INVESTASI
 

Gebetan Bisa Pergi, Investasi Tetap Jalan Kalau Kamu Konsisten

by Rifda Arum Adhi Pangesti - 18 Feb 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Kalau kamu pernah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, selamat… kamu sudah siap jadi investor.

Hah kok bisa? 

Yap, justru pengalaman soal ghosting, PHP, bertahan sama HTS, sampai LDR pun bakal ngajarin kamu satu hal penting bahwa nggak semua yang bikin deg-degan itu sehat buat jangka panjang.

Hal yang sama berlaku di dunia investasi. Buat Gen-Z yang baru mulai investasi, banyak keputusan finansial diambil pakai perasaan bukan perhitungan. Akibatnya? Salah pilih “aset”, panik saat pasar turun, lalu trauma buat mulai lagi.

Ghosting, PHP, dan LDR Versi Cinta & Versi Investasi

Coba deh jujur, dalam urusan gebetan atau bahkan HTS, kamu pasti pernah ketemu tipe-tipe ini:

  • Awalnya intens, tiba-tiba hilang (ghosting)
  • Janji manis tapi nggak pernah jelas maunya apa (PHP)
  • Udah manggil sayang, sok-sokan kasih janji manis sana-sini kaya caleg, tapi nggak ada kejelasan status (HTS)
  • Terpisah jarak, komunikasi minim, penuh prasangka (LDR toxic)

Sekarang, ganti konteksnya ke investasi yang ternyata polanya mirip banget.

Saham Gorengan Mirip Sama Gebetan Ghosting

Harga saham naik cepat, di sosial media semua orang bilang “saham X ini bakal terbang”. Tanpa basa-basi, kamu langsung masuk karena takut ketinggalan momen. Beberapa hari naik, lalu… boom harganya anjlok karena bandar keluar dan para ritel ditinggal.

Persis gebetan yang bikin kamu nyaman, lalu menghilang tanpa kabar. Dari sini, jadiin aja pelajaran bahwa sesuatu yang datang terlalu cepat, sering kali pergi lebih cepat.

FOMO Saham Mirip Kejebak PHP

Dalam cinta, PHP itu bikin kamu bertahan karena harapan. Kalau dalam investasi, FOMO bikin kamu beli aset tanpa paham fundamental.

Banyak komentar-komentar orang yang bisa jadi bikin kamu FOMO. Kata mereka “Tinggal nunggu momen”, “Sebentar lagi balik modal”, dan janji manis lainnya. Alhasil, kamu langsung beli saham X karena takut ✨ketinggalan momen✨ tersebut. 

Persis gebetan yang ngasih kamu banyak ✨harapan✨ padahal tau-tau ditinggal. 

Baik dalam menjalani hubungan maupun investasi itu bukan soal percaya kata orang, tapi percaya pada logika. Ingat, jangan pernah bawa-bawa perasaan saat mengambil keputusan apapun, kedepankan logikamu. 

Panic Sell Mirip Sama Drama LDR

Harga turun sedikit, kamu panik. Berita negatif muncul, kamu jual rugi. Padahal, secara fundamental, asetnya masih sehat.

Ini mirip hubungan jarak jauh yang penuh curiga:

  • Sedikit masalah langsung overthinking
  • Kurang komunikasi
  • Nggak sabar sama proses

Pelajaran: Tanpa keyakinan dan rencana jangka panjang, baik hubungan maupun investasi akan berakhir cepat.

Baca Juga: 9 Alasan Kenapa Gen Z Cocok Investasi Reksadana

Investasi “Toxic” vs Investasi yang Sehat

Gen Z sering salah mengira: sesuatu yang bikin deg-degan dianggap seru, padahal belum tentu sehat. Malah senam jantung, ya kan!

Kalau ngomongin investasi toxic, maka akan berhubungan sama hal-hal berikut:

  • Janji cuan cepat
  • Tidak mau bahas risiko
  • Naik karena hype, bukan kinerja
  • Bikin kamu stres tiap buka aplikasi investasi

Alhasil, bikin kamu setiap hari merasa gelisah, deg-degan, khawatir tiap liat harga saham. Kalau terus-menerus, justru bikin kamu sakit mental. Jika demikian, yang ada bukan investasi, tetapi hubungan finansial yang melelahkan. 

Investasi Sehat Justru Lebih “Kalem”

Perlu kamu pahami kalau Investasi yang sehat justru pergerakannya nggak selalu heboh, punya fundamental jelas, nggak bikin kamu panik tiap terjadi koreksi, dan cocok buat jangka panjang. 

Sama halnya kaya menjalani hubungan dewasa, nggak penuh drama tapi konsisten.

Setia Itu Bukan Buta, Tapi Paham

Banyak orang salah paham soal “setia” dalam investasi. Dalam konteks artikel ini, setia pada investasi itu bukan berarti kamu nggak boleh cut loss, bertahan di aset yang jelek, atau bahkan menolak evaluasi. 

Setiap yang dimaksud itu justru kamu paham sama aset yang dibeli, tahu kapan harus bertahan pada aset tertentu, dan tahu kapan harus pergi. Know your limit

Dalam investasi untuk pemula Gen Z, kesalahan paling sering adalah masuk tanpa rencana, keluar karena emosi. Ironisnya, meski sering dibilang impulsif, Gen Z justru punya modal besar karena waktu mereka masih panjang dan akses edukasi luas. 

Ingat bahwa Gen Z itu hidup bersama dengan perkembangan internet, sehingga wajar saja mereka lebih melek internet alias tidak gaptek. Selain itu, pada 2026 ini rata-rata Gen Z sudah bekerja sehingga punya penghasilan sendiri. 

Memang tidak semua Gen Z bisa menikmati gaji  untuk dirinya sendiri karena harus mengemban status sandwich generation, tetapi tetap masih bisa berinvestasi mulai dari nominal kecil. 

Misalnya pada instrumen reksadana. Banyak kok produk reksadana yang bisa diinvestasikan dengan nominal minimal Rp10.000 seperti Reksa Dana Avrist Emerald Stable Fund.

Berhenti menganggap investasi sebagai jalan pintas. Coba deh benahi dulu mindset tentang investasi. Anggaplah investasi sebagai hubungan jangka panjang dengan tujuan jelas.

Tips Investasi untuk Gen Z 

Biar nggak terjebak “toxic relationship” versi investasi, ini beberapa tips praktis yang bisa kamu ikuti sebagai Gen Z sekaligus investor pemula:

  1. Kenali dulu sebelum komitmen. Jangan beli cuma karena viral. Pelajari dulu asetnya.
  2. Punya batasan yang jelas. Tentukan target, risiko, dan exit plan.
  3. Jangan bandingin portofolio punya orang lain. Seperti cinta, investasi bukan kompetisi.
  4. Koreksi itu normal. Turun bukan berarti gagal, asal alasannya masih masuk akal.
  5. Konsisten lebih penting dari cepat. Pelan asal jalan, lebih baik daripada cepat tapi nyasar.

Baca Juga: Membandingkan Portofolio Investasi Milik Sendiri dengan Orang Lain, Bolehkah?

Minat Berinvestasi Bagi Pemula?

Nah, dapat disimpulkan bahwa gebetan bisa pergi, tren bisa berganti, saham hype bisa ambruk. Namun, investasi yang kamu pahami dan jalani dengan sabar akan tetap tumbuh, asal kamu setia dengan proses, bukan dengan ilusi.

Jika kamu masih merasa was-was, bisa berinvestasi pada saham blue chip yang ada pada aplikasi InvestasiKu. Meskipun tak jarang saham blue chip juga ada koreksi, tetapi fundamental mereka stabil. 

Bisa juga kamu berinvestasi pada reksadana yang minimal pembelian Rp10.000, sehingga tidak terlalu memberatkan dompetmu. Salah satunya pada produk Reksa Dana Avrist Emerald Stable Fund melalui aplikasi InvestasiKu. Jangan khawatir sebab aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga aman dan terpercaya. 

Selain itu, InvestasiKu juga sering memberikan berita-berita terkini soal pasar modal yang disampaikan oleh ahlinya. Klik di sini untuk menonton video edukasi tersebut. 

Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik. 

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO