INVESTASI
 

Moody’s Rating: Definisi, Dampak, dan Penilaiannya Terhadap Indonesia 2026

by Rifda Arum Adhi Pangesti - 13 Feb 2026 - Reviewed by Revo Gilang Firdaus M.

 

Dalam ekosistem investasi global, Moody’s adalah salah satu lembaga pemeringkat kredit internasional yang paling berpengaruh. Penilaian dari Moody’s tidak hanya penting bagi pasar obligasi saja, tetapi juga berdampak pada sentimen investor di pasar saham dan aset keuangan lainnya, khususnya di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Pada awal 2026 ini, Moody’s merilis outlook seputar prospek Indonesia dari yang mulanya stabil menjadi negatif, dengan menyebutkan kekhawatiran atas stabilitas kebijakan di bawah pimpinan presiden Prabowo. 

Lantas, bagaimana eksistensi Moody’s ini bagi keberlangsungan dunia investasi Indonesia kedepannya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Apa Itu Moody’s Rating?

Moody’s Investors Service adalah lembaga pemeringkat kredit yang memberikan credit rating untuk beragam entitas termasuk negara, perusahaan korporasi, lembaga keuangan, dan obligasi tertentu. 

Moody’s ini berkontribusi 40% terhadap pangsa pasar pemeringkat kredit dunia. Di Indonesia, lembaga ini lebih dikenal dengan nama Moody’s Rating dan memiliki perusahaan bernama PT Moody’s Indonesia. 

Moody’s Indonesia telah diakui oleh otoritas keuangan Bank Indonesia dalam melakukan pemeringkatan atas surat hutang perbankan. Pemeringkatan tersebut kemudian digunakan sebagai standar kriteria dalam pengawasan perbankan. 

Tujuan utama penilaian ini adalah untuk mengukur kemampuan entitas dalam memenuhi kewajiban utang terutama bunga dan pokok pada instrumen utang seperti obligasi.

Moody’s menggunakan skala huruf untuk credit rating, contohnya:

  • Aaa: obligasi berkualitas “terbaik” dengan risiko “amat kecil”, sehingga menjadi rating tertinggi.
  • Aa1/Aa2/Aa3: obligasi berkualitas “baik” dengan risiko “kecil”.
  • A1/A2/A3: obligasi dengan peringkat menengah atas, risikonya “kecil”.
  • Baa1/Baa2/Baa3: obligasi dengan risiko moderat sehingga disebut sebagai investment grade atau layak investasi.
  • Ba dan di bawahnya: obligasi dengan spekulatif atau lebih berisiko, sehingga disebut sebagai non-investment grade.

Selain rating, Moody’s juga memberi outlook seperti stable, positive, atau negative. Outlook hanyalah proyeksi kemungkinan perubahan rating dalam 12–24 bulan mendatang, bukan rating itu sendiri. 

Melansir dari Tempo, pada awal 2026 ini, Moody’s memangkas outlook atau proyeksi 5 bank besar di Indonesia, dari yang mulanya stabil menjadi negatif. Kelima bank tersebut adalah Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Central Asia (BCA). 

Dalam pengumumannya, Moody’s memaparkan bahwa pemangkasan outlook tersebut mencerminkan prospek negatif pada peringkat kredit Indonesia Baa2. Secara langsung, hal ini juga berkaitan pada berkurangnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses pembuatan kebijakan yang kurang efektif selama setahun terakhir. 

Ini berarti bahwa Moody’s tidak hanya menurunkan rating, tetapi juga memperkirakan ada risiko tekanan ke bawah pada prospek kredit Indonesia dalam 12–18 bulan ke depan. Sinyal ini mencerminkan ketidakpastian tertentu terkait arah kebijakan, koordinasi fiskal, dan efektivitas tata kelola ekonomi di Indonesia

Meskipun demikian, Moody’s tetap mempertahankan rating Baa2 untuk sovereign Indonesia. Artinya, secara fundamental Indonesia masih layak investasi, meski dengan prospek yang lebih berhati-hati.

Melansir dari ANTARA News, pihak Bank Indonesia menyatakan bahwa outlook negatif itu tidak mencerminkan kelemahan fundamental perekonomian Indonesia, karena pertumbuhan masih solid, inflasi terjaga, dan stabilitas sistem keuangan kuat. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menilai jarak peringkat kredit investment grade menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih tetap solid.

Mengapa Rating Ini Penting?

Lembaga pemeringkat seperti Moody’s dianggap sebagai referensi independen oleh investor global. Rating ini membantu:

  • Menentukan biaya pinjaman (cost of debt) suatu negara atau perusahaan.
  • Menilai risiko kredit global, apakah layak atau tidak masuk dalam portofolio mereka.
  • Menjadi benchmark dalam kontrak keuangan. Misalnya penalti jika rating jatuh di bawah level tertentu.

Investor institusional seperti dana pensiun, asuransi, atau dana investasi global sering menggunakan rating ini untuk menetapkan alokasi aset dan kebijakan investasi. Yap, rating dari Moody’s ini memengaruhi pandangan risiko terutama pada instrumen utang atau pasar negara berkembang.

Baca Juga: Trading Halt - Pengertian, Penyebab, dan Rekam Jejak Sejarahnya di Indonesia

Dampak Moody’s Rating pada Ekosistem Investasi di Indonesia

Terhadap Pasar Obligasi

Perubahan Outlook Moody’s ini memberikan sinyal risiko yang lebih tinggi di masa depan. Melansir dari IDN Financials, perubahan rating dari Moody’s ini akan menjadikan pasar: 

  • Imbal hasil obligasi negara Indonesia (yield SBN) naik, karena investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk risiko yang dianggap meningkat.
  • Harga obligasi turun di pasar sekunder karena yield bergerak berlawanan arah dengan harga. 

Hal ini berdampak langsung pada perusahaan dan pemerintah yang ingin menerbitkan obligasi baru, karena biaya pendanaan bisa menjadi lebih mahal saat investor menilai risiko negara/entitas lebih tinggi.

Terhadap Pasar Saham

Walau Moody’s hanya memberi credit rating untuk obligasi, tentu saja berpengaruh pada saham. 

Nyatanya, pada 6 Februari 2026 silam, IHSG sempat anjlok lebih dari 2% saat Moody’s mengeluarkan pernyataan akan turunnya outlook Indonesia. 

Berdasarkan tvOne News, sentimen investor juga menjadi lebih risk-off, terutama investor asing yang biasanya sangat responsif terhadap risiko makro atau perubahan rating outlook, sehingga menyebabkan jual bersih saham Indonesia. 

Terhadap Arus Modal dan Likuiditas

Sentimen negatif dari Moody’s juga dapat membuat arus modal keluar dari pasar Indonesia, terutama ketika investor global mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman. Alhasil, rupiah melemah sehingga memengaruhi valuasi saham perusahaan multinasional yang banyak bergantung pada impor.

7 Perusahaan Indonesia yang Outlook Ratingnya Dipangkas 

Walaupun Moody’s tidak menurunkan peringkat Indonesia, pengaruh perubahan outlook sovereign ini berdampak pula pada sejumlah perusahaan Indonesia melalui revisi outlook rating mereka, terutama yang memiliki hubungan erat dengan pemerintah (government-related issuers) dan perusahaan besar lainnya. 

Melansir dari Investing, ada 7 emiten Indonesia yang ratingnya menjadi negatif, yakni:

  1. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
  2. PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel; anak usaha Telkom)
  3. PT Pertamina (Persero)
  4. PT Pertamina Hulu Energi 
  5. PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID)
  6. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
  7. PT United Tractors Tbk (UNTR)

Pada 2 BUMN yakni PT Telkom Indonesia dan Telkomsel tetap satu tingkat di atas peringkat sovereign pada level Baa1. Lalu pada level Baa2 ada PT Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi, dan PT Mineral Industri Indonesia. 

Sementara pada sektor swasta yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur dan PT United Tractors turut berada level Baa2. 

Baca Juga: Kenapa Saham Turun Padahal Laba Naik? Ini Alasan Logis yang Perlu Dipahami Investor Pemula

Minat Berinvestasi ke Obligasi?

Nah, itulah penjelasan tentang apa itu Moody’s Rating yang pada awal Februari 2026 lalu menyatakan untuk menurunkan outlook keuangan Indonesia, dari yang mulanya stabil menjadi negatif. 

Meskipun Moody’s secara teknis fokus pada credit risk (risiko kredit), dampaknya pada pasar saham bisa terjadi melalui beberapa mekanisme. Mulai dari efek sentimen makro global, cost of capital, valuasi perusahaan, dan lainnya.  

Saat sentimen pasar saham cenderung fluktuatif akibat faktor makro dan risiko global, instrumen seperti obligasi sering menjadi pilihan untuk menjaga stabilitas portofolio. Hal itu karena karakteristiknya yang relatif lebih defensif dan memiliki arus pendapatan yang lebih terprediksi.

Coba deh kamu pertimbangkan juga obligasi negara maupun obligasi korporasi sebagai bentuk diversifikasi portofolio. Kamu bisa membeli produk obligasi tersebut lewat aplikasi InvestasiKu

Jangan khawatir, aplikasi ini telah berada di bawah pengawasan OJK sehingga legal dan terpercaya. Yuk, download InvestasiKu dan tanamkan saham demi masa depan yang lebih baik.

 
Share this article via :
whatsapp-investasiku
 
InvestasiKu-footer
 

#YukInvestasiKu For Better Tomorrow

Download aplikasi InvestasiKu di Android, iOS, dan Windows serta nikmati kemudahan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi, dan rencana keuangan

 
Download di Google Play Download di App Store Download desktop version
 

InvestasiKu adalah produk dari PT Mega Capital Sekuritas

Menara Bank Mega, Lantai 2, Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A,
RT 002/RW 002, Kelurahan Mampang Prapatan,
Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Kode Pos 12790

Telepon : 021-79175599
Email : customer.service@megasekuritas.id
WhatsApp : +6282260904080

 
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Spotify
  • LinkedIn
  • Facebook
  • Twitter
Eduvest
 

©2026 InvestasiKu. All rights reserved.

InvestasiKu adalah aplikasi finansial yang dikelola dan dikembangkan oleh PT Mega Capital Sekuritas, dengan misi membuka akses lebih luas bagi masyarakat pada produk-produk keuangan dengan mudah, aman dan terjangkau. Semua transaksi saham, reksa dana, dan obligasi difasilitasi oleh PT Mega Capital Sekuritas sebagai broker saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sekaligus agen penjual reksa dana yang memiliki izin usaha dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

OJK
KOMINFO