Kali ini kita bahas seputar pasar saham global yang produknya mungkin kamu gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari Apple dengan ekosistem produknya, Nvidia yang berada di tengah perkembangan artificial intelligence (AI), hingga Tesla yang dikenal lewat kendaraan listrik dan teknologi masa depan.
Beberapa perusahaan ternama tersebut dikelompokkan dengan sebutan khusus yakni Magnificent Seven. Istilah ini merujuk pada 7 perusahaan raksasa Amerika Serikat, yaitu Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Nvidia, Meta Platforms, dan Tesla.
Memangnya, kenapa saham-saham tersebut memiliki banyak peminat? Apakah investor ritel Indonesia bisa ikut membeli sahamnya? Simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Magnificent Seven?
Sebenarnya, Magnificent Seven itu bukan indeks resmi seperti S&P 500 atau Nasdaq Composite. Istilah ini merupakan sebutan untuk 7 perusahaan mega-cap yang memiliki pengaruh besar terhadap pasar saham Amerika Serikat. Ketujuh perusahaan tersebut adalah:
|
Perusahaan |
Ticker |
Bisnis utama |
|
Apple |
AAPL |
Perangkat elektronik dan layanan digital |
|
Microsoft |
MSFT |
Software, cloud, AI |
|
Alphabet |
GOOGL |
Search engine, YouTube, cloud, AI |
|
Amazon |
AMZN |
E-commerce dan cloud computing |
|
Nvidia |
NVDA |
Chip dan infrastruktur AI |
|
Meta Platforms |
META |
Media sosial dan teknologi AI |
|
Tesla |
TSLA |
Kendaraan listrik, energi dan teknologi |
Ketujuh saham ini memiliki karakteristik yang menarik bagi investor. Khususnya dari aspek skala bisnis global, merek yang kuat, basis pengguna yang besar dan eksposur terhadap berbagai tren teknologi.
Melansir dari Fidelity, ketujuh perusahaan ternama tersebut dapat dikategorikan sebagai Magnificent Seven adalah karena ukuran skala bisnis dan kinerjanya di sektor teknologi.
Yap, ketujuh saham tersebut menyumbang sekitar sepertiga dari total kapitalisasi pasar S&P 500 pada akhir tahun 2024. Lalu, pada tahun 2025, ketujuh saham tersebut lagi-lagi memegang pangsa yang sama dari total kapitalisasi pasar indeks dengan lebih dari 40% dari indeks S&P 500.
Istilah Magnificent Seven ini diciptakan oleh Bank of America pada tahun 2023 yang bersumber dari karakter-karakter megah di film dengan judul sama pada tahun 1960-an. (Sumber: Saxo)
FYI, kelompok saham Magnificent Seven ini sebagian besar telah menggantikan kelompok saham FAANG yang populer pada tahun 2013. Saham FAANG ini merupakan akronim dari kelima perusahaan ternama yakni Facebook (sekarang berganti jadi Meta), Amazon, Apple, Netflix, dan Google.
Namun, popularitas bukan berarti ketujuh saham tersebut selalu naik. Pergerakan masing-masing saham dapat berbeda dan investor tetap menghadapi risiko valuasi, persaingan, regulasi serta perubahan siklus industri.
Baca Juga: Klasifikasi IDX-IC - Pengertian, Perbedaan dengan JASICA, Daftar Sektor, dan Contoh Sahamnya
1. Apple (AAPL)
Sektor: Consumer electronics, software, services
Kamu pasti sudah tahu ‘kan jika Apple merupakan salah satu perusahaan teknologi yang memiliki basis pengguna global sangat besar. Daya tarik Apple tidak hanya berasal dari iPhone. Perusahaan juga memiliki bisnis layanan seperti App Store, iCloud, Apple Music dan berbagai layanan digital lainnya.
Ekosistem menjadi salah satu alasan Apple memiliki banyak penggemar. Pengguna yang sudah berada dalam ekosistem Apple cenderung menggunakan beberapa produk sekaligus, seperti iPhone, Mac, iPad, Apple Watch dan layanan digital.
Melansir dari Fidelity, saham Apple telah melonjak lebih dari 1.000% dari tahun 2016 hingga 2026 ini. Terlebih lagi, perhatian investor juga tertuju pada bagaimana Apple mengembangkan strategi AI-nya.
2. Microsoft (MSFT)
Sektor: Software, cloud computing, AI
Microsoft memiliki bisnis yang jauh lebih luas dibanding sekadar sistem operasi Windows. Perusahaan memiliki produk software seperti Microsoft 365, bisnis cloud melalui Azure, layanan enterprise serta berbagai produk berbasis AI.
Azure menjadi salah satu alasan Microsoft banyak diperhatikan investor. Pertumbuhan cloud computing membuat kebutuhan perusahaan terhadap infrastruktur digital meningkat.
Mengingat Microsoft juga menjadi pelopor terciptanya personal computer pada tahun 1990-an, maka perusahaan turut memiliki eksposur besar terhadap perkembangan AI.
Artinya, investor yang membeli Microsoft tidak hanya membeli bisnis software, tetapi juga eksposur terhadap cloud computing dan perkembangan AI.
3. Alphabet (GOOGL dan GOOG)
Sektor: Digital advertising, search, cloud
Awalnya, perusahaan ini memang bernama Google, kemudian berubah nama menjadi Alphabet. Google Search, YouTube, Google Cloud dan sistem operasi Android merupakan bagian dari ekosistem bisnis Alphabet.
Perlu kamu ketahui bahwa perusahaan Alphabet ini memiliki 2 saham yakni GOOGL dan GOOG. Melansir dari Investopedia, perbedaan utamanya adalah saham GOOG tidak memiliki hak suara, sementara saham GOOGL memiliki hak suara bagi investornya.
Saham GOOG adalah saham kelas C milik Alphabet yang memberikan investor kepemilikan atas perusahaannya selayaknya saham biasa, tetapi tidak memberikan hak suara pada rapat. Biasanya saham GOOG ini justru dimiliki oleh karyawan Alphabet itu sendiri.
Sementara saham GOOGL dikategorikan sebagai saham kelas A alias saham biasa yang pada umumnya memberikan investor atas kepemilikan perusahaan dan hak suara pada rapat.
Salah satu kekuatan utama Alphabet adalah jumlah pengguna yang sangat besar. Google Search menjadi pintu masuk bagi banyak aktivitas internet, sementara YouTube menjadi salah satu platform video terbesar di dunia.
Model bisnis iklan digital menjadi sumber pendapatan penting bagi perusahaan. Di sisi lain, Google Cloud memberikan eksposur terhadap pertumbuhan cloud computing. AI juga menjadi salah satu fokus Alphabet melalui pengembangan teknologi dan model AI Gemini. Kamu pasti sering menggunakannya ‘kan?
Dari tahun 2016 hingga 2026, saham Alphabet ini telah tumbuh dari 750% (Sumber: Fidelity)
4. Amazon (AMZN)
Sektor: E-commerce, cloud computing
Amazon dikenal luas sebagai perusahaan e-commerce, tetapi bisnisnya tidak berhenti di perdagangan online.
Amazon Web Services atau AWS merupakan salah satu bisnis penting perusahaan. AWS menyediakan layanan cloud computing untuk perusahaan dan organisasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kombinasi antara e-commerce, cloud computing, iklan digital dan berbagai layanan lainnya membuat Amazon memiliki beberapa sumber pendapatan.
AWS juga membuat Amazon mendapatkan eksposur terhadap perkembangan AI karena perusahaan dan pengembang membutuhkan infrastruktur cloud untuk menjalankan aplikasi AI.
Saham perusahaan Amazon ini telah tumbuh dari 640% dari Februari 2016 hingga Februari 2026. (Sumber: Fidelity)
5. Nvidia (NVDA)
Sektor: Semiconductors, AI
Nvidia menjadi salah satu nama yang paling sering muncul ketika membicarakan AI. Perusahaan dikenal sebagai produsen GPU yang digunakan untuk komputasi berperforma tinggi. Teknologi tersebut kemudian menjadi komponen penting dalam pembangunan data center dan pengembangan AI generatif.
Inilah salah satu alasan Nvidia mendapatkan perhatian besar dari investor. Ketika perusahaan teknologi meningkatkan investasi pada AI, kebutuhan terhadap chip dan infrastruktur komputasi juga ikut meningkat. Nvidia berada di salah satu bagian penting dari rantai pasok tersebut.
Melansir dari Investor’s Business Daily, pada Agustus 2026, Nvidia tercatat sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, sekitar US$5,1 triliun.
6. Meta Platforms (META)
Sektor: Social media, virtual reality
Bisa dibilang, raksasa media sosial yang awalnya bernama Facebook ini kian mentereng namanya setelah mengakuisisi Instagram dan WhatsApp. Salah satu kekuatan Meta adalah jumlah pengguna yang sangat besar dan dapat memonetisasi basis pengguna tersebut melalui bisnis periklanan digital.
AI juga semakin penting bagi Meta. Teknologi AI digunakan untuk meningkatkan rekomendasi konten, penargetan iklan serta berbagai layanan yang digunakan pengguna.
Dengan kata lain, investor tidak hanya melihat Meta sebagai perusahaan media sosial, tetapi juga sebagai perusahaan teknologi yang memiliki data, infrastruktur komputasi dan ekosistem aplikasi yang luas. Per Februari 2016 hingga Februari 2026, saham META melonjak 500% (Sumber: Fidelity).
7. Tesla (TSLA)
Sektor: Electric vehicles, renewable energy
Dari ketujuh Magnificent Seven, sepertinya hanya Tesla saja yang bergerak di sektor paling berbeda. Yap, perusahaan ini bergerak di sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Meskipun demikian, investor melihat perusahaan ini dari perspektif teknologi, baterai, energi dan pengembangan autonomous driving. Lagipula, Tesla juga memiliki basis penggemar yang kuat karena mereknya sangat identik dengan inovasi kendaraan listrik.
Selain itu, visi perusahaan mengenai kendaraan otonom, robotika dan teknologi energi membuat valuasi Tesla tidak hanya bergantung pada jumlah mobil yang terjual saja, tetapi juga produksinya atas atap tenaga surya dan generator energi rumah tangga.
Saham TSLA ini melonjak lebih dari 3.200% dari Februari 2016 hingga Februari 2026.
Baca Juga: 42+ Daftar Saham Teknologi di Indonesia yang Cocok Untuk Jangka Panjang
Apakah Investor Indonesia Bisa Membeli Saham Magnificent Seven?
Tentu saja investor Indonesia bisa membeli saham Magnificent Seven ini, tetapi caranya berbeda dengan membeli saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Investor Indonesia membutuhkan akses ke pasar saham Amerika Serikat melalui perusahaan sekuritas atau platform investasi yang memang menyediakan perdagangan saham AS.
Perlu dipahami bahwa ada beberapa istilah yang berbeda antara saham Indonesia dan saham luar negeri khususnya Magnificent Seven ini. Untuk menyebut kode saham, di luar negeri menggunakan istilah ticker.
Contohnya, saham perusahaan Apple maka ticker-nya adalah AAPL. Lalu, perusahaan Microsoft menggunakan ticker MSFT, dan lainnya.
Pahami juga bahwa investasi saham AS memiliki aspek pajak yang berbeda dari saham Indonesia. Untuk investor non-residen AS, misalnya, dividen dari sumber AS pada umumnya dapat dikenakan withholding tax AS dengan tarif dasar 30%, dengan kemungkinan tarif berbeda apabila terdapat ketentuan tax treaty yang berlaku. (IRS)
Jadi, sebelum membeli saham AS, investor sebaiknya memahami biaya transaksi, spread kurs, pajak dividen, ketentuan pajak Indonesia, serta status regulator platform yang digunakan.
“Magnificent Seven” ala Bursa Efek Indonesia, Memangnya Ada?
Kalau Amerika Serikat punya Magnificent Seven, apakah Indonesia juga punya kelompok saham serupa? Nah, tidak ada kelompok resmi bernama Magnificent Seven yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Magnificent Seven bisa dibilang memiliki karakteristik yang mirip dengan saham blue chip, terutama dari sisi ukuran perusahaan, popularitas, dan pengaruhnya terhadap pasar. Namun, keduanya bukan istilah yang sama.
Blue chip merupakan sebutan yang lebih luas untuk saham perusahaan besar dan mapan, sedangkan Magnificent Seven merujuk secara spesifik pada tujuh perusahaan besar di Amerika Serikat.
Berdasarkan data kapitalisasi pasar per Juli 2026 yang bersumber IDX, 7 emiten dengan kapitalisasi pasar besar adalah sebagai berikut:
|
Posisi |
Kode Saham |
Kapitalisasi Pasar |
|
1 |
Rp771,92 triliun |
|
|
2 |
Rp456,13 triliun |
|
|
3 |
Rp456,13 triliun |
|
|
4 |
Rp448,18 triliun |
|
|
5 |
Rp400,83 triliun |
|
|
6 |
Rp387,16 triliun |
|
|
7 |
Rp298,59 triliun |
*klik kode sahamnya untuk tahu harga terbaru.
Jika melihat data tersebut, menunjukkan bahwa kelompok saham dengan kapitalisasi pasar terbesar per Juli 2026 ini tidak hanya berasal dari sektor teknologi. Ada perbankan, data center, energi terbarukan, batu bara dan infrastruktur telekomunikasi.
Baca Juga: 10+ Saham yang Rajin Bagi Dividen 2 Hingga 3 Kali Setahun, Mana Saja?
Mau Berinvestasi Saham?
Nah, itulah penjelasan tentang apa itu Magnificent Seven yang terdiri dari Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Nvidia, Meta dan Tesla. Ketujuhnya menjadi perhatian karena memiliki skala bisnis global, basis pengguna besar dan eksposur terhadap sejumlah tren pertumbuhan seperti cloud computing dan AI.
Sementara di Indonesia, tidak ada kelompok resmi bernama Magnificent Seven. Namun, istilah tersebut dapat digunakan sebagai analogi untuk tujuh emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Berdasarkan data Juli 2026, kelompok tersebut terdiri dari BBCA, BBRI, DCII, BREN, BYAN, BMRI dan MORA.
Nah, kamu bisa dengan mudah berinvestasi pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar hanya melalui aplikasi saja, salah satunya melalui InvestasiKu.
Jangan khawatir, aplikasi InvestasiKu yang telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual produk investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)