Beberapa hari lagi menjelang Hari Valentine yang identik dengan cinta, cokelat, dan janji manis seperti politikus. Eits, tapi di balik semua yang serba romantis itu, ada satu pelajaran penting yang sering luput disadari bahwa tidak semua yang terlihat indah di awal berakhir bahagia. Hal ini berlaku bukan cuma dalam hubungan, tapi juga dalam dunia investasi.
Nyatanya, memang banyak investor pemula jatuh ke lubang yang sama karena mengabaikan red flag. Sama seperti cinta, investasi juga butuh logika, kesabaran, dan kewaspadaan. Kalau tidak, bukannya cuan, yang ada malah boncos.
Menariknya, kesalahan investasi pemula sering kali mirip dengan kesalahan saat jatuh cinta. Yuk, bahas perbandingannya biar kamu nggak salah pilih pasangan, dan nggak salah pilih instrumen investasi.
Kenapa Red Flag Penting, Baik di Cinta Maupun Investasi?
Red flag adalah tanda peringatan dini.
Dalam hubungan, red flag membantumu menghindari hubungan toxic. Dalam investasi, red flag justru menyelamatkanmu dari keputusan finansial yang merugikan.
Masalahnya, banyak orang yang terlalu fokus sama janji manis saja, sehingga mengabaikan logika. Tuhan sudah memberikanmu akal, maka pergunakan sebaik-baiknya dan tidak langsung FOMO begitu saja.
Ingat baik cinta maupun investasi sama-sama butuh rasionalitas. Jangan sampai kamu kaya pepatah klasik “lepas dari mulut harimau, malah jatuh ke mulut buaya”. Sudah terjebak pada hubungan toxic, terkena investasi bodong pula.
Kalau di hubungan percintaan, hal-hal yang terlalu manis justru harus kamu curigai. Baru kenal sebentar, tapi doi sudah janji ngalor-ngidul soal pernikahan dan masa depan, tiba-tiba terlalu perhatian, dan bahkan terlalu sempurna. Too good to be true, pasti terkesan aneh.
Sementara di konteks investasi, instrumen apapun itu jika sudah mengobral klaim return tinggi dalam waktu singkat dan bahkan dengan embel-embel tanpa risiko, harus kamu curigai juga. Meskipun sudah diberi laporan keuangan yang grafiknya naik terus tanpa koreksi, kamu harus hati-hati.
“Ini mah udah pasti untung.”
“Nggak mungkin rugi.”
Kalimat seperti ini terdengar meyakinkan, tapi justru red flag. Faktanya tidak ada investasi yang 100% pasti untung. Instrumen paling aman seperti obligasi saja tetap punya potensi turun dan risiko. Investor pemula sering terjebak karena percaya kata-kata, bukan data.
Ingat, risiko tinggi selalu sebanding dengan imbal hasil (return) yang tinggi pula. Jangan sampai kamu terjebak pada kesalahan investasi pemula yang rata-rata terbuai janji imbal hasil tinggi tetapi tanpa risiko sama sekali.
Baca Juga: Penjelasan High Risk High Return Investasi Saham
Ikut-ikutan Teman vs FOMO Investasi
Kalau lagi ngobrol sama temen, pasti bakal ada celotehan tentang “Eh si X kenal sama pacarnya di dating apps dan mereka keliatan bahagia gitu, romantis terus. Pengen deh”. Akhirnya ikut-ikutan download dating apps dan langsung swipe right. Tanpa basa-basi, langsung ketemuan dan terbuai janji manis.
Hal-hal itu sama saja dengan FOMO. Merasa takut ketinggalan tren dapat pasangan dari dating apps. Jangan pernah mengambil keputusan pakai perasaan saja. Logika juga harus main.
Sementara di investasi, celotehan tentang “Eh temenku berhasil cuan dari saham X yang lagi rame dibahas di sosial media”. Akhirnya ikut-ikutan berinvestasi pada saham tersebut tanpa menganalisis lebih lanjut.
Alhasil, malah membuat portofolio merah dan minus. Hal-hal FOMO ini juga jadi musuh utama para investor pemula karena mereka belum punya pegangan untuk mempertahankan pemikirannya.
Nggak Mau Ngobrolin Risiko vs Anti Bahas Rugi
Baik dalam cinta maupun investasi, menghindari pembahasan risiko bukan tanda optimis, tapi justru tanda tidak siap.
Di awal hubungan, semuanya terasa indah. Eits, tapi hati-hati kalau pasanganmu justru tipe orang yang menghindari pembahasan konflik, selalu mengalihkan topik saat berbicara komitmen, atau bahkan tidak jujur soal masa lalu.
Kelihatannya damai, padahal bisa jadi itu tanda tidak siap menghadapi masalah. Hubungan yang sehat bukan yang bebas konflik, tapi yang mau membahas konflik secara dewasa. Hal ini harus kamu cermati jika ingin menjalani hubungan ke jenjang lebih serius alias pernikahan.
Sementara dalam konteks investasi, kamu harus akrab dengan pembahasan risiko pada instrumen apapun. Jika kamu berinvestasi, maka harus siap menghadapi kerugian. Kalau dari awal sudah alergi bahas risiko, itu jelas red flag.
Baca Juga: Investor Emosional VS Investor Rasional, Tipe Manakah Kamu?
Minat Berinvestasi Saham Bagi Pemula?
Nah, dapat disimpulkan bahwa baik dalam cinta maupun investasi, red flag selalu ada sejak awal, tinggal kamu mau sadar atau tidak. Di momen Valentine besok, penting untuk belajar bahwa cinta dan investasi sama-sama tidak boleh dibangun di atas janji kosong.
Jika kamu masih merasa was-was, bisa berinvestasi pada saham blue chip yang ada pada aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya.
Selain itu, InvestasiKu juga sering memberikan berita-berita terkini soal pasar modal yang disampaikan oleh ahlinya. Klik di sini untuk menonton video edukasi tersebut. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.
%20(981x394)%20-%20InvestasiKu%20(2024)_qBsItM-RI.png?updatedAt=1714019067605)