkat bunga tetap 8%, dan pembayaran bunga setiap 6 bulan.

Sementara pada MTN Asian Bulk Logistics I Tahun 2022, nilai nominalnya adalah Rp1 triliun, dengan bunga tetap 8.45%, dan pembayaran bunga setiap 3 bulan. 

4. Tidak selalu diperdagangkan di bursa

Ciri-ciri MTN yang satu ini justru menjadi perbedaan penting antara MTN dan obligasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Kalau kamu perhatikan pada data KSEI, MTN I PT Adhi Guna Putera Tahun 2022 Seri A tercatat dengan status Listing Date: - dan Stock Exchange: -. 

Artinya, MTN tersebut memang tercatat di KSEI, tetapi bukan berarti tercatat untuk diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia seperti saham atau obligasi yang listing di bursa. 

5. Dapat diterbitkan oleh berbagai perusahaan

MTN tidak hanya diterbitkan oleh satu jenis perusahaan. Dalam daftar efek terdaftar KSEI terdapat MTN dari berbagai penerbit.

Misalnya, KSEI mencatat MTN dari Bhakti Multi Artha, Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, Inka Multi Solusi, Mitra Niaga Madani, Gratama Finance Indonesia, hingga Suparma.

Apa Saja Risiko MTN?

Seperti instrumen investasi lainnya, MTN memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan.

1. Risiko gagal bayar

Risiko utama MTN justru dari kemampuan penerbit dalam memenuhi kewajibannya.

Ketika kamu berinvestasi pada MTN, jangan hanya melihat besaran kupon saja, tetapi juga pertimbangkan kondisi keuangan dan kemampuan perusahaan dalam membayar bunga serta pokok utang.

Contohnya adalah kasus gagal bayar yang terjadi pada PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance). Melansir dari Info Bank News, SNP Finance ini mengalami gagal bayar untuk memenuhi kewajiban membayar bunga MTN. 

Ada 2 MTN yang bunganya belum dibayarkan yakni Rp5,25 miliar pada Mei 2018 dan Rp1,5 miliar pada Mei 2018. 

2. Risiko likuiditas

MTN tidak selalu mudah dijual kembali sebelum jatuh tempo.

Berbeda dengan saham yang diperdagangkan secara aktif di bursa, MTN tertentu tidak tercatat untuk diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. 

Itulah kenapa, sebagai investor kamu harus menghadapi kondisi ketika ingin menjual MTN sebelum jatuh tempo tetapi tidak menemukan pihak yang bersedia membeli dengan harga yang sesuai.

Dalam buku saku terbitan OJK berjudul Sikapi Uangmu, menyatakan bahwa MTN tergolong instrumen yang relatif tidak likuid di pasar sekunder sehingga investor umumnya perlu mempertimbangkan kemungkinan memegangnya hingga jatuh tempo.

3. Risiko perubahan kondisi perusahaan

Kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya dapat berubah selama masa MTN.

Misalnya, perusahaan mengalami penurunan pendapatan, peningkatan utang, tekanan arus kas, atau kondisi bisnis yang memburuk. Perubahan tersebut tentu dapat meningkatkan risiko bahwa perusahaan mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya.

Jadi, pahami siapa penerbit MTN dan bagaimana kondisi bisnisnya sebelum berinvestasi pada instrumen keuangan ini.

4. Risiko suku bunga

MTN dengan kupon tetap juga dapat menghadapi risiko perubahan suku bunga.

Misalnya, investor membeli MTN dengan kupon 8%, kemudian suku bunga pasar naik sehingga MTN baru menawarkan kupon 10%. 

MTN yang sudah dimiliki menjadi relatif kurang menarik jika ingin dijual sebelum jatuh tempo, sehingga harganya dapat terpengaruh. Sebaliknya, ketika suku bunga pasar turun, MTN dengan kupon 8% dapat menjadi relatif lebih menarik dibandingkan instrumen baru dengan kupon yang lebih rendah. 

5. Risiko nilai tukar

Tidak semua MTN menggunakan denominasi rupiah. FYI, denominasi adalah mata uang yang digunakan sebagai dasar nilai dan pembayaran suatu instumen. 

Misalnya pada MTN V PT Suparma Tbk Tahun 2026 Tahap I, menggunakan mata uang USD dengan nilai nominal USD 5 juta dan tingkat bunga tetap, dimana jatuh temponya adalah tahun 2031. 

Bagi investor yang memiliki kebutuhan dana dalam rupiah, instrumen berdenominasi valuta asing justru memiliki tambahan risiko perubahan nilai tukar.

Baca Juga: 6 Lembaga Pemeringkat Obligasi di Indonesia Selain Moodys, Apa Saja?

Contoh Produk MTN

Supaya lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh MTN yang benar-benar tercatat di KSEI. 

Namun meskipun produk MTN ini tercatat di KSEI, tetapi bukan berarti terdaftar juga di BEI. Jadi, tidak bisa diinvestasikan oleh masyarakat publik seperti obligasi. 

1. MTN Bhakti Multi Artha I Tahun 2022

  • Nilai nominal: Rp250 miliar
  • Bunga: 8% fixed
  • Pembayaran bunga: setiap enam bulan
  • Jatuh tempo: 6 April 2027
  • Mata uang: Rupiah
  • Status: Active

2. MTN I PT Adhi Guna Putera Tahun 2022 Seri B

  • Nilai nominal: Rp50 miliar
  • Bunga: 10.16%
  • Pembayaran bunga: setiap 3 bulan
  • Jatuh tempo: 30 Desember 2027
  • Mata uang: Rupiah
  • Status: Active

3. MTN Subordinasi II PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Tahun 2023

  • Nilai nominal: Rp100 miliar
  • Bunga: 6.95%
  • Pembayaran bunga: setiap 3 bulan
  • Jatuh tempo: 23 Juni 2028
  • Mata uang: Rupiah
  • Status: Active

Baca Juga: 11 Pihak Dalam Investasi Obligasi, Siapa Saja?

Mau Berinvestasi Pada Obligasi?

Nah, itulah penjelasan apa itu MTN yang merupakan surat utang dengan jangka waktu menengah yang dapat menawarkan kupon sesuai ketentuan penerbitannya. 

Namun, sebelum mempertimbangkannya, sebagai investor kamu perlu melihat banyak hal, tidak hanya sekadar besaran kuponnya saja. Mulai dari kondisi penerbit, tenor, struktur pembayaran, risiko gagal bayar, likuiditas, hingga mata uang yang digunakan.

Jika kamu mencari instrumen pendapatan tetap dengan profil risiko yang relatif lebih rendah, obligasi negara dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan. Sekarang ini investasi obligasi negara dapat dilakukan melalui aplikasi InvestasiKu yang telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik. 

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

KOMINFO