INVESTASI
 

Apakah Rupiah Melemah Bisa Berdampak Pada IHSG? Simak Penjelasannya!

by Rifda Arum - 10 Aug 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Per hari Senin 10 Agustus 2026, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 pe dollar AS. Angka tersebut disebut ‘melemah’ jika dilihat sejak pandemi Covid-19. 

Saat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, tidak sedikit investor yang langsung khawatir IHSG akan ikut turun. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena nilai tukar merupakan salah satu indikator makroekonomi yang memengaruhi sentimen pasar.

Namun, apakah rupiah melemah selalu membuat IHSG turun? Jawabannya tidak selalu.

Pada kondisi tertentu, pelemahan rupiah memang dapat menekan pasar saham karena memicu keluarnya dana investor asing (capital outflow), meningkatkan biaya impor perusahaan, hingga memperbesar beban utang dalam mata uang asing. Di sisi lain, ada pula perusahaan yang justru diuntungkan ketika rupiah melemah, terutama emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS.

Simak bagaimana hubungan nilai tukar rupiah dengan IHSG berikut ini!

Apa Hubungan Rupiah dan IHSG?

Hubungan antara rupiah dan IHSG sebenarnya cukup sederhana. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, maka akan terjadi hal berikut:

Nilai tukar rupiah turun → Investor asing menjadi lebih berhati-hati → Sebagian dana keluar dari pasar saham (capital outflow) → Tekanan jual meningkat → IHSG berpotensi melemah.

Namun, perlu dipahami bahwa nilai tukar bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah IHSG. Pergerakan IHSG ini turut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, suku bunga, harga komoditas, kinerja emiten, hingga sentimen pasar.

Rupiah dikatakan melemah ketika diperlukan jumlah rupiah yang lebih banyak untuk memperoleh satu dolar Amerika Serikat (USD). Contoh: 

  • Pada Agustus 2025: 1 USD =Rp16.090. 
  • Pada Agustus 2026: 1 USD = Rp17.850.

Artinya, nilai tukar rupiah mengalami penurunan atau depresiasi terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:

  • penguatan dolar AS;
  • kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed);
  • meningkatnya ketidakpastian ekonomi global;
  • keluarnya aliran modal asing (capital outflow);
  • kondisi geopolitik; 
  • permintaan valuta asing yang meningkat.

Lantas, apakah rupiah melemah selalu membuat IHSG turun? Jawabannya tidak, karena masih ada banyak faktor pengaruh lain atas pergerakan IHSG seperti:

  • pertumbuhan ekonomi Indonesia;
  • laporan keuangan emiten;
  • harga komoditas dunia;
  • kebijakan pemerintah;
  • tingkat suku bunga; dan
  • sentimen investor global.

Misalnya, ketika harga batu bara, emas, atau nikel meningkat, saham-saham komoditas dapat menguat sehingga membantu menopang IHSG meskipun rupiah sedang melemah.

Artinya, hubungan antara nilai tukar rupiah dan IHSG bukanlah hubungan sebab-akibat yang bersifat mutlak.

Baca Juga: Capital Outflow - Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Contoh Negara yang Mengalaminya

Bagaimana Rupiah Melemah Bisa Membuat IHSG Turun?

Berikut beberapa alasan mengapa pelemahan rupiah sering diikuti tekanan pada pasar saham.

1. Investor Asing Cenderung Mengurangi Investasi

Pasar saham Indonesia masih memiliki porsi investor asing yang cukup besar.

Ketika rupiah melemah, nilai investasi mereka dalam mata uang asal ikut berkurang. Untuk mengurangi risiko nilai tukar (currency risk), sebagian investor memilih menjual saham dan memindahkan dana ke negara atau aset yang dianggap lebih aman.

Fenomena keluarnya dana dari suatu negara ini dikenal sebagai capital outflow.

Semakin besar aksi jual investor asing, semakin besar pula tekanan terhadap IHSG. Ada sebuah studi dari IMF (International Monetary Fund) mengenai arus modal dan nilai tukar menunjukkan bahwa transaksi saham oleh investor asing justru mampu berdampak terhadap pergerakan nilai tukar. 

Berdasarkan jurnal penelitian berjudul Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Return Saham, menggarisbawahi bahwa kondisi ekonomi suatu negara akan mempengaruhi bagaimana nilai tukar sehingga memang diperlukan kestabilan nilai tukar agar tercipta iklim usaha kondusif dan meningkatkan dunia usaha.

Jika nilai rupiah melemah, sementara nilai uang negara lain malah menguat, maka tentu saja investor cenderung memilih untuk berinvestasi di negara lain tersebut.

2. Biaya Impor Perusahaan Meningkat

Nyatanya, memang masih banyak perusahaan di Indonesia masih mengimpor bahan baku, mesin, maupun komponen produksi menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, maka akan terjadi beberapa hal berikut:

  • biaya impor menjadi lebih mahal;
  • biaya produksi meningkat; 
  • laba perusahaan dapat menurun apabila kenaikan biaya tidak dapat dibebankan kepada konsumen.

Prospek laba yang melemah inilah yang sering membuat harga saham ikut terkoreksi. Biasanya, sektor yang relatif sensitif terhadap kondisi ini antara lain:

  • manufaktur
  • otomotif
  • farmasi
  • elektronik.

3. Beban Utang dalam Dolar Bertambah

Sebagian emiten memiliki pinjaman dalam mata uang dolar AS.

Ketika kurs USD/IDR naik, nilai pokok maupun bunga utang yang harus dibayar dalam rupiah ikut meningkat. Akibatnya, beban keuangan perusahaan menjadi lebih besar sehingga berpotensi menekan laba bersih.

Investor umumnya memperhatikan kondisi ini karena dapat memengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

4. Bank Indonesia Menyesuaikan Kebijakan Moneter

Jika pelemahan rupiah dinilai terlalu tajam, Bank Indonesia dapat mengambil berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, salah satunya melalui kebijakan suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia sehingga membantu menarik kembali investasi portofolio asing. Namun, di sisi lain biaya pinjaman bagi dunia usaha juga meningkat sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.

Baca Juga: Suku Bunga - Pengertian, dan Hubungannya Terhadap Harga Saham

Apakah Semua Saham Dirugikan Saat Rupiah Melemah?

Tidak semua sektor saham dirugikan saat rupiah melemah. Pelemahan rupiah memang dapat menjadi sentimen negatif bagi sebagian perusahaan, tetapi ada pula emiten yang justru memperoleh manfaat.

Saham yang Berpotensi Diuntungkan

Perusahaan yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dalam dolar AS biasanya lebih diuntungkan karena pendapatan mereka akan bernilai lebih besar setelah dikonversi ke rupiah. Contohnya pada beberapa perusahaan di sektor:

  • pertambangan;
  • minyak dan gas;
  • logam seperti nikel;
  • emas; 
  • perusahaan berorientasi ekspor.

Saham yang Berpotensi Tertekan

Sebaliknya, perusahaan yang bergantung pada impor atau memiliki utang dolar dalam jumlah besar cenderung menghadapi tekanan. Contohnya sektor:

  • otomotif;
  • maskapai penerbangan;
  • farmasi;
  • elektronik; 
  • perusahaan dengan eksposur utang valas yang tinggi.

Meski demikian, setiap emiten memiliki kondisi yang berbeda. Ada perusahaan yang telah melakukan hedging (lindung nilai) sehingga dampak pelemahan rupiah dapat diminimalkan.

FAQ

Apakah rupiah melemah selalu membuat IHSG turun?

Tidak. Pelemahan rupiah memang dapat memberi tekanan pada IHSG, tetapi arah pergerakan indeks juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti harga komoditas, suku bunga, kondisi ekonomi, dan kinerja emiten.

Mengapa investor asing sering menjual saham saat rupiah melemah?

Karena pelemahan rupiah dapat mengurangi nilai investasi ketika dikonversi ke mata uang asal. Untuk mengurangi risiko nilai tukar, sebagian investor memilih menarik dana dari pasar saham Indonesia dan menginvestasikannya di negara yang stabil mata uangnya.

Sektor apa yang biasanya diuntungkan saat rupiah melemah?

Perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS atau berorientasi ekspor. Contohnya seperti sektor pertambangan, energi, logam, dan beberapa eksportir.

Mau Berinvestasi Saham?

Nah, itulah penjelasan tentang pelemahan rupiah yang ternyata memang dapat memberikan tekanan terhadap IHSG sehingga malah berdampak pula pada peningkatan risiko investasi, mendorong capital outflow, menaikkan biaya impor, dan memperbesar beban utang perusahaan yang menggunakan dolar AS.

Namun, rupiah melemah tidak selalu berarti IHSG pasti turun. Pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi ekonomi, kebijakan moneter, harga komoditas, hingga kinerja masing-masing emiten. Pada beberapa sektor bahkan bisa memperoleh manfaat ketika rupiah melemah.

Sebagai investor, ketika terjadi rupiah melemah seperti sekarang ini, tidak berarti kamu harus langsung menjual seluruh portofolio saham. Ingat, untuk tetap tenang dan hindari keputusan emosional. Fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika pasar yang normal.

Selalu perhatikan fundamental perusahaan. Cerdaslah dalam memilih emiten yang memiliki kinerja keuangan sehat, arus kas yang baik, dan utang yang terkendali. Jangan lupa untuk lakukan diversifikasi portofolio saja. Artinya, jangan menempatkan seluruh dana pada satu sektor agar risiko dapat tersebar dan fokuslah pada tujuan investasi jangka panjang. 

Sekarang ini, kamu bisa dengan mudah berinvestasi pada saham-saham sektor yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dalam dolar AS, sehingga pendapatannya akan bernilai lebih besar setelah dikonversi ke rupiah. Contohnya seperti sektor pertambangan. 

Ada banyak saham pertambangan yang tidak hanya berfokus pada batu bara saja, tetapi juga emas, nikel, tembaga, dan lainnya. Mulai dari ANTM, TINS, ADRO, dan lainnya. Saham-saham tersebut dapat kamu investasikan dengan mudah melalui aplikasi InvestasiKu

Jangan khawatir, aplikasi InvestasiKu yang telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik. 

Sumber:

Permaysinta, E., & Sawitri, A. P. (2021). Pengaruh inflasi, suku bunga dan nilai tukar Rupiah terhadap return saham. Jurnal Neraca: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Ekonomi Akuntansi, 5(1), 41-47. 

Bank Indonesia. Tinjauan Kebijakan Moneter Februari 2026.

Trading Economics. Rupiah Indonesia: Panduan Singkat Indikator Ekonomi dan Keuangan 2026.

Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.





 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO