SAHAM
 

Kenapa Saham Turun Padahal Laba Naik? Ini Alasan Logis yang Perlu Dipahami Investor Pemula

by Rifda Arum Adhi Pangesti - 09 Feb 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Investor yang masih rookie alias pemula wajar merasa bingung saat melihat laporan keuangan perusahaan yang berisikan deretan angka-angka itu yang menggambarkan catatan laba. Namun ternyata, meskipun laba perusahaan naik, harga sahamnya justru turun. 

Pasti awalnya kamu akan berpikir bahwa jika laba naik maka seharusnya harga saham ikut naik sehingga menjadi kabar baik bagi pemegang saham. Namun kenyataannya, pergerakan harga saham tidak selalu sejalan dengan angka laba yang tercantum di laporan keuangan.

FYI, fenomena saham turun padahal laba naik sebenarnya cukup umum terjadi di dunia pasar modal. Langsung saja simak penjelasannya berikut ini supaya kamu tidak makin was-was! 

Harga Saham Bergerak Berdasarkan Ekspektasi Pasar

Kamu pasti tahu ‘kan jika harga saham setiap emiten itu berubah kapan saja, bahkan dalam hitungan detik maupun menit sekalipun. Harga saham di pasar bursa itu jelas saja ditentukan oleh para pelaku pasar sekaligus permintaan maupun penawaran saham yang berkaitan. 

Nah, salah satu alasan kenapa harga saham bisa turun padahal laba naik adalah karena pasar saham bergerak berdasarkan ekspektasi, bukan sekadar realisasi kinerja emiten tersebut. Sebelum laporan keuangan dirilis, pelaku pasar biasanya sudah memiliki perkiraan sendiri mengenai seberapa besar laba yang akan dibukukan perusahaan.

Investor pemula pasti berpikir jika “Laba naik → saham pasti naik”. Padahal, harga saham itu sendiri justru mencerminkan ekspektasi masa depan, bukan sekadar kinerja masa lalu. 

Contoh, Archen adalah investor pemula yang memperkirakan laba saham X akan naik 30%. Ternyata saat melihat laporan keuangan dari emiten saham X tersebut, laba hanya naik 15%. 

Ingat, harga saham turun bukan karena kinerjanya jelek, tapi karena hasilnya tidak sesuai harapan pasar.

Jika pasar memperkirakan laba akan tumbuh tinggi, tetapi realisasinya hanya naik tipis, maka pasar bisa menganggap kinerja tersebut tidak sesuai harapan. Walaupun laba tetap meningkat, harga saham bisa saja mengalami tekanan karena ekspektasi yang tidak terpenuhi. 

Dalam dunia investasi, kondisi ini sering disebut sebagai “priced in”, di mana kabar baik sudah tercermin lebih dulu di harga saham.

Baca Juga: Kenapa Harga Saham Naik Turun? Ini 8 Penyebab Faktor Penyebabnya!

Laba Naik, Tetapi Pertumbuhan Mulai Melambat

Kenaikan laba yang diperoleh suatu emiten belum tentu dipandang positif oleh pasar, terutama jika laju pertumbuhannya melambat. Pasar saham sangat menyukai perusahaan yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba yang konsisten dan berkelanjutan.

Konsisten dan berkelanjutan di sini maksudnya misal pada tahun 2023 laba perusahaan naik 50% menjadi Rp100 miliar. Lalu pada tahun 2024, laba naik 10% menjadi Rp110 miliar. Lalu pada tahun 2025, naik lagi 10% menjadi Rp121 miliar. 

Secara teknis memang laba tersebut tidak menurun, justru tetap maju. Hanya saja, ‘kecepatannya’ melambat. Nah, pasar saham itu menilai “kecepatannya”, bukan cuma sekadar “maju atau mundurnya” laba saja. 

Sebuah perusahaan sebelumnya mampu mencatatkan pertumbuhan laba hingga puluhan persen per tahun. Ketika pertumbuhan tersebut melambat, meskipun masih mencatatkan kenaikan laba, pasar bisa mulai khawatir bahwa perusahaan sudah memasuki fase matang atau kehilangan momentum pertumbuhan. Kekhawatiran inilah yang bisa mendorong investor untuk menjual sahamnya, sehingga harga saham mengalami penurunan.

Ingat, tidak semua kenaikan laba dianggap positif oleh pasar.

Kenaikan Laba Tidak Berasal dari Bisnis Utama

Alasan lain yang sering membuat saham turun meski laba naik adalah kualitas laba itu sendiri. Tidak semua laba memiliki kualitas yang sama. Pasar cenderung lebih menghargai laba yang berasal dari aktivitas bisnis utama dan bersifat berulang.

Jika kenaikan laba disebabkan oleh faktor non-operasional seperti penjualan aset, keuntungan kurs, atau pendapatan satu kali, pasar bisa menilai bahwa laba tersebut tidak berkelanjutan. Akibatnya, investor tidak terlalu antusias meski secara laporan keuangan laba terlihat meningkat. 

Dalam jangka panjang, pasar lebih fokus pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari operasional intinya.

Margin Keuntungan Tertekan

Dalam beberapa kasus, laba perusahaan memang naik, tetapi margin keuntungan justru menurun. Hal ini bisa terjadi ketika kenaikan pendapatan diiringi dengan lonjakan biaya, baik biaya bahan baku, tenaga kerja, maupun beban operasional lainnya.

Kondisi ini membuat pasar mulai mengantisipasi tekanan profitabilitas di masa depan. Investor bisa khawatir bahwa jika biaya terus meningkat, laba perusahaan ke depan tidak akan sekuat periode sebelumnya. 

Meskipun laba saat ini masih tumbuh, kekhawatiran tersebut dapat tercermin dalam penurunan harga saham.

Valuasi Saham Sudah Terlalu Tinggi

Tidak jarang saham turun setelah rilis laporan keuangan positif karena valuasinya sudah terlalu mahal. Jika harga saham sebelumnya sudah naik signifikan, maka kabar laba naik bisa dianggap sebagai sesuatu yang sudah wajar dan tidak lagi menjadi kejutan.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor memilih untuk melakukan aksi ambil untung. Tekanan jual yang muncul setelah periode kenaikan panjang dapat membuat harga saham terkoreksi, meskipun kinerja perusahaan secara fundamental masih tergolong baik.

Pasar Lebih Fokus ke Prospek Masa Depan

Perlu dipahami bahwa pasar saham bersifat forward-looking, artinya investor lebih memperhatikan prospek ke depan daripada kinerja masa lalu. Laba yang naik saat ini bisa saja kalah penting daripada proyeksi pertumbuhan bisnis di masa mendatang.

Jika manajemen memberikan sinyal perlambatan, tantangan industri, atau ketidakpastian ke depan, pasar bisa bereaksi negatif. Dalam situasi ini, saham dapat turun meski laporan keuangan menunjukkan kinerja yang positif.

Sentimen Pasar Sedang Tidak Mendukung

Faktor eksternal juga sering menjadi penyebab saham turun meskipun laba perusahaan meningkat. Ketika sentimen pasar secara umum sedang negatif, seperti akibat tekanan global atau pelemahan indeks, saham-saham dengan fundamental baik pun bisa ikut terkoreksi.

Investor cenderung mengurangi eksposur risiko dalam kondisi pasar yang tidak kondusif. Akibatnya, tekanan jual tidak hanya terjadi pada saham yang kinerjanya buruk, tetapi juga pada saham yang mencatatkan pertumbuhan laba.

Minat Berinvestasi Pada Saham Blue Chip?

Dapat disimpulkan bahwa harga saham turun padahal laba naik bukanlah hal yang aneh di pasar modal. Pergerakan harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari ekspektasi pasar, kualitas laba, valuasi, hingga sentimen global. 

Bagi kamu yang masih pemula, penting memahami bahwa laba naik tidak otomatis membuat harga saham ikut naik. Jika kamu masih merasa was-was, bisa berinvestasi pada saham blue chip yang masuk daftar indeks IDX30 maupun LQ45. 

Sebut saja ada BBCA, TLKM, ASII, dan lainnya pada aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik. 

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO